Pengaruh Motivasi Kerja dan Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan dengan Kepuasan Kerja sebagai Variabel Mediasi di Rumah Sakit Bhayangkara Trijata Denpasar

Gambar Ilustrasi AI

Penguatan Budaya Organisasi Menjadi Kunci Utama Peningkatan Kinerja Pegawai Rumah Sakit Bhayangkara Trijata Denpasar

Penguatan budaya organisasi terbukti menjadi faktor paling efektif dalam meningkatkan kinerja pegawai rumah sakit, sementara kepuasan kerja dan motivasi tidak berdampak langsung terhadap hasil kerja. Penelitian yang dilakukan oleh Gusti Ngurah Adhitya Mahendra dari Universitas Mahasaraswati Denpasar pada periode April hingga Juni 2026 mengungkapkan bahwa kepuasan kerja tidak memediasi pengaruh motivasi maupun budaya organisasi terhadap kinerja pegawai di Rumah Sakit Bhayangkara Trijata Denpasar. Temuan ini memberikan arah baru bagi manajemen fasilitas kesehatan dalam merancang strategi pengelolaan sumber daya manusia yang lebih tepat sasaran.

Keberhasilan pelayanan kesehatan di rumah sakit sangat bergantung pada kualitas, efektivitas, dan ketepatan waktu kerja para pegawainya. Berdasarkan data internal Rumah Sakit Bhayangkara Trijata Denpasar pada tahun 2025, sejumlah indikator mutu pelayanan mencatatkan angka yang belum stabil. Tingkat kepatuhan kebersihan tangan berada pada rentang 86,8% hingga 90,5%, kepatuhan waktu visit dokter berada di angka 80,25% hingga 92,17%, serta kepuasan pasien berkisar antara 90,63% hingga 94%. Selain itu, angka kunjungan rawat jalan juga mengalami fluktuasi tajam, dari 16.646 kunjungan pada Januari menjadi 8.767 pada April, lalu naik ke 12.395 pada Juli 2025. Fenomena ini menegaskan perlunya pembenahan faktor internal organisasi dan perilaku kerja staf.

Untuk menganalisis dinamika tersebut, Gusti Ngurah Adhitya Mahendra merancang penelitian kuantitatif dengan pendekatan explanatory research. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert dari 86 pegawai Pegawai Negeri Sipil (PNS) non-dokter yang memiliki masa kerja minimal lima tahun di Rumah Sakit Bhayangkara Trijata Denpasar. Pemilihan sampel menggunakan teknik purposive sampling agar mendapatkan responden yang memahami sistem kerja dan nilai organisasi secara mendalam. Analisis data kemudian diolah menggunakan metode Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) melalui perangkat lunak SmartPLS 4.0.

Hasil pengolahan data statistik menunjukkan beberapa temuan penting mengenai faktor pembentuk kinerja pegawai rumah sakit:

  • Budaya Organisasi Mendorong Kinerja Langsung: Budaya organisasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai dengan koefisien jalur terbesar (0,646). Nilai, norma, kepemimpinan, dan komunikasi yang jelas secara langsung mengarahkan pegawai untuk bekerja sesuai standar pelayanan.
  • Budaya Organisasi dan Motivasi Meningkatkan Kepuasan: Budaya organisasi (koefisien 0,618) dan motivasi kerja (koefisien 0,322) terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja pegawai.
  • Motivasi Kerja Tidak Berdampak Langsung pada Kinerja: Motivasi kerja tidak menunjukkan pengaruh signifikan secara langsung terhadap kinerja pegawai (p-value 0,457). Dorongan kerja yang tinggi tidak otomatis meningkatkan kinerja tanpa dukungan fasilitas dan sistem kerja yang memadai.
  • Kepuasan Kerja Tidak Memengaruhi Kinerja: Kepuasan kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai (p-value 0,290). Perasaan puas terhadap gaji atau lingkungan kerja belum cukup untuk mendorong peningkatan pencapaian hasil kerja.
  • Kepuasan Kerja Bukan Variabel Mediasi: Kepuasan kerja tidak terbukti memediasi pengaruh motivasi kerja maupun budaya organisasi terhadap kinerja pegawai. Penguatan budaya organisasi bertindak sebagai mekanisme langsung tanpa harus melewati pembentukan kepuasan kerja terlebih dahulu.

Implikasi dari penelitian ini memberikan panduan praktis bagi manajemen rumah sakit dan pembuat kebijakan pelayanan kesehatan. Manajemen Rumah Sakit Bhayangkara Trijata Denpasar disarankan untuk memprioritaskan internalisasi nilai-nilai organisasi, penegakan Standar Operasional Prosedur (SOP) secara disiplin, serta peningkatan koordinasi antarunit. Meskipun kepuasan kerja dan motivasi tetap perlu dijaga untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, strategi peningkatan kinerja tidak boleh hanya bergantung pada program motivasi atau peningkatan kepuasan semata.

Peneliti menegaskan pentingnya eksekusi budaya kerja yang nyata dalam operasional harian rumah sakit:

"Dalam konteks rumah sakit, peningkatan kinerja pegawai lebih kuat berkaitan dengan nilai, norma, komunikasi, kepemimpinan, dan kepatuhan terhadap aturan organisasi. Budaya organisasi perlu diterjemahkan ke dalam perilaku kerja sehari-hari agar tercermin dalam kualitas dan konsistensi pelayanan."

Profil Penulis

  • Gusti Ngurah Adhitya Mahendra, S.E. – Peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Mahasaraswati Denpasar, dengan fokus keahlian pada manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, dan manajemen pelayanan kesehatan.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar