Penerapan Teknologi Mesin Pengupas Padi untuk Meningkatkan Kapasitas Produksi dan Efisiensi Operasional di Kelompok Tani Dalanta, Desa Boangmanalu

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Medan - Penerapan Mesin Perontok Padi Modern Lipat Gandakan Hasil Harvest dan Efisiensi Petani di Pakpak Bharat. Pengabdian ini diungkapkan dalam riset Siti Ulgari, S.Pd., M.Pd., bersama Sabda Dian Nurani Siahaan, Saronom Silaban, Juniar Hutahaean, Choms Gary Ganda Tua Sibarani, Mena Fadillia Lukman, Purwandari Nur Tristianingsih, dan Lenti Susanna Saragih dari Universitas Negeri Medan dalam artikel pengabdian yang dipublikasikan pada Asian Journal of Community Services (AJCS) edisi Vol. 5 No. 8 Tahun 2026 menyoroti bahwa teknologi mesin perontok padi (power thresher) pada Kelompok Tani Dalanta Merpulung di Desa Boangmanalu menjadi langkah krusial dalam mengatasi krisis efisiensi pascapanen di tingkat petani kecil serta memperkuat ketahanan pangan lokal

Latar Belakang dan Tantangan Pascapanen
Beras merupakan komoditas pangan paling strategis di Indonesia. Meskipun produksi beras nasional mencapai 53,14 juta ton pada tahun 2024, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 4,52 juta ton beras pada tahun yang sama untuk memenuhi kebutuhan nasional. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya optimalisasi efisiensi produksi dan penanganan pascapanen di seluruh pelosok daerahDi Desa Boangmanalu, Kecamatan Salak, Kabupaten Pakpak Bharat, Kelompok Tani Dalanta Merpulung yang beranggotakan 20 petani menghadapi kendala besar pada tahap rontok padi. Sebelumnya, kelompok tani yang dipimpin oleh Torus Boangmanalu ini mengandalkan metode tradisional, yaitu memukul helai padi ke meja bambu rakitan atau menginjaknya secara manualUntuk mengolah lahan seluas 0,5 hektare yang menghasilkan sekitar 2.250 kilogram gabah, metode konvensional membutuhkan waktu hingga 75–112,5 jam kerja, atau setara dengan 9 hingga 14 hari. Selain memakan waktu lama dan membutuhkan banyak tenaga kerja tambahan, cara manual ini memicu tingkat kehilangan hasil (losses) gabah yang tinggi, mencapai 5 hingga 10 persen akibat gabah tidak terkelupas sempurna dari tangkainya.

Metodologi Pendampingan Pertanian Tepat Guna
Tim akademisi Universitas Negeri Medan menerapkan pendekatan perancangan dan pendampingan teknologi secara langsung di lapangan. Metodologi program terbagi dalam empat tahapan utama:
  • Tahap Persiapan: Tim melakukan koordinasi internal, perancangan, perakitan, dan pengujian mekanis mesin perontok padi di kampus Unimed sebelum dikirim langsung ke Desa Boangmanalu pada 1 Juni 2026.
  • Tahap Sosialisasi dan Penyerahan: Pada 20 Juni 2025, dilakukan pertemuan tatap muka bersama 20 anggota kelompok tani dan perwakilan LPPM Unimed untuk menyerahkan unit mesin perontok padi secara resmi.
  • Tahap Pelatihan dan Implementasi: Petani mendapatkan materi teori operasional, prosedur keselamatan kerja, serta praktik langsung (learning-by-doing) dalam mengoperasikan dan merawat mesin.
  • Tahap Pendampingan dan Evaluasi: Tim peneliti kembali melakukan kunjungan lapangan pada 16 Juli 2026 untuk memantau penggunaan mandiri, dilanjutkan dengan evaluasi akhir dampak ekonomi dan mekanisasi pada 23 Juli 2026.
Temuan Utama dan Peningkatan Efisiensi
Penerapan mesin perontok padi membawa perubahan signifikan terhadap produktivitas dan operasional Kelompok Tani Dalanta Merpulung:
  • Lonjakan Kapasitas Produksi: Kapasitas perontokan padi melonjak tajam dari sebelumnya hanya 20–30 kilogram per jam secara manual menjadi 100–150 kilogram per jam menggunakan mesin.
  • Pemangkasan Waktu Kerja: Durasi pemrosesan panen yang tadinya memakan waktu hingga dua minggu berkurang drastis menjadi hanya hitungan hari.
  • Penurunan Biaya Operasional: Kebutuhan tenaga kerja tambahan dapat dikurangi secara signifikan, sehingga menghemat pengeluaran upah harian panen.
  • Minimnya Kehilangan Hasil: Pemisahan bulir gabah dari jerami berlangsung lebih bersih dan merata, menekan angka keilangan gabah hingga di bawah tingkat konvensional.
  • Kemandirian Teknologi Petani: Evaluasi akhir mengonfirmasi bahwa seluruh peserta mampu mengoperasikan, membersihkan, dan melakukan perawatan rutin mesin secara mandiri.
Implikasi dan Dampak Nyata bagi Masyarakat
Penggunaan mesin perontok padi ini memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan ekonomi petani kecil di Pakpak Bharat. Dengan terpangkasnya waktu dan biaya panen, margin keuntungan petani meningkat. Secara lebih luas, langkah ini mendukung agenda pembangunan nasional Asta Cita dalam memperkuat kemandirian ekonomi desa serta selaras dengan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) fokus panganInovasi ini juga berkontribusi nyata pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan ketahanan pangan lokal, dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).

Profil Penulis
Siti Ulgari, S.Pd., M.Pd. adalah akademisi dan peneliti di Universitas Negeri Medan, Indonesia. Ia memiliki keahlian di bidang pendidikan teknologi, inovasi pertanian terapan, dan pengabdian masyarakat. Fokus penelitiannya berpusat pada modernisasi pertanian desa, penerapan teknologi tepat guna, serta pemberdayaan ekonomi kelompok tani lokal.

Sumber Penelitian
Siti Ulgari, S.Pd., M.Pd., bersama Sabda Dian Nurani Siahaan, Saronom Silaban, Juniar Hutahaean, Choms Gary Ganda Tua Sibarani, Mena Fadillia Lukman, Purwandari Nur Tristianingsih, dan Lenti Susanna SaragihImplementation of Rice Threshing Machine Technology for Improving Production Capacity and Operational Efficiency in the Dalanta Farmers Group of Boangmanalu Village. Asian Journal of Community Services (AJCS). Vol. 5, No. 8, Tahun 2026, halaman 565-580
DOI : https://doi.org/10.55927/ajcs.v5i8.50
URL: https://journalajcs.my.id/index.php/ajcs

Posting Komentar

0 Komentar