Kemudahan dan Manfaat QRIS Mendorong Niat Warga Singkawang Menggunakan Pembayaran Digital


Created by AI

FORMOSA NEWS - Penggunaan QRIS terus berkembang di Indonesia, tetapi pertumbuhan jumlah pengguna tidak hanya ditentukan oleh tersedianya teknologi pembayaran digital. Bagi masyarakat, kemudahan saat melakukan transaksi dan manfaat yang dirasakan menjadi faktor penting yang mendorong keinginan untuk terus menggunakan QRIS. Temuan tersebut terlihat dalam penelitian Priyasha Haryanti, Muhammad Ebuziyya Alif Ramadhan, dan Sukardi dari Faculty of Economics and Business, Universitas Muhammadiyah Pontianak, yang diterbitkan pada 2026.

Penelitian tersebut menganalisis hubungan antara Perceived Ease of Use atau persepsi kemudahan penggunaan, Perceived Usefulness atau persepsi manfaat, dan Intention to Use QRIS pada masyarakat Kota Singkawang. Sebanyak 100 warga Singkawang yang telah menggunakan QRIS lebih dari tiga kali menjadi responden penelitian.

Hasil analisis menunjukkan bahwa persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi manfaat sama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat menggunakan QRIS. Secara bersama-sama, kedua faktor tersebut menjelaskan 45,6% variasi niat penggunaan QRIS.

Penggunaan QRIS Terus Meluas

Perkembangan QRIS menjadi bagian dari perubahan pola pembayaran masyarakat dari transaksi tunai menuju transaksi digital. Berdasarkan data yang dikutip dalam artikel, volume transaksi QRIS meningkat dari 66 juta transaksi pada kuartal pertama 2022 menjadi 1,847 miliar transaksi pada akhir 2025.

Nilai transaksinya juga mengalami peningkatan tajam, dari sekitar Rp12 triliun pada akhir 2022 menjadi Rp170 triliun pada akhir 2025. Pada periode yang sama, jumlah pengguna QRIS meningkat dari 29 juta menjadi 60 juta pengguna.

Pertumbuhan tersebut juga terlihat di Kalimantan Barat. Jumlah pengguna QRIS tercatat sebanyak 648.535 pengguna pada 2023, kemudian meningkat menjadi 716.677 pengguna pada 2024 atau tumbuh 10,51%. Pada 2025, jumlah tersebut kembali meningkat menjadi 756.790 pengguna, naik 5,60% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan pengguna tersebut menunjukkan semakin luasnya penerimaan QRIS sebagai metode pembayaran. Namun, jumlah pengguna belum sepenuhnya menggambarkan bagaimana masyarakat menilai pengalaman mereka ketika menggunakan sistem pembayaran digital.

Kemudahan Menjadi Faktor Penting

Dalam transaksi sehari-hari, QRIS menawarkan proses pembayaran yang relatif sederhana karena satu kode dapat digunakan melalui berbagai aplikasi pembayaran. Namun, pengguna tetap dapat menghadapi sejumlah kendala, seperti kegagalan pemindaian, aplikasi yang lambat, proses verifikasi PIN, maupun ketergantungan pada koneksi internet.

Kondisi tersebut berkaitan dengan persepsi kemudahan penggunaan. Dalam konteks penelitian ini, kemudahan mencakup kemampuan pengguna untuk mempelajari dan mengoperasikan teknologi, dukungan teknis, serta ketersediaan sumber daya yang diperlukan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin mudah QRIS dipahami dan digunakan, semakin kuat pula niat masyarakat untuk menggunakannya.

Analisis regresi menghasilkan koefisien 0,334 untuk Perceived Ease of Use. Pengujian statistik menghasilkan nilai t sebesar 5,018 dengan signifikansi kurang dari 0,001. Hasil tersebut menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan.

Nilai beta terstandar sebesar 0,419 juga menunjukkan bahwa persepsi kemudahan memberikan kontribusi relatif lebih kuat terhadap niat penggunaan dibandingkan persepsi manfaat dalam model penelitian tersebut.

Dengan kata lain, sistem pembayaran digital tidak cukup hanya memiliki banyak fitur. Pengguna juga membutuhkan proses yang mudah dipahami, mudah dipelajari, dan tidak membutuhkan usaha berlebihan.

Manfaat Praktis Mendorong Penggunaan

Selain kemudahan, masyarakat juga mempertimbangkan seberapa besar manfaat yang mereka dapatkan dari penggunaan QRIS.

QRIS dapat membantu mempercepat pembayaran, meningkatkan efisiensi transaksi, mempermudah pencatatan, mengurangi kebutuhan uang kembalian, serta mengurangi risiko menerima uang palsu. Namun, manfaat tersebut dapat berkurang ketika pengguna mengalami gangguan sistem atau ketika tidak semua merchant menyediakan QRIS.

Penelitian menunjukkan bahwa persepsi manfaat memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap niat penggunaan QRIS. Koefisien regresinya mencapai 0,282, sedangkan nilai t sebesar 4,519 dengan signifikansi kurang dari 0,001.

