Studi tersebut diterbitkan pada 2026 dalam International Journal of Economic, Finance and Business Statistics (IJEFBS) Vol. 4 No. 4, halaman 563–580, dengan judul “Political Brand Positioning in an Extractive Conflict Region: A Conjoint Analysis of Banyuwangi Voter Preferences Based on the Dual Sustainability Framework.”
Penelitian ini mengambil konteks kawasan sekitar Tambang Emas Tumpang Pitu di Banyuwangi. Aktivitas pertambangan menjadi bagian penting dari dinamika ekonomi lokal, tetapi pada saat yang sama juga berkaitan dengan konflik lahan dan persoalan lingkungan. Kondisi tersebut membuat pilihan politik masyarakat berada di antara dua kebutuhan: memperoleh manfaat ekonomi dalam waktu dekat dan memastikan keberlanjutan lingkungan untuk masa depan.
Lima Faktor yang Membentuk Pilihan Pemilih
Untuk melihat bagaimana pemilih membuat pilihan, peneliti menggunakan pendekatan Full-Profile Rating-Based Conjoint Analysis. Sederhananya, responden tidak hanya ditanya apakah mereka menyukai satu kebijakan tertentu, tetapi diminta menilai kombinasi lengkap berbagai program yang mungkin ditawarkan kandidat.
Sebanyak 100 pemilih terdaftar di Banyuwangi menjadi responden. Sebanyak 60 orang berasal dari wilayah yang secara langsung terpapar konflik pertambangan atau impact zone, khususnya Kecamatan Pesanggaran, sementara 40 responden berasal dari wilayah kontrol, yakni Banyuwangi dan Rogojampi.
Para responden diminta memberikan penilaian 1–9 terhadap 16 profil program politik. Profil tersebut merupakan kombinasi dari lima atribut:
- orientasi program pembangunan;
- strategi ekonomi lokal;
- keberlanjutan dukungan politik;
- komitmen setelah tambang berhenti beroperasi;
- visi untuk generasi mendatang.
Model penelitian menunjukkan tingkat kecocokan yang sangat kuat. Nilai Pearson R mencapai 0,971, sedangkan Kendall's tau-b sebesar 0,862. Artinya, pola penilaian responden memiliki kesesuaian yang tinggi dengan estimasi model.
Visi Generasi Mendatang Jadi Faktor Terpenting
Dari lima atribut yang diuji, visi untuk generasi mendatang menjadi faktor dengan tingkat kepentingan tertinggi, yakni 21,253 persen.
Strategi ekonomi lokal berada di posisi kedua dengan 20,900 persen, disusul keberlanjutan dukungan politik sebesar 20,505 persen, komitmen pascatambang 20,037 persen, dan orientasi program pembangunan 17,304 persen.
Jika dua atribut yang berkaitan langsung dengan keberlanjutan ekologis digabungkan, yaitu visi generasi mendatang dan komitmen pascatambang, kontribusinya mencapai 41,290 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dua atribut yang berorientasi pada keberlanjutan elektoral, yakni keberlanjutan dukungan politik dan orientasi pembangunan, yang secara keseluruhan mencapai 37,809 persen.
Hasil ini menantang anggapan bahwa pemilih di wilayah pertambangan selalu lebih mengutamakan keuntungan ekonomi jangka pendek.
Ekspansi Tambang Justru Paling Ditolak
Temuan lain yang menonjol adalah penolakan terhadap strategi ekonomi yang mengandalkan ekspansi pertambangan secara intensif.
Level intensive-extractive, yang menggambarkan perluasan Tambang Tumpang Pitu untuk mengejar pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja, memperoleh nilai part-worth utility -0,429. Ini merupakan nilai negatif paling besar di antara seluruh level kebijakan yang diuji.
Sebaliknya, green diversification atau diversifikasi ekonomi hijau memperoleh nilai positif +0,261 secara keseluruhan. Pilihan ini mencakup pengembangan pariwisata, pertanian organik, dan energi terbarukan.
Namun, pemilih juga tidak sepenuhnya menyukai kebijakan yang terlalu ekstrem. Pada orientasi pembangunan, misalnya, pilihan balanced yang menggabungkan program jangka pendek dan investasi jangka menengah memperoleh nilai tertinggi +0,098. Pilihan quick-wins dan investasi jangka panjang justru memperoleh nilai negatif.
Pola serupa terlihat pada visi generasi mendatang. Pilihan balanced memperoleh nilai +0,235, lebih tinggi dibandingkan visi visionary sebesar +0,160.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemilih cenderung mencari jalan tengah antara kebutuhan ekonomi saat ini dan perlindungan masa depan, bukan memilih salah satu secara ekstrem.
Pemilih di Dekat Tambang Lebih Pragmatis
Perbedaan menarik muncul ketika pemilih dibagi berdasarkan kedekatan dengan wilayah konflik pertambangan.
Pemilih di wilayah kontrol menunjukkan preferensi lingkungan yang lebih kuat. Mereka memberikan nilai +0,409 untuk diversifikasi ekonomi hijau, dibandingkan +0,162 di wilayah terdampak.
Perbedaan juga terlihat pada komitmen pascatambang. Pemilih di wilayah kontrol memberikan nilai +0,378 untuk pendekatan transformatif yang mencakup rehabilitasi, pelatihan, dan kompensasi. Di wilayah terdampak, nilai untuk pilihan yang sama hanya +0,017.
Sebaliknya, pemilih di wilayah terdampak lebih menerima pendekatan controlled-extractive, yaitu pertambangan yang tetap berjalan tetapi berada di bawah pengawasan ketat dan disertai kompensasi. Nilainya mencapai +0,203, dibandingkan +0,116 di wilayah kontrol.
Menurut temuan Saputra dan rekan-rekannya, kedekatan dengan konflik tidak otomatis membuat masyarakat menjadi lebih radikal dalam tuntutan ekologis. Pengalaman langsung dengan aktivitas pertambangan justru membuat mereka lebih mempertimbangkan risiko terhadap mata pencaharian.
Dengan kata lain, masyarakat terdampak tetap menginginkan transisi menuju ekonomi hijau, tetapi menghendaki proses yang realistis dan tidak mengorbankan sumber penghasilan mereka secara tiba-tiba.
Partisipasi Warga Menjadi Titik Temu
Ada dua preferensi yang relatif sama antara wilayah terdampak dan wilayah kontrol. Keduanya memilih orientasi pembangunan balanced dan pendekatan dukungan politik participatory.
Pendekatan partisipatif memperoleh nilai +0,227 secara keseluruhan. Pilihan ini mengutamakan keterlibatan warga dalam menentukan prioritas pembangunan dan pengambilan keputusan.
Sementara itu, model politik patronase berbasis bantuan langsung dan kedekatan personal hanya memperoleh nilai -0,072. Pola ini menunjukkan bahwa pemilih tidak hanya mempertimbangkan apa yang diberikan kandidat, tetapi juga bagaimana masyarakat dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Implikasi bagi Strategi Politik dan Kebijakan
Priangga Eko Saputra dan tim menyimpulkan bahwa strategi politik di kawasan pertambangan tidak dapat menggunakan satu pendekatan yang sama untuk seluruh pemilih.
Di wilayah terdampak langsung, kandidat lebih tepat menawarkan transisi bertahap, pengawasan pertambangan yang ketat, rehabilitasi pascatambang yang konkret, kompensasi, dan perlindungan mata pencaharian.
Sementara itu, wilayah yang tidak bergantung langsung pada pertambangan memberikan ruang lebih besar bagi agenda diversifikasi ekonomi hijau, rehabilitasi transformatif, dan visi jangka panjang.
Bagi pemerintah daerah dan lembaga penyelenggara pemilu, hasil tersebut juga dapat menjadi masukan untuk mendorong perdebatan politik yang lebih berbasis substansi program. Peneliti bahkan mengusulkan penggunaan Dual Sustainability Scale sebagai instrumen untuk menilai komitmen kandidat terhadap kebutuhan ekonomi sekaligus keberlanjutan lingkungan.
Secara lebih luas, penelitian ini menunjukkan bahwa politik di daerah kaya sumber daya alam tidak harus terjebak pada pertukaran sederhana antara lapangan kerja dan lingkungan. Pemilih Banyuwangi menunjukkan bahwa kesejahteraan ekonomi saat ini dan kepentingan generasi mendatang dapat dipertimbangkan secara bersamaan.
Profil Penulis
Priangga Eko Saputra, Heri Pratikto, Ita Prihatining Wilujeng, dan Naufal Dzakwana Muhammad merupakan peneliti dari Universitas Negeri Malang. Kajian mereka dalam artikel ini berada pada persinggungan antara pemasaran politik, preferensi pemilih, keberlanjutan, konflik sumber daya alam, dan strategi ekonomi di wilayah pertambangan.
Sumber Penelitian
Saputra, P. E., Pratikto, H., Wilujeng, I. P., & Muhammad, N. D. (2026). Political Brand Positioning in an Extractive Conflict Region: A Conjoint Analysis of Banyuwangi Voter Preferences Based on the Dual Sustainability Framework. International Journal of Economic, Finance and Business Statistics (IJEFBS), 4(4), 563–580.
DOI: 10.59890/ijefbs.v4i4.31.
URL: http://journalijefbs.my.id/index.php/ijefbs
0 Komentar