Kesadaran Merek dan Kepercayaan Konsumen Dorong Minat Beli Sepatu Bata

Ilustrasi by AI

JAKARTA — Kesadaran konsumen terhadap merek dan kepercayaan pada merek terbukti menjadi dua faktor penting yang mendorong minat membeli produk sepatu Bata. Temuan ini berasal dari penelitian Lisa Ardila Pramesti dan Ali Hanafiah dari Universitas Mercu Buana yang dilakukan pada Mei 2025 hingga Juni 2026 terhadap konsumen yang mengenal produk Bata di wilayah DKI Jakarta. Hasil penelitian penting bagi strategi pemasaran Bata karena menunjukkan bahwa kualitas produk saja belum cukup kuat untuk meningkatkan minat beli konsumen.

Persaingan industri alas kaki semakin ketat seiring perubahan tren fashion, gaya hidup, dan preferensi konsumen. Sepatu tidak lagi hanya berfungsi sebagai pelindung kaki, tetapi juga menjadi bagian dari penampilan, identitas, dan gaya hidup. Kondisi tersebut membuat perusahaan sepatu harus mampu mempertahankan daya tarik merek sekaligus memahami faktor yang membuat konsumen tertarik membeli.

Bata menjadi salah satu merek yang menghadapi tantangan tersebut. Sebagai merek yang telah lama dikenal di Indonesia, Bata memiliki tingkat pengenalan merek yang kuat. Namun, perusahaan menghadapi persaingan dari berbagai merek lokal maupun internasional yang menawarkan desain lebih beragam, inovasi produk, harga kompetitif, dan strategi pemasaran yang agresif.

Data yang dikutip dalam artikel penelitian menunjukkan pendapatan PT Sepatu Bata Tbk turun dari sekitar Rp335,76 miliar pada 2023 menjadi Rp260,29 miliar pada 2024. Penurunan tersebut menjadi salah satu indikator tantangan yang dihadapi perusahaan dalam mempertahankan kinerja penjualan.

Posisi Bata dalam Top Brand Index juga mengalami penurunan. Skor Bata tercatat 7,0 persen pada 2024, turun menjadi 6,8 persen pada 2025 dan kembali turun menjadi 6,7 persen pada 2026. Pada periode yang sama, Adidas berada di posisi teratas dengan skor 18,1 persen pada 2026. Menurut peneliti, perkembangan tersebut menunjukkan perlunya penguatan posisi merek untuk mempertahankan minat konsumen.

Menguji Tiga Faktor Pendorong Minat Beli

Pramesti dan Hanafiah memusatkan perhatian pada tiga faktor, yaitu brand awareness atau kesadaran merek, product quality atau kualitas produk, serta brand trust atau kepercayaan terhadap merek. Ketiganya kemudian dianalisis hubungannya dengan purchase intention atau minat beli.

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui survei. Responden dipilih secara purposive, yaitu berdasarkan kriteria tertentu. Mereka merupakan konsumen yang mengenal produk Bata, berdomisili di DKI Jakarta, dan berada dalam kelompok usia yang ditentukan peneliti.

Sebanyak 126 responden dilibatkan dalam penelitian. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan skala Likert, kemudian dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares (PLS) melalui aplikasi SmartPLS 4. Penelitian berlangsung dari Mei 2025 hingga Juni 2026.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa instrumen yang digunakan memenuhi standar validitas dan reliabilitas. Seluruh indikator memiliki nilai loading factor di atas 0,70, sementara nilai reliabilitas konstruk juga berada di atas 0,70. Artinya, data kuesioner dinilai cukup konsisten untuk digunakan dalam analisis lebih lanjut.

Kesadaran Merek Berpengaruh Nyata

Faktor pertama yang terbukti berpengaruh adalah brand awareness. Hasil analisis menunjukkan koefisien sebesar 0,345, nilai t-statistic 2,861, dan p-value 0,002. Karena p-value berada di bawah 0,05, hubungan tersebut dinilai positif dan signifikan.

Temuan tersebut berarti semakin tinggi kemampuan konsumen mengenali dan mengingat merek Bata, semakin besar kecenderungan mereka untuk mempertimbangkan pembelian produk Bata.

