Pola Asuh Demokratis Perkuat Disiplin, Kepercayaan Diri, dan Keterampilan Sosial Anak Usia Dini

Ilustrasi By AI
FORMOSA NEWS - Bekasi - Pola asuh demokratis yang memadukan aturan, kasih sayang, komunikasi terbuka, dan kesempatan untuk mandiri berperan penting dalam pembentukan karakter anak usia dini. Temuan ini dilaporkan Jumi, Yon A.E., dan Arie Widiyastuti dari Universitas Panca Sakti Bekasi setelah mengamati praktik pengasuhan dan perkembangan karakter anak di PAUD Nursaadah 1, Lebak, Banten, selama April hingga Juli 2026. Hasil studi menunjukkan bahwa pola asuh yang konsisten berkaitan dengan perkembangan disiplin, kepercayaan diri, tanggung jawab, kemandirian, dan keterampilan sosial anak.

Artikel tersebut diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH), Vol. 5 No. 3 Tahun 2026, halaman 411–428, dengan DOI 10.55927/jiph.v5i3.29.

Karakter Anak Dimulai dari Lingkungan Keluarga

Masa kanak-kanak merupakan periode penting dalam pembentukan karakter. Pada tahap ini, anak belajar melalui pengalaman sehari-hari, terutama dari orang-orang terdekat.

Keluarga menjadi lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Cara orang tua berbicara, memberikan aturan, menyelesaikan masalah, memberikan perhatian, serta merespons perilaku anak dapat menjadi contoh yang kemudian ditiru.

Dalam konteks tersebut, pola asuh demokratis menempatkan orang tua bukan hanya sebagai pihak yang membuat aturan, tetapi juga sebagai pembimbing dan teladan.

Orang tua tetap menetapkan batasan yang jelas, tetapi memberikan ruang kepada anak untuk menyampaikan pendapat, membuat pilihan sederhana, memahami konsekuensi, dan mengembangkan kemandirian.

Temuan Jumi, Yon A.E., dan Arie Widiyastuti memperlihatkan bahwa pendekatan tersebut memiliki kaitan dengan berbagai aspek karakter anak yang diamati di PAUD Nursaadah 1.

Studi Dilakukan Selama Tiga Bulan

Para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui pengamatan terhadap anak, wawancara dengan orang tua dan guru, serta dokumentasi.

Penelitian berlangsung sekitar tiga bulan, dari April hingga Juli 2026, di PAUD Nursaadah 1, Lebak, Banten. Subjek penelitian mencakup orang tua, guru, dan anak Kelompok B.

Para peneliti kemudian membandingkan informasi dari berbagai sumber untuk melihat konsistensi temuan. Analisis dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman melalui proses pemilahan data, penyajian data, serta penarikan dan pemeriksaan kesimpulan.

Pengamatan awal pada 12–16 April 2026 terhadap 18 anak Kelompok B menemukan sejumlah persoalan karakter, antara lain perilaku kurang disiplin, kepercayaan diri yang rendah, kesulitan bekerja sama, dan interaksi sosial yang masih terbatas.

Orang Tua Menerapkan Aturan dengan Penjelasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh demokratis menjadi pola yang paling banyak ditemukan.

Orang tua menerapkan aturan sederhana di rumah, seperti:

  • merapikan mainan setelah bermain;
  • menjaga kebersihan;
  • mencuci tangan sebelum makan;
  • menyapa orang lain;
  • berbicara dengan sopan;
  • menghormati anggota keluarga;
  • mengikuti rutinitas harian.

Namun, orang tua tidak sekadar meminta anak mematuhi aturan. Mereka cenderung menjelaskan alasan di balik aturan tersebut agar anak memahami mengapa suatu perilaku perlu dilakukan.

Komunikasi dua arah juga menjadi ciri penting. Anak diberi kesempatan menyampaikan perasaan, keinginan, dan pendapat. Orang tua memberikan respons, perhatian, dan bimbingan.

Anak juga diberi kesempatan melakukan tugas sesuai usia serta mengambil keputusan sederhana. Ketika membutuhkan bantuan, orang tua mendampingi tanpa sepenuhnya mengambil alih.

Tiga Karakter Utama yang Berkembang

Studi ini secara khusus melihat tiga aspek karakter anak, yaitu disiplin, kepercayaan diri, dan keterampilan sosial.

Pertama, disiplin. Anak yang memperoleh aturan dan pembiasaan secara konsisten cenderung lebih mampu mengikuti aturan sekolah dan menyelesaikan tanggung jawab sederhana. Kebiasaan merapikan mainan, menjaga kebersihan, dan mengikuti jadwal menjadi latihan disiplin dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, kepercayaan diri. Anak yang diberi kesempatan mengemukakan pendapat, memilih aktivitas, dan menyampaikan perasaan cenderung lebih berani berpartisipasi dalam kegiatan kelas. Mereka lebih bersedia berbicara dan tampil di hadapan teman.

Ketiga, keterampilan sosial. Interaksi positif dengan orang tua turut tercermin dalam hubungan anak dengan teman. Anak lebih bersedia berbagi, membantu teman, bekerja sama, dan mengikuti kegiatan kelompok.

Para peneliti menyimpulkan bahwa pembentukan karakter tidak terjadi secara instan. Karakter berkembang melalui pembiasaan dan interaksi yang berulang dalam lingkungan anak.

Pola Asuh Terlalu Bebas atau Terlalu Ketat Bisa Menjadi Hambatan

Penelitian juga menemukan bahwa tidak semua orang tua menerapkan pola demokratis secara konsisten. Sebagian praktik pengasuhan menunjukkan karakter permisif dan otoriter.

Pola permisif terlihat ketika orang tua terlalu mudah mengikuti keinginan anak tanpa menetapkan batasan yang jelas. Kondisi ini dikaitkan dengan kesulitan anak mengikuti aturan dan mengembangkan tanggung jawab.

Sebaliknya, pola otoriter ditandai dengan pembatasan ketat, aturan kaku, dan komunikasi dua arah yang terbatas. Anak dengan pengalaman tersebut cenderung lebih ragu mengemukakan pendapat dan menunjukkan kepercayaan diri yang lebih rendah.

Temuan tersebut menegaskan bahwa pola demokratis bukan berarti memberikan kebebasan tanpa batas. Pendekatan ini justru membutuhkan keseimbangan antara aturan dan kebebasan.

Kesibukan Orang Tua Menjadi Tantangan

Kondisi keluarga turut menentukan konsistensi pengasuhan. Studi Jumi, Yon A.E., dan Arie Widiyastuti menemukan beberapa faktor yang mendukung penerapan pola asuh demokratis, yaitu hubungan keluarga yang harmonis, keterlibatan orang tua, komunikasi yang baik, dan kerja sama dengan sekolah.

Sebaliknya, kesibukan pekerjaan orang tua, terbatasnya waktu bersama anak, dan kurangnya pemahaman tentang pola asuh yang tepat menjadi faktor penghambat.

Karena itu, kualitas interaksi tidak semata-mata ditentukan oleh lamanya waktu bersama anak. Percakapan, pendampingan, bermain bersama, dan memberikan tanggung jawab sederhana dapat menjadi kesempatan untuk membangun karakter.

Sekolah dan Orang Tua Perlu Berjalan Bersama

Temuan penelitian memberikan implikasi langsung bagi pendidikan anak usia dini. Pembentukan karakter tidak seharusnya menjadi tanggung jawab sekolah saja.

Guru dapat bekerja sama dengan orang tua melalui komunikasi rutin, program parenting, serta kegiatan karakter yang dapat diterapkan di rumah.

Misalnya, sekolah dan keluarga dapat menetapkan target karakter mingguan seperti mengikuti aturan, menyelesaikan tanggung jawab, berani menyampaikan pendapat, berbagi dengan teman, dan bekerja sama dalam kelompok.

Konsistensi antara rumah dan sekolah membuat anak menerima pesan yang serupa mengenai perilaku yang diharapkan.

Jumi, Yon A.E., dan Arie Widiyastuti pada akhirnya menempatkan pola asuh demokratis sebagai pendekatan yang memberikan dua kebutuhan penting bagi anak: struktur melalui aturan dan rasa aman melalui kasih sayang serta komunikasi.

Pendekatan tersebut dapat membantu anak memahami batasan sekaligus belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab secara bertahap.

Meski demikian, hasil penelitian perlu dibaca sesuai konteks. Studi dilakukan pada satu lembaga PAUD dengan pendekatan kualitatif sehingga tidak dapat digeneralisasi secara luas. Penelitian berikutnya disarankan melibatkan lebih banyak keluarga dan lembaga pendidikan serta menggunakan pengamatan jangka panjang untuk melihat perkembangan karakter anak secara lebih mendalam.

Profil Penulis

Jumi merupakan penulis utama artikel dan berasal dari Early Childhood Education Program, Universitas Panca Sakti Bekasi.

Yon A.E. berasal dari English Education Program, Universitas Panca Sakti Bekasi.

Arie Widiyastuti berasal dari Early Childhood Education Program, Universitas Panca Sakti Bekasi.

Ketiga penulis mengkaji isu pendidikan, khususnya pola asuh, keterlibatan orang tua, pendidikan anak usia dini, dan pembentukan karakter anak.

Sumber Penelitian

Judul: The Role of Democratic Parenting Styles in Early Childhood Character Formation
Penulis: Jumi, Yon A.E., Arie Widiyastuti
Jurnal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH)
Volume/Nomor: Vol. 5, No. 3
Tahun: 2026
Halaman: 411–428

Posting Komentar

0 Komentar