Kepemimpinan Lincah dan Kompetensi Digital Tingkatkan Kinerja Pegawai Kejaksaan Melalui Berpikir Kritis
Penerapan kepemimpinan yang lincah (agile leadership) dan kompetensi digital terbukti secara signifikan meningkatkan kinerja pegawai dalam mengoperasikan aplikasi MySIMKARI di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara melalui peran perantara kemampuan berpikir kritis (critical thinking)
Latar Belakang dan Relevansi
Kinerja pegawai di sektor publik kini tidak lagi diukur sebatas pada pemenuhan tugas administrasi manual, melainkan pada pemanfaatan sistem digital secara optimal, kecepatan beradaptasi dengan perubahan teknologi, serta ketepatan pengambilan keputusan
Meskipun demikian, observasi di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara menunjukkan bahwa pemanfaatan aplikasi tersebut belum optimal
Metodologi Penelitian
Tim peneliti dari Universitas Sumatera Utara menggunakan pendekatan kuantitatif kausal untuk menguji pengaruh langsung maupun tidak langsung antarvariabel
Ukuran sampel ditetapkan sebanyak 215 responden yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling berdasarkan keterwakilan gender dan kelompok usia
Temuan Utama Penelitian
Hasil analisis struktural menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis bertindak sebagai variabel mediasi parsial yang memperkuat pengaruh kepemimpinan lincah dan kompetensi digital terhadap kinerja pegawai
- Pengaruh Kepemimpinan Lincah: Kepemimpinan lincah berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai (koefisien jalur 0,289; t-statistic 6,483) serta terhadap kemampuan berpikir kritis (koefisien jalur 0,473; t-statistic 9,927)
. - Pengaruh Kompetensi Digital: Kompetensi digital berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja pegawai (koefisien jalur 0,280; t-statistic 5,327) dan terhadap berpikir kritis (koefisien jalur 0,463; t-statistic 10,129)
. - Dampak Berpikir Kritis: Berpikir kritis memberikan pengaruh langsung yang kuat terhadap kinerja pegawai dalam mengoperasikan MySIMKARI (koefisien jalur 0,448; t-statistic 8,155)
. - Peran Mediasi: Berpikir kritis secara signifikan memediasi pengaruh kepemimpinan lincah terhadap kinerja pegawai (koefisien tidak langsung 0,212; p-value 0,000) dan pengaruh kompetensi digital terhadap kinerja pegawai (koefisien tidak langsung 0,208; p-value 0,000)
. - Daya Jelaskan Model: Kombinasi kepemimpinan lincah, kompetensi digital, dan berpikir kritis mampu menjelaskan 81,5% variansi kinerja pegawai (R-Square = 0,815), sementara 67,2% variansi berpikir kritis dijelaskan oleh kepemimpinan lincah dan kompetensi digital (R-Square = 0,672)
.
Implikasi dan Dampak Nyata
Hasil penelitian ini memberikan rekomendasi praktis bagi pimpinan kejaksaan dan pengelola SDM di birokrasi pemerintahan
Menanggapi pentingnya penguatan kapasitas kognitif dan kepemimpinan dalam digitalisasi birokrasi, para peneliti menggarisbawahi keterkaitan variabel tersebut
Profil Penulis
- Debora Viliana, S.E., M.M.: Peneliti utama dan Magister Manajemen dari Universitas Sumatera Utara dengan keahlian di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia dan Digitalisasi Sektor Publik
. - Prof. Dr. Prihatin Lumbanraja, S.E., M.Si.: Guru Besar dan dosen senior di Universitas Sumatera Utara dengan kepakarannya dalam bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, Kepemimpinan, dan Perilaku Organisasi
. - Dr. Yeni Absah, S.E., M.Si.: Dosen dan peneliti senior di Universitas Sumatera Utara yang berfokus pada bidang Manajemen Strategis, Pengembangan Organisasi, dan Manajemen Pengetahuan
.

0 Komentar