COLOMBO – Upaya melestarikan Tovil, ritual penyembuhan tradisional Sri Lanka yang kaya akan seni tari, penabuhan kendang, mantra, dan topeng mistis, kini memasuki babak baru melalui pemanfaatan teknologi digital. Sebuah studi ilmiah pada tahun 2026 yang disusun oleh Thirima Dura Suresh Gayan Priyangana dari Nanjing University of the Arts menguji peluang serta tantangan etiologi dan teknis dalam mendokumentasikan warisan budaya takbenda yang hidup ini. Penelitian ini menjadi sangat penting karena berhasil merumuskan strategi pelestarian digital yang berpusat pada komunitas tanpa mengikis nilai spiritual dan otentisitas ritual yang diwariskan secara turun-temurun.
Perubahan gaya hidup modern, arus urbanisasi, serta menurunnya minat generasi muda menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan ritual Tovil di Sri Lanka. Secara tradisional, pengetahuan ritual Tovil ditransmisikan secara lisan dan embodied melalui hubungan erat antara guru dan murid dalam jangka waktu lama. Seiring berkurangnya praktisi senior dan kesempatan belajar konvensional, dokumentasi digital hadir sebagai salah satu media penyelamat untuk merekam gerakan, lantunan mantra, dan pembuatan topeng Sanni sebelum tradisi ini punah ditelan zaman.
Untuk mengeksplorasi dinamika tersebut, peneliti menggunakan metode kualitatif eksploratif dengan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam terhadap 30 narasumber yang dipilih secara sengaja. Responden penelitian terdiri dari praktisi ritual tradisional, penabuh kendang, penari, pemegang pengetahuan budaya, peneliti warisan, serta perwakilan lembaga kebudayaan di Sri Lanka. Data primer ini diperkuat dengan analisis dokumen ilmiah dan regulasi perlindungan warisan budaya internasional seperti UNESCO untuk memetakan tantangan digitalisasi warisan hidup.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknologi perekaman audio-visual berkualitas tinggi, pemindaian tiga dimensi, fotogrametri, dan teknologi pemindaian gerak mampu menghasilkan arsip digital yang sangat mendalam untuk keperluan edukasi serta riset masa depan. Perekaman digital terbukti efektif mendokumentasikan detail fisik topeng ritual dan dinamika gerak tari yang sulit dijelaskan sekadar lewat teks tertulis. Namun, studi ini juga menemukan bahwa dokumentasi digital secara mandiri tidak mampu menggantikan pengalaman spiritual, ikatan emosional komunitas, serta interaksi sosial yang menjadi inti keberadaan Tovil sebagai warisan budaya yang hidup.
Temuan ini mengidentifikasi beberapa tantangan utama, seperti risiko hilangnya konteks sakral ketika ritual dikonsumsi publik secara digital, masalah hak cipta dan kepemilikan pengetahuan rahasia, serta ketimpangan akses teknologi di kalangan praktisi lokal. Peneliti menegaskan bahwa arsip digital dapat berisiko membekukan tradisi menjadi sekadar objek pameran jika tidak diimbangi dengan proses pembelajaran langsung di dunia nyata. Oleh karena itu, pendekatan terbaik dalam pelestarian Tovil adalah menggabungkan teknologi arsip digital sebagai media pendukung dengan sistem magang tradisional yang tetap melibatkan komunitas lokal secara aktif.
Implikasi dari penelitian ini memberikan panduan berharga bagi pengambil kebijakan kebudayaan, lembaga arsip, dan komunitas pelestari seni tradisi di tingkat internasional. Hasil studi merekomendasikan agar pemerintah dan lembaga budaya mengadopsi skema pelestarian berbasis komunitas, di mana para praktisi ritual memegang kendali atas kerahasiaan informasi sakral yang boleh diakses publik. Pemanfaatan teknologi digital yang diimbangi dengan perlindungan hak-hak praktisi tradisional menjamin bahwa transformasi digital dapat memperkuat, bukan menggantikan, keberlanjutan warisan budaya takbenda.
Penelitian ini dilakukan oleh Thirima Dura Suresh Gayan Priyangana yang terafiliasi dengan School of International Education, Nanjing University of the Arts, China.
Profil Penulis:
Thirima Dura Suresh Gayan Priyangana (Nanjing University of the Arts)
Sumber Penelitian:
Judul Artikel: Digital Preservation of Sri Lanka's Tovil Ritual Performance as Living Intangible Cultural Heritage: Challenges and Strategies in the Digital Age
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 9, 2026, hal. 3743-3756
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i9.319
Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar