Pertumbuhan Penjualan Tak Selalu Tingkatkan Kinerja Keuangan Perusahaan


Ilustrasi By AI
FORMOSA NEWS - Jakarta - Pertumbuhan penjualan tidak otomatis meningkatkan kinerja keuangan perusahaan sektor Consumer Non-Cyclicals di Bursa Efek Indonesia. Temuan ini berasal dari penelitian Sulis Hardiyanti Afifah, Ade Ghofir, dan Moch Rizal dari Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta yang menganalisis perusahaan sektor tersebut selama 2021–2024. Studi yang diterbitkan pada 2026 ini juga menemukan bahwa earnings management berpengaruh positif dan signifikan terhadap Return on Assets (ROA), sementara ukuran perusahaan justru memperlemah hubungan antara pertumbuhan penjualan dan kinerja keuangan.

Sektor Consumer Non-Cyclicals memiliki posisi penting dalam pasar modal Indonesia karena mencakup perusahaan yang menghasilkan kebutuhan sehari-hari. Permintaan terhadap produk sektor ini cenderung lebih tahan terhadap perubahan siklus bisnis. Namun, kondisi tersebut tidak berarti kinerja perusahaan selalu stabil.

Artikel mencatat bahwa indeks IDX Consumer Non-Cyclicals turun 16,04 persen pada 2021. Indeks kemudian tumbuh 7,89 persen pada 2022, 0,82 persen pada 2023, dan 0,98 persen pada 2024. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan permintaan terhadap barang kebutuhan pokok tidak secara otomatis menghasilkan kinerja perusahaan yang stabil.

Dalam penelitian ini, kinerja keuangan diukur menggunakan Return on Assets atau ROA. Rasio tersebut menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih dari seluruh aset yang dikelola. Dua faktor utama yang dianalisis adalah pertumbuhan penjualan dan earnings management atau manajemen laba.

Secara sederhana, pertumbuhan penjualan menunjukkan perubahan nilai penjualan dari satu periode ke periode berikutnya. Penjualan yang meningkat seharusnya dapat memperbesar pendapatan dan skala bisnis. Namun, manfaat tersebut dapat berkurang apabila kenaikan biaya operasional lebih besar daripada pertumbuhan pendapatan.

Sementara itu, earnings management berkaitan dengan penggunaan ruang diskresi dalam pencatatan akuntansi yang dapat memengaruhi waktu atau besaran laba yang dilaporkan. Dalam studi ini, manajemen laba diukur melalui discretionary accruals menggunakan Modified Jones Model.

Melibatkan 46 perusahaan

Afifah, Ghofir, dan Rizal menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data panel. Data berasal dari laporan keuangan tahunan perusahaan Consumer Non-Cyclicals yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 2021–2024.

Seleksi sampel menggunakan purposive sampling. Pada tahap awal, penelitian mencakup 46 perusahaan dengan 184 observasi perusahaan-tahun. Setelah proses penyaringan outlier, sebanyak 17 observasi dikeluarkan sehingga analisis akhir menggunakan 167 observasi.

Para peneliti menggunakan EViews 12 untuk menganalisis data. Model yang dipilih adalah Random Effects Model. Pengujian juga menggunakan Moderated Regression Analysis untuk melihat apakah ukuran perusahaan mengubah hubungan antara pertumbuhan penjualan maupun manajemen laba dengan kinerja keuangan.

Hasil deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata ROA perusahaan dalam sampel mencapai 8,96 persen. Sementara itu, rata-rata pertumbuhan penjualan mencapai 18,76 persen. Angka tersebut menunjukkan adanya perbedaan yang cukup besar dalam dinamika penjualan antarperusahaan.

Penjualan tumbuh, tetapi ROA tidak otomatis naik

Temuan pertama menunjukkan bahwa pertumbuhan penjualan memiliki koefisien positif sebesar 0,014275, tetapi tidak signifikan secara statistik. Nilai probabilitasnya mencapai 0,2101 sehingga hipotesis yang menyatakan pertumbuhan penjualan berpengaruh terhadap kinerja keuangan tidak didukung.

Artinya, peningkatan penjualan saja belum cukup untuk memastikan peningkatan ROA. Penelitian mengaitkan kondisi tersebut dengan tekanan biaya operasional, inflasi, harga bahan baku, dan perubahan nilai tukar selama periode pengamatan. Kenaikan penjualan dapat kehilangan dampaknya terhadap laba apabila biaya yang harus ditanggung perusahaan meningkat lebih cepat.

