Model Pengembangan UMKM Berbasis Industri 5.0 Dinilai Dapat Memperkuat Ekonomi Daerah

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Dumai - Integrasi teknologi digital, peningkatan kemampuan sumber daya manusia, kolaborasi antar-pemangku kepentingan, dan orientasi keberlanjutan menjadi unsur penting dalam pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis Industri 5.0. Hal tersebut dilaporkan dalam penelitian Novelma Lastri, Variza Aditiya, Dwi Hartutik, Said Mustafa, dan Refdi dari STIA Lancang Kuning Dumai, yang diterbitkan pada 2026 dalam Formosa Journal of Science and Technology (FJST). Studi ini penting karena menunjukkan bahwa teknologi saja tidak cukup untuk meningkatkan kinerja UMKM tanpa dukungan kemampuan manusia dan ekosistem bisnis yang saling terhubung.

UMKM Besar di Dalam Negeri, tetapi Masih Menghadapi Tantangan Ekspansi

UMKM memiliki posisi penting dalam perekonomian Indonesia karena berperan dalam menciptakan lapangan kerja, mendorong produksi lokal, dan memperluas distribusi pendapatan masyarakat. Artikel tersebut mencatat bahwa UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap produk domestik bruto Indonesia, tetapi kontribusinya terhadap ekspor nasional masih sekitar 15,7 persen.

Di sisi lain, penggunaan teknologi digital terus berkembang. Hingga semester pertama 2025, QRIS telah digunakan oleh sekitar 39,3 juta pedagang dan mayoritas di antaranya merupakan UMKM. Namun, para peneliti menekankan bahwa digitalisasi tidak cukup jika hanya sebatas penggunaan aplikasi.

Dalam konsep Industri 5.0, teknologi diposisikan sebagai alat yang mendukung manusia, kreativitas, keberlanjutan, ketahanan bisnis, dan kesejahteraan. Karena itu, transformasi UMKM perlu mencakup perubahan dalam pengelolaan usaha, pemasaran, keuangan, produksi, pengambilan keputusan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Melibatkan 15 Informan dari Ekosistem UMKM

Lastri dan tim menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif. Sebanyak 15 informan dilibatkan, terdiri atas delapan pelaku UMKM, tiga perwakilan pemerintah daerah, dua akademisi, dan dua pendamping usaha.

Para peneliti mengumpulkan informasi melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Wawancara berlangsung sekitar 45–60 menit dan membahas penggunaan teknologi, kemampuan sumber daya manusia, kolaborasi ekosistem, perubahan kinerja usaha, serta kontribusi UMKM terhadap aktivitas ekonomi lokal.

Data kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik untuk menemukan pola hubungan antara teknologi, kemampuan manusia, kolaborasi, keberlanjutan, dan kinerja bisnis. Penelitian juga menggunakan triangulasi sumber dan teknik untuk memperkuat kredibilitas data.

Lima Temuan Utama Penelitian

Analisis penelitian menghasilkan lima tema utama dalam pengembangan UMKM berbasis Industri 5.0.

Pertama, adopsi teknologi berlangsung secara bertahap. Sebanyak 13 dari 15 informan mengonfirmasi penggunaan teknologi seperti pembayaran digital, media sosial, marketplace, aplikasi pencatatan, dan dalam beberapa kasus kecerdasan buatan generatif. Teknologi yang paling umum digunakan adalah QRIS, WhatsApp Business, media sosial, dan marketplace.

Kedua, kemampuan manusia menentukan manfaat teknologi. Sebanyak 14 informan menilai literasi digital dan kemampuan manajerial menentukan seberapa jauh teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan bisnis. Pelaku usaha yang mampu membaca data penjualan, menghitung biaya, dan memahami perilaku konsumen memperoleh manfaat yang lebih besar dibandingkan mereka yang hanya menggunakan teknologi untuk transaksi atau promosi.

Ketiga, kolaborasi ekosistem belum sepenuhnya terintegrasi. Sebanyak 12 informan mengakui bahwa berbagai pelatihan dan program pendampingan telah tersedia. Namun, pelatihan lanjutan dan koordinasi antarprogram masih terbatas.

Keempat, integrasi teknologi dan kompetensi dapat meningkatkan inovasi serta produktivitas. Sebelas informan melaporkan perubahan seperti waktu administrasi yang lebih singkat, promosi yang lebih cepat, dan kemampuan mengembangkan produk secara lebih adaptif.

Kelima, teknologi membuka peluang perluasan pasar. Sepuluh informan melihat peningkatan jangkauan pasar dan keterlibatan yang lebih besar dari pekerja serta pemasok lokal.

Teknologi Tidak Otomatis Meningkatkan Kinerja UMKM

Salah satu temuan utama penelitian adalah bahwa penggunaan teknologi tidak secara otomatis menghasilkan peningkatan kinerja usaha.

Para peneliti menemukan bahwa teknologi memberikan manfaat lebih besar ketika didukung oleh kemampuan sumber daya manusia dan kolaborasi yang berkelanjutan. Pelatihan yang hanya memperkenalkan aplikasi dinilai memiliki dampak terbatas jika tidak disertai latihan pemecahan masalah dan pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing usaha.

Dalam penelitian ini, beberapa pelaku UMKM menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu membuat desain promosi, deskripsi produk, dan alternatif desain kemasan. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan pemilik usaha karena hasil teknologi perlu disesuaikan dengan karakter pelanggan dan pasar lokal.

