Perkiraan Nilai Transaksi Produk Hutan Non-Kayu di Taman Hutan Raya Nuraksa, Nusa Tenggara Barat, Indonesia

Gambar Ilustrasi AI

Potensi Hasil Hutan Bukan Kayu di Tahura Nuraksa NTB Tembus Rp76,8 Miliar per Tahun

Pengelolaan hasil hutan bukan kayu (HHBK) di Taman Hutan Raya (Tahura) Nuraksa, Nusa Tenggara Barat (NTB), terbukti memiliki nilai ekonomi yang sangat besar tanpa harus merusak ekosistem hutan. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Rizky Setia Bintara, Markum, dan Indriyatno dari Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Mataram pada periode April hingga Mei 2026 mengungkapkan bahwa nilai estimasi ekonomi HHBK di kawasan konservasi tersebut mencapai Rp76,84 miliar per tahun. Hasil riset ini menjadi pijakan penting untuk membuktikan bahwa pemanfaatan hutan berbasis kemitraan konservasi mampu menopang perekonomian masyarakat secara berkelanjutan tanpa penebangan pohon.

Urgensi Nilai Ekonomi HHBK di Kawasan Konservasi

Masyarakat di sekitar kawasan hutan umumnya menggantungkan mata pencaharian pada sumber daya alam. Pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, seperti buah-buahan dan biji-bijian, menjadi alternatif yang ramah lingkungan karena tidak merusak tegakan pohon.

Meskipun kegiatan pemanfaatan HHBK oleh petani anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) di Tahura Nuraksa berlangsung aktif, data mengenai nilai transaksi dan estimasi ekonomi di tingkat lanskap selama ini masih sangat terbatas dan belum terdokumentasi secara sistematis. Sebagian besar data sebelumnya hanya mencakup estimasi pendapatan tingkat rumah tangga, sehingga potensi ekonomi kawasan secara menyeluruh belum terpetakan dengan terukur.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif untuk mengukur nilai transaksi serta estimasi nilai ekonomi HHBK di lanskap Tahura Nuraksa. Peneliti mengambil sampel sebanyak 42 responden yang dipilih secara proporsional dan acak (Proportionate Stratified Random Sampling dan Simple Random Sampling) dari total 683 anggota KTH yang tersebar di 10 kelompok tani. Data yang terkumpul dianalisis untuk menghitung penerimaan bersih petani, produktivitas lahan per hektar, serta proyeksi nilai ekonomi total pada Blok Tradisional dan Blok Pemanfaatan seluas 1.381,80 hektar.

Temuan Utama Penelitian

Riset ini menghasilkan beberapa temuan penting terkait komoditas dan transaksi ekonomi HHBK di Tahura Nuraksa:

  • Nilai Transaksi Petani: Rata-rata total penerimaan transaksi HHBK yang diperoleh petani mencapai Rp121.894.136 per luas lahan yang dikelola per tahun.
  • Pendapatan Bersih Petani: Setelah dikurangi rata-rata biaya produksi sebesar Rp4.353.793 per tahun, petani mengantongi pendapatan bersih rata-rata Rp117.540.342 per luas lahan terkelola per tahun (setara dengan Rp48.475.736 per hektar per tahun).
  • Komoditas Unggulan: Durian menjadi komoditas penyumbang penerimaan terbesar dengan rata-rata Rp46.838.095 per tahun. Posisi berikutnya ditempati oleh kopi sebesar Rp25.500.000 per tahun dan manggis sebesar Rp21.291.666 per tahun. Tingginya nilai transaksi ketiga komoditas ini didorong oleh harga jual yang relatif tinggi serta permintaan pasar yang stabil.
  • Komoditas Paling Populer: Pisang merupakan komoditas yang paling banyak ditanam oleh seluruh responden (42 petani) karena teknik pengelolaannya mudah, hasil panennya stabil, dan berrisiko rendah.
  • Estimasi Nilai Ekonomi Kawasan: Dengan rata-rata nilai produk HHBK sebesar Rp55.614.366 per hektar per tahun, total estimasi nilai ekonomi HHBK pada luas kawasan 1.381,80 hektar mencapai Rp76.847.930.726 per tahun.

Implikasi dan Dampak Kebijakan

Hasil penelitian ini memberikan implikasi strategis bagi pengambil kebijakan dan pengelola kawasan hutan:

  • Dasar Akuntansi Ekonomi HHBK: Balai Tahura Nuraksa dapat memanfaatkan data ini untuk membangun sistem akuntansi ekonomi HHBK yang terukur sebagai dasar pengelolaan kawasan berbasis data.
  • Pengembangan Komoditas Bernilai Tinggi: Pemerintah daerah dan pengelola kawasan disarankan untuk fokus meningkatkan tata kelola dan pemasaran komoditas bernilai tinggi seperti durian dan kopi guna mengoptimalkan pendapatan masyarakat.
  • Penguatan Kemitraan Konservasi: Temuan ini membuktikan bahwa HHBK dapat menjadi instrumen efektif untuk mendukung kesejahteraan ekonomi lokal tanpa mengorbankan fungsi utama kawasan konservasi.

"Pemanfaatan HHBK membuktikan bahwa kegiatan ekonomi masyarakat dapat berjalan selaras dengan fungsi konservasi hutan, memberikan kontribusi nilai ekonomi yang nyata di tingkat regional," jelas tim peneliti dari Universitas Mataram.

Profil Penulis

  1. Rizky Setia Bintara: Peneliti dari Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram, dengan kepakaran di bidang manajemen sumber daya hutan dan ekonomi lingkungan.
  2. Markum: Dosen dan peneliti senior di Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram, berfokus pada analisis ekonomi kehutanan dan kehutanan masyarakat.
  3. Indriyatno: Dosen dan akademisi Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram, dengan keahlian dalam pengelolaan kawasan konservasi dan sosial kehutanan.

Sumber Penelitian

  • Judul Artikel: Estimated Transaction Value of Non-Timber Forest Products in the Nuraksa Grand Forest Park, West Nusa Tenggara, Indonesia
  • Penulis: Rizky Setia Bintara, Markum, dan Indriyatno
  • Nama Jurnal: International Journal of Contemporary Sciences (IJCS)
  • Tahun Publikasi: 2026 (Vol. 4, No. 6, hal. 1731–1744)
  • DOI: https://doi.org/10.55927/xb22w468
  • E-ISSN: 3047-4078
  • URL Jurnal: https://journalijcs.my.id/index.php/ijcs

Posting Komentar

0 Komentar