YOGYAKARTA – Meningkatnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja membawa tantangan baru dalam menjaga keseimbangan antara tanggung jawab profesional dan kehidupan domestik. Sebuah studi ilmiah terbaru pada tahun 2026 yang dilakukan oleh Amanda Sagita dan Majang Palupi dari Universitas Islam Indonesia meneliti pengaruh peran ganda dan beban kerja terhadap konflik pekerjaan-keluarga pada karyawati di RS PKU Muhammadiyah Gamping. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi manajemen rumah sakit dan pengelola sumber daya manusia dalam merumuskan kebijakan tempat kerja yang mendukung kesejahteraan psikologis pekerja perempuan.
Lingkungan kerja fasilitas kesehatan menuntut tingkat profesionalisme yang tinggi, jam kerja yang padat, serta pelayanan langsung kepada masyarakat. Bagi karyawati yang telah menikah dan memiliki anak, tuntutan pekerjaan sering kali berbenturan dengan kewajiban mengurus rumah tangga dan keluarga. Beban kerja fisik maupun mental yang berlebihan di rumah sakit berpotensi memicu stres kerja, yang pada akhirnya dapat mengganggu keharmonisan keluarga serta menurunkan kinerja profesional. Kondisi ini melatarbelakangi perlunya analisis empiris untuk memahami sejauh mana stres kerja memediasi hubungan antara beban kerja, peran ganda, dan konflik peran.
Untuk menjawab persoalan tersebut, para peneliti menerapkan pendekatan kuantitatif menggunakan metode survei. Data dikumpulkan melalui kuesioner kepada 120 karyawati tetap di RS PKU Muhammadiyah Gamping yang memenuhi kriteria telah menikah, memiliki suami yang bekerja, dan memiliki anak berusia di bawah 20 tahun. Analisis data dilakukan menggunakan metode Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menguji hubungan langsung dan tidak langsung antarvariabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran ganda memiliki pengaruh positif dan sangat signifikan secara langsung terhadap timbulnya konflik pekerjaan-keluarga. Beban kerja dan peran ganda juga terbukti secara signifikan meningkatkan tingkat stres kerja karyawati. Selain itu, beban kerja berpengaruh signifikan terhadap konflik pekerjaan-keluarga, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui mediasi stres kerja.
Temuan menarik dari studi ini mengungkapkan perbedaan mekanisme mediasi stres kerja. Stres kerja terbukti memediasi secara signifikan hubungan antara beban kerja dan konflik pekerjaan-keluarga. Artinya, beban kerja berlebih terlebih dahulu menciptakan tekanan psikologis yang kemudian berdampak pada kehidupan keluarga. Sebaliknya, stres kerja tidak terbukti memediasi hubungan antara peran ganda dan konflik pekerjaan-keluarga, yang menandakan bahwa tumpang tindih peran ganda berpengaruh secara langsung dan spontan terhadap perselisihan waktu serta tanggung jawab.
Implikasi dari temuan ini sangat krusial bagi manajemen rumah sakit, penyusun kebijakan ketenagakerjaan, dan organisasi layanan kesehatan. Pengelola rumah sakit disarankan untuk tidak hanya fokus pada penyediaan program pendukung keluarga, tetapi juga melakukan pembagian beban kerja yang proporsional dan penjadwalan shif yang fleksibel. Pengelolaan stres kerja melalui dukungan psikologis dan penataan alur kerja menjadi langkah nyata untuk menjaga keharmonisan keluarga sekaligus efektivitas pelayanan medis.
Penelitian ini dilakukan oleh Amanda Sagita dan Majang Palupi yang terafiliasi dengan Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Profil Penulis:
Amanda Sagita, Majang Palupi (Universitas Islam Indonesia)
Sumber Penelitian:
Judul Artikel: The Influence of Dual Roles and Workload on Work-Family Conflict: The Mediating Role of Work Stress among Employees at PKU Muhammadiyah Gamping Hospital
Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 9, 2026, hal. 3699-3714
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i9.307
Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar