Negosiasi Dharma Antar Generasi dan Rekonstruksi Identitas Etis Hindu dalam Lingkungan Sosial yang Berubah dengan Cepat

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Denpasar - Umat Hindu Bali Menjaga Identitas Etis Melalui Negosiasi Lintas Generasi di Era Modern. Temuan ini diungkapkan dalam riset I Made Wiguna Yasa, I Wayan Darna, dan Luh Dewi Pusparini dari Universitas Negeri Hindu I Gusti Bagus Sugriwa dalam artikel agama yang dipublikasikan pada Indonesian Journal of Christian Education and Theology (IJCET) edisi Vol. 5 No. 3 Tahun 2026 menyoroti bahwa tradisi lokal dan nilai-nilai keagamaan tidak harus punah atau dipertahankan secara kaku, melainkan dapat terus hidup melalui penyesuaian yang adaptif tanpa mengorbankan prinsip dasarnya.

Tantangan Modernisasi Terhadap Tradisi Pertanian dan Budaya Lokal

Perubahan sosial yang berlangsung cepat akibat globalisasi, digitalisasi, perkembangan pariwisata, dan modernisasi telah mengubah pola hidup masyarakat dunia, termasuk komunitas Hindu di Bali. Generasi muda saat ini terpapar oleh berbagai arus informasi dan kesibukan baru, seperti pendidikan tinggi, dunia kerja modern, dan mobilitas yang tinggi. Kondisi ini sering kali menimbulkan tantangan dalam menjalankan kewajiban tradisi dan keagamaan secara penuh seperti yang dilakukan generasi sebelumnyaDharma yang berfungsi sebagai kerangka etika, panduan moral, dan tanggung jawab sosial dalam agama Hindu kini dihadapkan pada realitas kehidupan modern. Penyelarasan antara kewajiban adat dan tuntutan kehidupan modern menjadi isu sosial dan budaya yang sangat relevan untuk menjaga keharmonisan keluarga serta kelestarian budaya.

Sederhana dan Fleksibel: Metode Penelitian Lintas Generasi
Untuk memahami bagaimana nilai-nilai etika dipelihara, para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif constructivist grounded theory. Pendekatan ini berfokus pada pemahaman proses sosial yang berkembang secara nyata di masyarakatPengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah (FGD), pengamatan langsung, dan analisis dokumen. Sebanyak 28 informan di Bali dilibatkan dalam penelitian ini, yang terbagi dalam empat kelompok representatif:

  • Generasi Muda (18–30 tahun): 10 orang.
  • Generasi Dewasa (31–59 tahun): 8 orang.
  • Generasi Tua (60 tahun ke atas): 6 orang.
  • Tokoh Agama dan Adat: 4 orang.
Melalui analisis data yang sistematis, para peneliti membandingkan pandangan antar-generasi untuk memetakan bagaimana pemaknaan Dharma diturunkan dan disesuaikan.

Tiga Pilar Utama Hasil Penelitian
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi identitas etis Hindu tidak terjadi melalui penolakan tradisi maupun pemaksaan praktik yang kaku, melainkan melalui tiga mekanisme utama:
  • Retensi Selektif (Selective Retention): Masyarakat tetap mempertahankan nilai-nilai inti Dharma yang dianggap mendasar, seperti kejujuran, tanggung jawab, rasa hormat kepada orang tua, dan kepedulian sosial. Prinsip-prinsip ini tidak berubah meskipun bentuk pelaksanaan ritualnya dapat disesuaikan.
  • Reinterpretasi (Reinterpretation): Generasi muda cenderung mengedepankan pemahaman makna etis di balik suatu tradisi daripada sekadar kepatuhan tanpa alasan. Mereka menekankan bagaimana nilai Dharma diterapkan dalam perilaku sehari-hari, seperti bertindak adil dan bertanggung jawab di tempat kerja maupun lingkungan sosial.
  • Adaptasi (Adaptation): Pelaksanaan kewajiban keagamaan disesuaikan dengan situasi kehidupan modern. Ketika kesibukan kerja atau studi menghalangi partisipasi fisik penuh dalam seluruh rangkaian upacara, masyarakat menemukan cara alternatif untuk tetap menunaikan tanggung jawab etis mereka.
Proses negosiasi lintas generasi ini menghubungkan tradisi masa lalu dengan realitas masa kini, menciptakan kontinuitas budaya yang bersifat dinamis.

Dampak Nyata Bagi Masyarakat dan Kebijakan Publik
Temuan ini memberikan kontribusi nyata bagi keluarga, lembaga adat, pendidik, dan pembuat kebijakan. Penelitian ini menegaskan bahwa perbedaan pandangan antar-generasi bukanlah bentuk kemunduran iman atau perpecahan budaya, melainkan dialog alami untuk menjaga relevansi tradisiLembaga keagamaan dan pendidikan dapat memanfaatkan hasil kajian ini untuk merancang dialog interaktif yang menjelaskan alasan filosofis di balik suatu ajaran, bukan hanya memaksakan aturan. Selain itu, dunia kerja dan pengambil kebijakan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung fleksibilitas bagi masyarakat dalam menjalankan tanggung jawab adat dan profesional secara seimbang.

Profil Penulis
I Made Wiguna Yasa, M.Pd.: Penulis korespondensi dan peneliti di Universitas Negeri Hindu I Gusti Bagus Sugriwa, berfokus pada bidang pendidikan agama Hindu dan sosiologi agama.
Dr. I Wayan Darna: Dosen dan peneliti di Universitas Negeri Hindu I Gusti Bagus Sugriwa, berpengalaman dalam kajian hukum adat, etika komunitas, dan dinamika sosial-budaya.
Luh Dewi Pusparini, M.Pd.: Akademisi dan peneliti di Universitas Negeri Hindu I Gusti Bagus Sugriwa, menaruh perhatian pada bidang pedagogi keagamaan dan studi antar-generasi.

Sumber Penelitian
I Made Wiguna Yasa, I Wayan Darna, Luh Dewi Pusparini. Intergenerational Dharma Negotiation and Hindu Ethical Identity Reconstruction in Rapidly Transforming Social Environments. Indonesian Journal of Christian Education and Theology (IJCET). Vol. 5, No. 3, Agustus 2026 (Hal. 341–354)
DOI / URL: https://doi.org/10.55927/ijcet.v5i3.38
URL: https://journalijcet.my.id/index.php/ijce/Index

Posting Komentar

0 Komentar