Bagi merek yang telah lama hadir di pasar, pengenalan tersebut menjadi modal penting. Ketika konsumen sudah familiar dengan sebuah merek, merek tersebut lebih mudah muncul dalam pertimbangan ketika konsumen membutuhkan produk sepatu.

Kualitas Produk Belum Menjadi Penentu Utama

Berbeda dengan kesadaran merek, product quality tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap minat beli. Variabel ini memiliki koefisien positif 0,148, tetapi nilai t-statistic hanya 1,087 dan p-value 0,139, sehingga tidak memenuhi batas signifikansi yang digunakan dalam penelitian.

Peneliti menilai konsumen saat ini tidak hanya mempertimbangkan kenyamanan dan daya tahan sepatu. Mereka juga memperhatikan desain yang mengikuti tren, variasi model, harga yang kompetitif, serta kesesuaian citra merek dengan gaya hidup.

Dengan demikian, kualitas produk tetap memiliki arah hubungan positif dengan minat beli, tetapi dalam penelitian ini belum cukup kuat untuk menjadi faktor utama yang menentukan keputusan konsumen.

Kepercayaan Merek Menjadi Faktor Penting

Faktor ketiga, yaitu brand trust, menunjukkan pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli. Koefisien pengaruhnya mencapai 0,375, dengan t-statistic 4,000 dan p-value 0,000.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa konsumen lebih memiliki kecenderungan membeli ketika mereka memandang Bata sebagai merek yang dapat dipercaya, memiliki reputasi baik, dan mampu memenuhi harapan.

Kepercayaan dapat terbentuk dari pengalaman konsumen, konsistensi produk, reputasi merek, serta keyakinan bahwa manfaat yang dijanjikan perusahaan benar-benar dapat diberikan.

Secara keseluruhan, ketiga variabel yang diuji mampu menjelaskan 59,1 persen variasi minat beli konsumen, sedangkan 40,9 persen lainnya dipengaruhi faktor di luar model penelitian. Nilai predictive relevance (Q²) sebesar 0,535 juga menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan prediksi terhadap minat beli.

Implikasi bagi Strategi Bata

Temuan Pramesti dan Hanafiah dari Universitas Mercu Buana memberikan gambaran bahwa strategi meningkatkan minat beli Bata tidak cukup hanya berfokus pada kualitas produk.

Penguatan brand awareness dapat dilakukan dengan membuat merek tetap mudah dikenali dan relevan di tengah perubahan tren. Sementara itu, brand trust perlu dipertahankan melalui pengalaman konsumen yang konsisten, reputasi yang baik, dan kemampuan memenuhi ekspektasi pelanggan.

Di sisi lain, hasil yang tidak signifikan pada kualitas produk bukan berarti kualitas dapat diabaikan. Justru, temuan tersebut menunjukkan bahwa kualitas perlu dikombinasikan dengan desain, variasi produk, harga, pengalaman konsumen, dan citra merek yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Bagi industri alas kaki secara lebih luas, hasil ini menunjukkan bahwa konsumen modern dapat menilai produk melalui kombinasi antara pengalaman terhadap produk dan persepsi terhadap merek. Strategi pemasaran perlu menghubungkan kualitas produk dengan nilai yang dianggap penting oleh konsumen.

Peneliti menyimpulkan bahwa brand awareness dan brand trust berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli produk Bata, sedangkan product quality berpengaruh positif tetapi tidak signifikan. Peneliti juga merekomendasikan penelitian lanjutan dengan memasukkan variabel lain agar faktor-faktor yang memengaruhi minat beli dapat dipahami secara lebih menyeluruh.

Profil Penulis

Lisa Ardila Pramesti — Universitas Mercu Buana. Dalam artikel, Pramesti tercatat sebagai penulis sekaligus corresponding author.

Ali Hanafiah — Universitas Mercu Buana.

Sumber Penelitian

Judul: The Influence of Brand Awareness, Product Quality, and Brand Trust on Purchase Intention for Bata Shoes Product
Penulis: Lisa Ardila Pramesti dan Ali Hanafiah
Afiliasi: Universitas Mercu Buana
Jurnal: International Journal of Sustainable Applied Sciences (IJSAS)
Volume: 4, Nomor 8
Tahun: 2026
Halaman: 979–990
DOI: https://doi.org/10.59890/ijsas.v4i8.35
URL jurnal: http://ijsasjournal.my.id/index.php/ijsas

Posting Komentar

0 Komentar