Pesona Streamer Jadi Kunci Utama Dorong Pembelian Impulsif Milenial Banjarmasin di E-Commerce

Ilustrasi by AI

Tren belanja live streaming di platform e-commerce seperti TikTok dan Shopee telah mengubah perilaku belanja masyarakat secara mendasar. Fenomena belanja spontan tanpa perencanaan awal (impulsive buying) kini bukan lagi dipicu oleh diskon semata, melainkan oleh faktor kredibilitas serta daya tarik pembawa acara atau streamer. Penelitian terbaru mengonfirmasi bahwa karakteristik streamer menjadi pendorong paling dominan dalam memicu keputusan belanja mendadak di kalangan milenial Kota Banjarmasin.

Studi ilmiah bertajuk "Impact of Live Streaming on Impulsive Buying Among Millennials in Banjarmasin on E-Commerce Platforms" ini dilakukan oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Chandra Hariandi. Tim ini beranggotakan Jamaluddin, Ali Asrori, Muhammad Fahmi Ma'sum, dan Noviridhany Maulana Azhar dari kampus ASMI Citra Nusantara Banjarmasin. Dipublikasikan di International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR) pada edisi tahun 2026, penelitian ini membedah faktor-faktor psikologis dan teknis yang memengaruhi perilaku konsumtif generasi milenial saat menonton siaran langsung belanja.

Perkembangan fitur live commerce menggabungkan fungsi transaksi e-commerce dengan keintiman komunikasi media sosial secara langsung. Model ini mengatasi keterbatasan e-commerce konvensional yang kaku dan pasif, di mana pembeli hanya melihat gambar dan teks. Dalam live streaming, penjual dapat mendemonstrasikan produk, memberikan rekomendasi secara personal, serta menjawab pertanyaan penonton secara real-time. Atmosfer belanja yang interaktif ini diperkuat oleh hitung mundur flash sale dan kuota promo terbatas, yang dengan cepat mengubah proses berpikir rasional pembeli menjadi tindakan emosional yang spontan.

Untuk menguji fenomena tersebut, tim peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode asosiatif kausal. Sebanyak 100 responden milenial (kelahiran 1981–1996) di Kota Banjarmasin dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria responden adalah mereka yang aktif menggunakan platform TikTok atau Shopee dan telah melakukan transaksi belanja melalui fitur live streaming dalam tiga bulan terakhir. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis menggunakan metode statistik Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui perangkat lunak SmartPLS.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat faktor utama—yaitu karakteristik streamer, interaksi dan promosi, perceived enjoyment (rasa terhibur), serta Fear of Missing Out (FOMO)—secara bersama-sama memengaruhi keputusan pembelian impulsif. Kombinasi variabel-variabel ini mampu menjelaskan hingga 94,5 persen varians perilaku belanja spontan pada generasi milenial di Banjarmasin.

Secara rinci, temuan utama dalam penelitian ini mencakup:

  • Karakteristik Streamer Paling Memengaruhi: Karakteristik streamer menjadi faktor paling kuat dan dominan yang mendorong transaksi spontan, dengan koefisien jalur sebesar 0,563 ($p = 0,000$). Keahlian produk, kejujuran, gaya komunikasi, serta daya tarik streamer terbukti membangun rasa percaya (trust) dan ikatan emosional dengan penonton.
  • Interaksi dan Promosi Menempati Posisi Kedua: Fitur komunikasi dua arah yang responsif serta penawaran promosi dinamis (seperti diskon eksklusif dan gratis ongkir) memiliki pengaruh positif signifikan sebesar 0,248 ($p = 0,031$).
  • Efek FOMO Mempercepat Pembelian: Rasa takut ketinggalan promo atau produk populer (Fear of Missing Out) terbukti memicu kegelisahan psikologis penonton dengan pengaruh sebesar 0,146 ($p = 0,037$). Taktik stok terbatas dan batas waktu flash sale menekan pembeli untuk segera melakukan checkout sebelum promo berakhir.
  • Pengalaman Belanja yang Menghibur (Perceived Enjoyment): Sensasi terhibur saat menyaksikan siaran langsung memberikan dampak positif sebesar 0,052 ($p = 0,044$). Konsep shoppertainment membuat suasana hati penonton lebih rileks sehingga kontrol diri dalam berbelanja berkurang.

Penelitian ini memberikan implikasi praktis yang penting bagi para pelaku usaha e-commerce, UMKM, dan perancang strategi pemasaran digital. Peneliti merekomendasikan agar pemilik merek tidak hanya berfokus pada diskon harga, tetapi juga menginvestasikan sumber daya untuk memilih dan melatih streamer yang komunikatif, jujur, serta menguasai produk secara mendalam. Selain itu, perpaduan antara hiburan dan penciptaan rasa urgensi (FOMO) yang terukur dapat dijadikan strategi utama untuk meningkatkan volume penjualan tanpa merusak kenyamanan konsumen.

Chandra Hariandi dan tim dari ASMI Citra Nusantara Banjarmasin menegaskan bahwa pemahaman mendalam terhadap perilaku generasi milenial yang mandiri secara finansial sangat penting untuk membangun ekosistem perdagangan digital yang berkelanjutan di daerah.

Profil Penulis Utama

  • Nama Lengkap: Chandra Hariandi, S.E., M.M.
  • Afiliasi Universitas: ASMI Citra Nusantara Banjarmasin
  • Bidang Keahlian: Pemasaran Digital, Perilaku Konsumen, dan Manajemen Bisnis

Sumber Penelitian Jurnal

Posting Komentar

0 Komentar