Metode Inventarisasi Matematika Pangkas Biaya Operasional Usaha Jus Pala di Maluku Hingga 80 Persen


Ilusrasi by AI 

Usaha mikro pengolahan hasil pertanian di daerah kepulauan dapat memangkas biaya operasional dan mencegah kelangkaan bahan baku dengan mengalihkan pola pembelian tradisional ke sistem manajemen persediaan berbasis matematika. Peneliti Rahmatia Lilisula, Stephen F.W. Thenu, dan Weldemina B. Parera dari Universitas Pattimura melakukan analisis manajemen persediaan bahan baku pada produsen jus pala UD Tomasiwa di Desa Morella, Kabupaten Maluku Tengah. Studi yang dipublikasikan pada Agustus 2026 ini membuktikan bahwa penerapan metode Economic Order Quantity (EOQ) mampu menurunkan total biaya persediaan bahan baku usaha hingga lebih dari 80 persen sekaligus menjamin kelancaran proses produksi.

Konteks Ekonomi dan Pengembangan UMKM

Jus pala merupakan salah satu produk olahan bernilai tambah dari daging buah pala yang menjadi komoditas unggulan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Provinsi Maluku. Meskipun memiliki potensi pasar yang luas hingga ke tingkat nasional, sebagian besar pelaku usaha mikro masih mengandalkan perkiraan intuitif dan kebiasaan harian dalam membeli bahan baku. Praktik pembelian yang tidak terukur ini sering kali memicu pembengkakan biaya penyimpanan, ketidakstabilan pasokan, hingga penghentian aktivitas produksi akibat kehabisan kemasan atau bahan utama. Penguatan manajemen operasional berbasis data menjadi langkah strategis bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk meningkatkan daya saing industri olahan pangan lokal.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed-methods) yang menggabungkan analisis kualitatif karakteristik usaha dengan pemodelan kuantitatif persediaan bahan baku. Data primer diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara terstruktur dengan pengelola UD Tomasiwa di Desa Morella. Tim peneliti mengkaji volume pemakaian buah pala, biaya pemesanan, serta biaya penyimpanan harian untuk merumuskan skenario pembelian yang paling efisien. Analisis data menggunakan empat indikator utama manajemen operasi:

  • Economic Order Quantity (EOQ): Menentukan jumlah pemesanan bahan baku yang paling ekonomis dalam satu kali pesan.
  • Safety Stock (SS): Menghitung batas aman persediaan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan atau keterlambatan pasokan.
  • Reorder Point (ROP): Menentukan titik ambang jumlah stok yang menjadi sinyal bagi perusahaan untuk melakukan pemesanan ulang.
  • Total Inventory Cost (TIC): Mengukur keseluruhan biaya persediaan tahunan untuk membandingkan metode konvensional dengan metode EOQ.

Hasil Temuan Utama

Hasil penelitian menunjukkan bahwa UD Tomasiwa membutuhkan rata-rata 2.467 buah pala (setara 74 kilogram daging buah pala) untuk satu kali proses pengolahan, dengan total konsumsi tahunan mencapai 180.800 buah pala. Sebelumnya, perusahaan melakukan pemesanan bahan baku sebanyak 59 kali dalam setahun dengan biaya transportasi Rp50.000 per pesanan dan biaya penyimpanan listrik sebesar Rp4.200.000 per tahun (Rp23 per buah pala).

Penerapan metode EOQ menghasilkan rekomendasi efisiensi sebagai berikut:

  • Jumlah Pemesanan Optimal: Ukuran pemesanan bahan baku yang paling efisien adalah 28.037 buah pala untuk setiap kali pesan.
  • Pengurangan Frekuensi Pesan: Frekuensi pembelian bahan baku dapat dipangkas dari 59 kali menjadi hanya 6 hingga 7 kali dalam setahun.
  • Penyediaan Stok Pengaman: Perusahaan wajib menyimpan stok pengaman (safety stock) sebanyak 19.314 buah pala guna mengantisipasi fluktuasi panen dan lonjakan produksi.
  • Titik Pemesanan Ulang: Pemesanan ulang bahan baku harus segera dilakukan ketika sisa stok di gudang menyentuh angka 19.314 buah pala.
  • Efisiensi Biaya Total: Total biaya persediaan tahunan berdasarkan perhitungan EOQ turun drastis menjadi Rp644.856, dibandingkan dengan biaya konvensional perusahaan yang sebelumnya mencapai Rp3.254.290.

Dampak dan Implikasi Bagi Industri

Temuan ini memberikan bukti konkret bahwa pemodelan inventaris sederhana dapat membantu UMKM perdesaan menghemat modal kerja secara signifikan. Dengan konsolidasi pembelian menjadi 6–7 kali setahun, produsen dapat meminimalisasi biaya transportasi berulang dan mencegah kemacetan jalur produksi. Bagi dinas koperasi, perdagangan, dan pemangku kebijakan daerah, pelatihan teknik inventaris dasar seperti EOQ dapat dijadikan program pembinaan tepat guna untuk meningkatkan ketahanan rantai pasok dan profitabilitas pengolah pangan lokal di Maluku.

Kutipan Akademis

Menjelaskan pentingnya efisiensi persediaan bagi kelangsungan usaha mikro, para peneliti menegaskan:

"Penerapan metode Economic Order Quantity (EOQ) menunjukkan jumlah pemesanan bahan baku yang optimal sebesar 28.037 unit per pesan dengan frekuensi 6 hingga 7 kali per tahun, sehingga mampu meminimalkan risiko kekurangan bahan baku dan menekan total biaya persediaan secara signifikan."

Profil Penulis

  • Rahmatia Lilisula, S.P. adalah peneliti bidang agribisnis di Universitas Pattimura yang fokus pada manajemen operasional UMKM, pengembangan komoditas lokal, dan ekonomi pertanian perdesaan.
  • Stephen F.W. Thenu, M.Si. adalah dosen dan peneliti senior pada Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Pattimura dengan keahlian di bidang manajemen rantai pasok dan ekonomi agribisnis.
  • Weldemina B. Parera, M.Si. adalah akademisi dan peneliti di Universitas Pattimura yang menekuni studi evaluasi usaha pertanian, sistem produksi pangan lokal, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Analysis of Raw Material Inventory Management for Processed Nutmeg Juice Products (Case Study in UD Tomasiwa, Morella Village Leihitu District, Central Maluku Regency)
Nama Jurnal: International Journal of Integrative Sciences (IJIS)
Tahun Publikasi: 2026
DOI : https://doi.org/10.55927/ijis.v5i8.62

Posting Komentar

0 Komentar