Temuan ini menempatkan efisiensi biaya dan pemanfaatan aset sebagai faktor penting dalam menerjemahkan pertumbuhan pendapatan menjadi profitabilitas.

Manajemen laba berkorelasi positif dengan ROA

Berbeda dari pertumbuhan penjualan, earnings management menunjukkan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan. Koefisiennya sebesar 0,099167 dengan nilai probabilitas 0,0126.

Penjelasan dalam artikel berkaitan dengan cara ROA dihitung menggunakan laba bersih yang dilaporkan. Discretionary accruals yang meningkatkan laba yang dilaporkan dapat secara langsung meningkatkan nilai ROA.

Para peneliti menghubungkan hasil tersebut dengan logika agency theory dan bonus plan hypothesis, yang menjelaskan adanya insentif bagi manajemen untuk menampilkan kinerja tertentu melalui pilihan akuntansi.

Perusahaan besar memiliki hubungan yang berbeda

Ukuran perusahaan menjadi temuan penting berikutnya. Interaksi antara pertumbuhan penjualan dan ukuran perusahaan memiliki koefisien negatif sebesar -0,004454 dengan nilai probabilitas 0,0488.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa ukuran perusahaan secara statistik memoderasi hubungan antara pertumbuhan penjualan dan ROA dalam arah negatif. Dengan kata lain, semakin besar ukuran perusahaan, semakin lemah pengaruh pertumbuhan penjualan terhadap ROA dalam model penelitian ini.

Artikel menjelaskan bahwa perusahaan besar memiliki struktur operasional yang lebih luas dan biaya tetap yang lebih tinggi. Karena itu, sebagian manfaat dari pertumbuhan penjualan dapat terserap untuk membiayai struktur dan biaya operasional tersebut.

Namun, ukuran perusahaan tidak terbukti mengubah hubungan antara earnings management dan kinerja keuangan. Interaksi earnings management dengan ukuran perusahaan memiliki nilai probabilitas 0,4127 sehingga tidak signifikan.

Implikasi bagi perusahaan dan investor

Sulis Hardiyanti Afifah, Ade Ghofir, dan Moch Rizal menyimpulkan bahwa kinerja perusahaan Consumer Non-Cyclicals tidak dapat dinilai hanya berdasarkan pertumbuhan penjualan. Kemampuan mengendalikan biaya, menggunakan aset secara efisien, serta memperhatikan kualitas laba menjadi bagian penting dalam membaca kondisi keuangan perusahaan.

Bagi manajemen perusahaan, hasil tersebut menunjukkan pentingnya memastikan kenaikan penjualan benar-benar menghasilkan laba operasional. Pengendalian biaya produksi, distribusi, dan biaya tetap menjadi aspek yang perlu diperhatikan.

Bagi investor dan analis, penelitian ini menyarankan agar ROA yang dilaporkan tidak menjadi satu-satunya indikator. Komponen akrual dan kualitas laba juga perlu diperhatikan ketika mengevaluasi kinerja perusahaan. Sementara bagi regulator, hasil penelitian menekankan pentingnya pengawasan terhadap kualitas pelaporan keuangan, khususnya estimasi dan akrual yang bersifat diskresioner.

Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya mencakup sektor Consumer Non-Cyclicals dan periode empat tahun. Nilai Adjusted R² sebesar 4,27 persen juga menunjukkan bahwa sebagian besar variasi ROA dalam sampel dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Penelitian berikutnya dapat memasukkan faktor seperti struktur modal, likuiditas, tata kelola perusahaan, manajemen laba riil, serta indikator kinerja lain seperti ROE atau Tobin's Q.

Profil Penulis

Sulis Hardiyanti Afifah — Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta. Bidang kajian dalam artikel berkaitan dengan pertumbuhan penjualan, manajemen laba, ukuran perusahaan, dan kinerja keuangan.

Ade Ghofir — Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta. Artikel menempatkan kajiannya pada bidang keuangan perusahaan dan analisis kinerja perusahaan.

Moch Rizal — Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta. Moch Rizal tercatat sebagai corresponding author dengan alamat email m.rizal@utmj.ac.id.

Sumber Penelitian

Judul: The Influence of Sales Growth and Earnings Management on Financial Performance: The Role of Firm Size Moderation
Penulis: Sulis Hardiyanti Afifah, Ade Ghofir, Moch Rizal
Afiliasi: Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta, Indonesia
Tahun: 2026
Artikel dinyatakan sebagai publikasi akses terbuka dengan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International.

Posting Komentar

0 Komentar