![]() |
| Illustration by Ai |
Formosa News — Strategi mempertahankan karyawan pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) informal tidak cukup hanya mengandalkan besaran upah. Kajian yang dilakukan Sri Hariyanti dari UIN Syekh Wasil Kediri dan Eni Susilowati dari UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung menunjukkan bahwa retensi pekerja juga dipengaruhi fleksibilitas waktu kerja, kondisi lingkungan kerja, serta keberlanjutan keterampilan pekerja. Kajian yang terbit pada 2026 ini secara khusus menelaah UMKM perdagangan ayam broiler di Dusun Sumber Bendo, Desa Pule, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri.
Temuan tersebut penting bagi UMKM
informal karena keberlangsungan bisnis sangat bergantung pada ketersediaan
pekerja yang memiliki pengalaman dan mampu menjalankan berbagai pekerjaan.
Dalam usaha perdagangan dan pemotongan ayam broiler, kehilangan pekerja
berpengalaman dapat mengganggu proses operasional, terutama ketika jumlah
tenaga kerja yang bersedia bekerja pada malam hari relatif terbatas.
Kebutuhan tenaga kerja menjadi
tantangan bagi UMKM ayam broiler
Perdagangan ayam broiler memiliki
pasar yang besar karena konsumsi daging ayam di Indonesia terus menunjukkan
tren peningkatan. Artikel tersebut mengutip data Kementerian Pertanian yang
mencatat konsumsi ayam broiler rumah tangga mencapai 7,46 kilogram per kapita
pada 2023 dan diproyeksikan meningkat menjadi 7,76 kilogram pada 2025, kemudian
8,16 kilogram pada 2026. Kondisi tersebut menciptakan peluang usaha sekaligus
kebutuhan terhadap tenaga kerja yang mampu menjaga kelancaran operasional.
Di Sumber Bendo, aktivitas
pemotongan ayam dilakukan secara tradisional pada malam hingga dini hari,
sekitar pukul 00.00–03.00 WIB. Para pekerja menangani berbagai tahapan, mulai
dari penyembelihan, pencabutan bulu, pembersihan bagian dalam ayam, hingga pemotongan
sesuai permintaan pelanggan. Pola kerja tersebut membuat pengalaman dan
kemampuan pekerja menjadi aset penting bagi pemilik usaha.
Persoalannya, pekerja dapat
berpindah ke usaha lain ketika menemukan pekerjaan dengan kondisi atau
kompensasi yang dianggap lebih menarik. Persaingan memperoleh tenaga kerja juga
semakin kompleks karena tidak semua pekerja bersedia bekerja pada malam hari.
Kajian menggunakan kembali
data penelitian sebelumnya
Hariyanti dan Susilowati
menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan menganalisis kembali
data lapangan dari penelitian sebelumnya mengenai kebijakan upah dan pergantian
karyawan pada UMKM perdagangan ayam broiler.
Data awal dikumpulkan melalui
wawancara mendalam, observasi langsung, dan analisis dokumen. Penelitian
sebelumnya melibatkan 25 pedagang ayam broiler dan 32 pekerja pemotongan
ayam di wilayah Sumber Bendo. Dalam kajian terbaru, data tersebut dibaca
kembali menggunakan perspektif retensi karyawan dengan fokus pada tiga aspek
utama: kompensasi, fleksibilitas kerja, dan lingkungan kerja. Kajian ini tidak
mengumpulkan data primer baru.
Kompensasi berbasis produksi
memberi peluang sekaligus ketidakpastian
Salah satu temuan utama berkaitan
dengan sistem pembayaran pekerja. Pekerja menerima upah berdasarkan jumlah ayam
yang dikerjakan atau sistem piece rate. Data penelitian sebelumnya
menunjukkan upah sekitar Rp1.200 untuk setiap ekor ayam.
Sistem tersebut memberikan
peluang bagi pekerja untuk memperoleh pendapatan lebih tinggi ketika permintaan
pasar meningkat. Namun, ketika kondisi pasar sepi, jumlah pekerjaan dan
pendapatan pekerja ikut menurun. Dengan demikian, sistem berbasis produksi memberikan
hubungan langsung antara volume pekerjaan dan penghasilan, tetapi sekaligus
menciptakan ketidakpastian pendapatan.
Kajian Hariyanti dan Susilowati
menunjukkan bahwa pemilik UMKM dapat mempertahankan sistem tersebut sekaligus
menambahkan bentuk penghargaan lain, seperti bonus ketika jumlah pesanan
meningkat. Bonus dapat menjadi bentuk apresiasi terhadap tambahan
kontribusi pekerja tanpa harus mengubah keseluruhan sistem pengupahan yang
sudah berjalan.