Penelitian juga menunjukkan bahwa aplikasi yang sederhana dan mudah digunakan cenderung dipakai secara lebih konsisten dibandingkan sistem yang terlalu kompleks.

Digitalisasi Mempercepat Administrasi dan Promosi

Integrasi teknologi dengan peningkatan kemampuan pelaku usaha menghasilkan sejumlah perubahan praktis. Enam pelaku UMKM melaporkan berkurangnya waktu pencatatan dan rekapitulasi transaksi, sementara lima pelaku usaha menyatakan proses pembuatan konten promosi menjadi lebih cepat.

Dokumentasi simulasi bisnis dalam artikel menunjukkan bahwa penggunaan pencatatan digital dapat mengurangi waktu rekapitulasi mingguan dari sekitar tiga hingga empat jam menjadi satu hingga dua jam.

Namun, peningkatan pesanan melalui promosi digital juga dapat menimbulkan masalah apabila kapasitas produksi, persediaan, tenaga kerja, dan pengendalian kualitas tidak ikut diperkuat. Karena itu, transformasi digital perlu diterapkan secara menyeluruh, bukan hanya pada kegiatan pemasaran.

Pasar yang Lebih Luas Berpotensi Menggerakkan Ekonomi Lokal

Enam dari delapan pelaku UMKM dalam penelitian menyatakan teknologi digital membantu memperluas pasar hingga ke luar wilayah kecamatan atau kabupaten. Media sosial dan marketplace memungkinkan produk ditemukan oleh konsumen baru, sementara pembayaran digital mempermudah transaksi.

Pertumbuhan usaha juga dikaitkan dengan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja dan pembelian bahan baku dari pemasok lokal. Beberapa pelaku usaha menambah pekerja tidak tetap untuk kegiatan produksi dan pengemasan.

Meski demikian, para peneliti memberikan catatan penting: temuan tersebut belum dapat digunakan untuk menyatakan bahwa terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah secara makro. Data penelitian hanya menunjukkan indikasi pada tingkat mikro dan ekosistem lokal, seperti peningkatan transaksi, perluasan pasar, peluang kerja, dan permintaan terhadap bahan baku lokal.

Pendampingan Berkelanjutan Dinilai Lebih Penting daripada Pelatihan Sekali Jalan

Model yang dikembangkan Lastri dan rekan-rekannya menempatkan adopsi teknologi, kemampuan sumber daya manusia, kolaborasi pemangku kepentingan, dan orientasi keberlanjutan sebagai empat komponen utama.

Pemerintah daerah, akademisi, lembaga keuangan, perusahaan teknologi, komunitas bisnis, dan pendamping usaha dinilai memiliki peran yang saling melengkapi. Kolaborasi tersebut dapat menyediakan pelatihan, pendampingan, akses pembiayaan, legalitas, infrastruktur, dan akses pasar.

Implikasi praktisnya, program pengembangan UMKM sebaiknya tidak hanya diukur berdasarkan jumlah pelatihan atau peserta. Evaluasi perlu melihat perubahan nyata dalam kemampuan administrasi, produktivitas, pasar, dan keberlanjutan bisnis.

Para peneliti juga menyarankan agar teknologi yang diberikan disesuaikan dengan tingkat kesiapan digital masing-masing UMKM. Usaha yang baru memulai digitalisasi membutuhkan teknologi sederhana dan mudah digunakan, sedangkan UMKM yang lebih siap dapat mulai memanfaatkan analisis data, otomatisasi, kecerdasan buatan, dan inovasi model bisnis.

Catatan Penting: Data Hasil Masih Disebut sebagai Simulasi

Artikel ini juga memuat keterbatasan penting yang perlu diperhatikan pembaca. Penulis menyatakan bahwa penelitian melibatkan hanya 15 informan dalam satu ekosistem regional sehingga hasilnya bersifat kontekstual dan tidak dapat digeneralisasikan secara statistik.

Lebih penting lagi, artikel menyebutkan bahwa data hasil dalam naskah kerja masih ditandai sebagai simulasi sehingga belum dapat diperlakukan sebagai bukti empiris untuk publikasi. Para penulis merekomendasikan penelitian lanjutan menggunakan data lapangan yang terverifikasi, melibatkan lebih banyak wilayah dan sektor UMKM, serta menggunakan pendekatan campuran dan pengamatan jangka panjang.

Profil Singkat Penulis

Penelitian ini ditulis oleh Novelma Lastri sebagai penulis korespondensi bersama Variza Aditiya, Dwi Hartutik, Said Mustafa, dan Refdi. Berdasarkan metadata artikel, para penulis berafiliasi dengan STIA Lancang Kuning Dumai. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik lengkap maupun bidang keahlian individual setiap penulis secara rinci, sehingga informasi tersebut tidak dapat ditambahkan tanpa sumber tambahan.

Sumber Penelitian

Judul: Industry 5.0-Based MSMEs Development Model to Increase Regional Economic Growth
Penulis: Novelma Lastri, Variza Aditiya, Dwi Hartutik, Said Mustafa, dan Refdi
Jurnal: Formosa Journal of Science and Technology (FJST)
Volume dan Nomor: Vol. 5, No. 8
Tahun: 2026
Halaman: 2097–2114

Posting Komentar

0 Komentar