Nilai beta terstandar sebesar 0,377 menunjukkan bahwa manfaat yang dirasakan menjadi pertimbangan penting dalam penerimaan QRIS.

Temuan ini memperlihatkan bahwa masyarakat cenderung memiliki niat penggunaan yang lebih tinggi ketika QRIS dianggap benar-benar membantu aktivitas pembayaran sehari-hari, bukan sekadar menjadi alternatif teknologi baru.

Dua Faktor Menjelaskan 45,6% Niat Penggunaan

Ketika Perceived Ease of Use dan Perceived Usefulness dianalisis secara bersamaan, keduanya menunjukkan hubungan yang kuat dengan Intention to Use.

Koefisien korelasi ganda mencapai 0,676, yang dalam artikel dikategorikan sebagai hubungan kuat. Sementara itu, nilai koefisien determinasi atau R² sebesar 0,456 menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut mampu menjelaskan 45,6% variasi niat penggunaan QRIS.

Artinya, masih terdapat 54,4% faktor lain yang dapat memengaruhi niat masyarakat menggunakan QRIS dan tidak masuk dalam model penelitian.

Pengujian simultan memperkuat hasil tersebut. Nilai F sebesar 40,707 dengan signifikansi kurang dari 0,001 menunjukkan bahwa Perceived Ease of Use dan Perceived Usefulness secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Intention to Use QRIS.

Persamaan regresi yang diperoleh adalah:

Y = 1,669 + 0,334X1 + 0,282X2

Persamaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan persepsi kemudahan dan manfaat berkaitan dengan peningkatan niat penggunaan QRIS.

Implikasi bagi Ekosistem Pembayaran Digital

Temuan penelitian memberikan gambaran bahwa keberlanjutan penggunaan QRIS tidak hanya bergantung pada perluasan jumlah pengguna, tetapi juga pada kualitas pengalaman ketika transaksi dilakukan.

Penyedia layanan pembayaran, perbankan, merchant, dan pihak lain dalam ekosistem QRIS perlu menjaga agar proses transaksi tetap sederhana dan mudah dipahami. Keandalan sistem dan kecepatan transaksi juga menjadi aspek penting agar manfaat QRIS dapat dirasakan secara konsisten.

Edukasi pengguna menjadi bagian lain yang perlu diperhatikan, terutama bagi masyarakat yang belum terlalu terbiasa menggunakan teknologi pembayaran digital. Instruksi yang jelas dan edukasi praktis dapat membantu mengurangi hambatan ketika pengguna mulai menggunakan QRIS.

Perluasan merchant yang menerima QRIS juga penting. Semakin banyak tempat yang menerima QRIS, semakin besar peluang masyarakat merasakan manfaatnya dalam berbagai aktivitas sehari-hari.

Masih Ada Faktor Lain yang Perlu Dikaji

Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya melibatkan 100 pengguna QRIS di Kota Singkawang. Selain itu, nilai R² sebesar 45,6% menunjukkan bahwa lebih dari separuh variasi niat penggunaan belum dapat dijelaskan oleh dua variabel yang diteliti.

Para peneliti merekomendasikan agar penelitian berikutnya mempertimbangkan faktor lain, seperti keamanan, kepercayaan, persepsi risiko, pengaruh sosial, kebiasaan, literasi digital, kualitas layanan, dan ketersediaan fasilitas pembayaran.

Penelitian mendatang juga dapat memperluas wilayah dan jumlah responden sehingga karakteristik pengguna QRIS yang dianalisis menjadi lebih beragam. Pendekatan kualitatif atau metode campuran juga dinilai dapat membantu menjelaskan alasan masyarakat mempertahankan atau meningkatkan penggunaan QRIS.

Profil Penulis

Artikel ini ditulis oleh Priyasha Haryanti, Muhammad Ebuziyya Alif Ramadhan, dan Sukardi dari Faculty of Economics and Business, Universitas Muhammadiyah Pontianak. Priyasha Haryanti tercatat sebagai corresponding author.

Artikel berfokus pada penerimaan teknologi pembayaran digital dengan melihat bagaimana persepsi kemudahan dan manfaat memengaruhi niat masyarakat menggunakan QRIS, khususnya di Kota Singkawang.

Metadata Artikel

Judul: The Effect of Perceived Ease of Use and Perceived Usefulness on Intention to Use QRIS Among Residents of Singkawang City
Penulis: Priyasha Haryanti, Muhammad Ebuziyya Alif Ramadhan, Sukardi
Afiliasi: Faculty of Economics and Business, Universitas Muhammadiyah Pontianak
Jurnal: International Journal of Management and Business Intelligence (IJMBI)
Volume: 4, Nomor 4
Tahun: 2026
Halaman: 1117–1130
ISSN-E: 3025-5589
DOI: 10.59890/ijmbi.v4i4.39

Sumber: International Journal of Management and Business Intelligence (IJMBI).

Posting Komentar

0 Komentar