Fleksibilitas waktu menjadi
nilai tambah bagi sebagian pekerja
Jam kerja malam yang menjadi
karakteristik usaha pemotongan ayam memiliki dua sisi. Bekerja pada malam hari
dapat menyebabkan kelelahan dan menurunkan stamina. Namun, bagi sebagian
pekerja, pola tersebut memberikan fleksibilitas karena waktu siang masih dapat
digunakan untuk aktivitas rumah tangga atau pekerjaan lainnya.
Artikel mencatat bahwa sebagian
pekerja merupakan ibu rumah tangga, sementara sebagian lainnya merupakan
lulusan SMP atau SMA yang membutuhkan kesempatan kerja. Karena itu, nilai
sebuah pekerjaan tidak selalu ditentukan oleh besarnya upah, tetapi juga oleh
kesesuaiannya dengan aktivitas dan kebutuhan pekerja.
Para penulis menekankan bahwa
fleksibilitas tersebut perlu diimbangi dengan perhatian terhadap beban kerja
dan stamina. Jika pekerjaan malam terlalu melelahkan, fleksibilitas yang
awalnya menjadi daya tarik justru dapat berubah menjadi alasan pekerja meninggalkan
pekerjaan.
Lingkungan kerja dan
keterampilan ikut menentukan keberlangsungan tenaga kerja
Kajian juga menemukan bahwa
lingkungan kerja pada UMKM tersebut masih bersifat informal. Pembagian tugas
belum jelas dan pekerja dapat menangani berbagai tahapan pekerjaan secara
bersama-sama. Pekerja baru juga belum mengikuti program pelatihan khusus dan
langsung terlibat dalam pekerjaan.
Menurut analisis Hariyanti dan
Susilowati, kondisi tersebut dapat diperbaiki melalui langkah sederhana,
seperti memperjelas pembagian tugas, memberikan pendampingan kepada pekerja
baru, serta memperhatikan kondisi pekerja yang menjalankan aktivitas pada malam
hari. Penggunaan teknologi yang dapat mempercepat dan meringankan pekerjaan
juga dipandang sebagai salah satu peluang untuk memperbaiki kondisi kerja.
Di sisi lain, kemampuan multitasking
pekerja menjadi aset penting. Pekerja berpengalaman mampu menjalankan beberapa
tahapan pekerjaan sekaligus sehingga membantu UMKM beroperasi dengan jumlah
tenaga kerja yang terbatas. Namun, ketika pekerja berpengalaman keluar,
pengetahuan praktis tersebut berisiko ikut hilang.
Karena belum tersedia pelatihan
formal, penulis merekomendasikan transfer keterampilan melalui pendampingan
langsung. Pekerja berpengalaman dapat membantu pekerja baru mempelajari
berbagai tahapan pekerjaan sehingga pengetahuan praktis tetap tersedia di dalam
usaha.
Empat unsur utama membentuk
strategi retensi pekerja
Berdasarkan keseluruhan analisis,
Hariyanti dan Susilowati menyusun kerangka retensi karyawan yang menggabungkan kompensasi
adaptif, fleksibilitas kerja, lingkungan kerja yang mendukung, dan pengembangan
keterampilan.
Kerangka tersebut dapat diringkas
sebagai:
Kompensasi adaptif +
fleksibilitas kerja + lingkungan kerja suportif + pengembangan keterampilan →
retensi karyawan → keberlanjutan operasional UMKM.
Bagi pemilik UMKM, strategi
tersebut tidak harus diwujudkan melalui sistem manajemen sumber daya manusia
yang kompleks. Pemberian bonus saat beban kerja meningkat, pembagian tugas yang
lebih jelas, pendampingan pekerja baru, pemeliharaan keterampilan pekerja
berpengalaman, serta penggunaan teknologi yang meringankan pekerjaan dapat
menjadi langkah praktis.
Kajian ini juga menyarankan agar
penelitian berikutnya melibatkan lebih banyak lokasi dan karakteristik UMKM
serta menggali pengalaman pekerja secara langsung untuk mengetahui faktor yang
paling berpengaruh terhadap keputusan mereka untuk bertahan atau meninggalkan
pekerjaan.
Profil Penulis
Sri Hariyanti — UIN Syekh
Wasil Kediri. Bidang keahlian atau gelar akademik tidak dicantumkan secara
spesifik dalam artikel sumber.
Eni Susilowati — UIN
Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Bidang keahlian atau gelar akademik tidak
dicantumkan secara spesifik dalam artikel sumber.
Sumber Penelitian
Judul: Employee
Retention Strategies in Informal MSMEs: The Role of Compensation, Work
Flexibility, and the Work Environment
Penulis: Sri Hariyanti dan Eni Susilowati
Jurnal: International Journal of Applied and Advanced
Multidisciplinary Research (IJAAMR)
Volume: 4, Nomor 8
Tahun: 2026, halaman 765–778
DOI: https://doi.org/10.59890/ijaamr.v4i8.303
URL Jurnal: https://nvlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijaamr/index

0 Komentar