Pengaruh Beban Kerja dan Stres Kerja terhadap Disiplin Kerja dengan Keseimbangan Kerja dan Kehidupan sebagai Mediasi

Gambar Ilustrasi AI

Keseimbangan Kehidupan Kerja Kunci Menjaga Disiplin Karyawan Ritel di Tengah Beban Kerja Tinggi

Beban kerja berlebih dan tingkat stres yang tinggi terbukti secara langsung menurunkan disiplin kerja pegawai di sektor ritel modern. Temuan ilmiah ini diungkapkan dalam penelitian Fadhila Sania Thufailah dan Andriyastuti Suratman dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Riset yang dipublikasikan dalam International Journal of Contemporary Sciences (IJCS) edisi Juni 2026 ini menegaskan bahwa work-life balance (keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi) memegang peran vital sebagai jembatan untuk memulihkan energi karyawan dan mempertahankan kepatuhan terhadap aturan perusahaan.

Latar Belakang dan Tantangan Sektor Ritel

Industri ritel modern di Indonesia berkembang sangat pesat dengan jaringan ritel besar seperti Indomaret yang mengoperasikan sekitar 24.000 gerai dan Alfamart yang mengoperasikan lebih dari 21.120 gerai hingga awal 2026. Pertumbuhan ekspansif ini menuntut standar pelayanan yang serba cepat dan jam kerja sistem sif. Kondisi operasional tersebut kerap memicu tekanan kerja harian yang tinggi bagi para karyawan ritel. Data menunjukkan sekitar 16% pekerja di Indonesia mengalami stres harian akibat beban kerja yang berat.

Tingginya tuntutan kerja sering kali menguras energi dan waktu pribadi karyawan, yang berujung pada penurunan disiplin seperti ketidaktepatan waktu dan menurunnya fokus kerja. Riset ini mengevaluasi fenomena tersebut menggunakan kerangka teori Job Demands-Resources (JD-R) dan Conservation of Resources (COR). Dalam teori ini, beban kerja dan stres diposisikan sebagai tuntutan yang menguras energi, sedangkan keseimbangan kehidupan kerja berfungsi sebagai sumber daya pemulihan yang menjaga stabilitas perilaku karyawan.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional untuk menguji hubungan antarvariabel. Pengumpulan data dilakukan melalui survei kuesioner skala Likert 6 poin yang melibatkan 135 responden karyawan ritel di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria pekerja aktif di berbagai jaringan ritel modern seperti Indomaret, Alfamart, Circle K, Mirota, Alfamidi, Super Indo, dan ritel lainnya.

Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Pengujian dilakukan dalam dua tahapan utama, yaitu outer model untuk memastikan validitas serta reliabilitas indikator, dan inner model untuk menguji signifikansi hubungan antarvariabel melalui pemuatan bootstrapping dengan kriteria t-statistic > 1,96 dan p-value < 0,05.

Temuan Utama Penelitian

Hasil analisis struktural menunjukkan bahwa seluruh hipotesis dalam penelitian ini diterima dengan hubungan statistik yang signifikan:

  • Dampak Beban Kerja: Beban kerja berpengaruh negatif secara signifikan terhadap disiplin kerja ($\beta = -0,188; p = 0,029$) dan terhadap work-life balance ($\beta = -0,468; p = 0,000$).
  • Dampak Stres Kerja: Stres kerja berpengaruh negatif secara signifikan terhadap disiplin kerja ($\beta = -0,211; p = 0,005$) dan terhadap work-life balance ($\beta = -0,182; p = 0,014$).
  • Peran Positif Keseimbangan Kerja: Work-life balance berpengaruh positif dan sangat signifikan terhadap disiplin kerja ($\beta = 0,491; p = 0,000$).
  • Efek Mediasi: Work-life balance terbukti memediasi pengaruh beban kerja terhadap disiplin kerja ($\beta = -0,230; p = 0,000$) serta memediasi pengaruh stres kerja terhadap disiplin kerja ($\beta = -0,089; p = 0,042$).
  • Dominasi Pengaruh: Berdasarkan pengujian F-Square, variabel work-life balance memberikan kontribusi paling dominan terhadap peningkatan disiplin kerja dibandingkan penanganan stres atau beban kerja secara langsung.

Implikasi dan Dampak Bagi Dunia Kerja

Penelitian ini memberikan implikasi praktis yang nyata bagi manajemen perusahaan ritel dan pengelola sumber daya manusia. Upaya meningkatkan disiplin karyawan tidak bisa dilakukan hanya dengan memperketat pengawasan atau memberikan sanksi. Perusahaan perlu secara aktif mengelola beban kerja agar tetap proporsional dengan kapasitas fisik dan mental pekerja.

Penyediaan jadwal kerja yang fleksibel, pembagian sif yang adil, serta dukungan terhadap kehidupan pribadi karyawan menjadi strategi efektif untuk mencegah kemerosotan disiplin. Ketika perusahaan membantu karyawan menjaga keseimbangan antara tuntutan profesional dan kehidupan pribadi, karyawan dapat memulihkan energi fisik dan mental mereka secara optimal. Hal ini berdampak langsung pada peningkatkan fokus, ketepatan waktu, dan kepatuhan terhadap aturan operasional perusahaan.

Menjelaskan pentingnya temuan ini, tim peneliti menegaskan hubungan antara pemulihan sumber daya dan kedisiplinan. "Ketika tuntutan kerja yang tinggi menguras sumber daya yang dimiliki karyawan, disiplin kerja mereka akan menurun. Oleh karena itu, keseimbangan kehidupan kerja berfungsi sebagai mediator yang menjembatani dampak negatif beban dan stres kerja terhadap disiplin melalui proses pemulihan energi," ungkap Fadhila Sania Thufailah dan Andriyastuti Suratman dari Universitas Islam Indonesia.

Profil Penulis

  1. Fadhila Sania Thufailah, S.E.: Peneliti dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dengan fokus keahlian pada Manajemen Sumber Daya Manusia dan Perilaku Organisasi di Sektor Ritel.
  2. Andriyastuti Suratman, S.E., M.Si.: Dosen dan peneliti senior di Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dengan spesialisasi riset di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, Keseimbangan Kehidupan Kerja, dan Kinerja Organisasi.

Informasi Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar