Pronunciation menjadi bagian penting dalam komunikasi lisan karena berkaitan langsung dengan keterpahaman pesan. Mahasiswa tidak hanya membutuhkan tata bahasa dan kosakata, tetapi juga kemampuan menghasilkan bahasa Inggris yang dapat dipahami lawan bicara.
Kesalahan pengucapan dapat menghambat komunikasi meskipun seseorang memiliki kemampuan tata bahasa dan kosakata yang cukup. Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam pembelajaran English as a Foreign Language (EFL), terutama karena mahasiswa di sejumlah negara memiliki kesempatan terbatas menggunakan bahasa Inggris di luar lingkungan pendidikan.
Di perguruan tinggi, kebutuhan tersebut semakin besar. Mahasiswa diharapkan mampu menggunakan bahasa Inggris untuk presentasi akademik, diskusi, wawancara, praktik mengajar, hingga komunikasi profesional.
Namun, pronunciation selama ini cenderung mendapat perhatian lebih sedikit dibandingkan tata bahasa, kosakata, membaca, dan aktivitas berbicara secara umum. Pengajar juga dapat menghadapi keterbatasan pengetahuan pronunciation, kepercayaan diri, sumber pembelajaran, serta waktu di kelas.
302 Publikasi Disaring Menjadi 12 Studi
Alifya, Siahaan, dan Solo menggunakan pendekatan systematic literature review (SLR) dengan kerangka PRISMA 2020. Pencarian literatur berlangsung dari Februari hingga Juli 2026 melalui ERIC, Google Scholar, dan penelusuran sitasi.
Dari proses tersebut, peneliti menemukan 302 catatan publikasi. Sebanyak 94 berasal dari ERIC, 200 dari Google Scholar, dan delapan dari penelusuran sitasi.
Setelah enam duplikat dihapus, terdapat 296 publikasi yang masuk tahap penyaringan judul dan abstrak. Sebanyak 258 publikasi dikeluarkan karena tidak memenuhi kriteria. Dari 38 laporan yang tersisa, 24 tidak berhasil diperoleh dalam bentuk teks lengkap.
Sebanyak 14 artikel kemudian diperiksa secara penuh. Dua artikel dikeluarkan karena masing-masing merupakan prosiding konferensi dan tidak dilakukan dalam konteks pendidikan tinggi.
Dengan demikian, 12 artikel jurnal peer-reviewed masuk dalam sintesis akhir.
Studi yang dianalisis berasal dari delapan negara, yaitu Arab Saudi, Taiwan, Indonesia, Vietnam, Thailand, Yordania, Türkiye, dan Ekuador.
Dari sisi metode, penelitian kualitatif mendominasi dengan tujuh studi atau 58,3 persen. Penelitian kuantitatif dan eksperimen/kuasi-eksperimen masing-masing berjumlah dua studi atau 16,7 persen, sedangkan satu studi menggunakan metode campuran.
Enam Pendekatan Pengajaran Pronunciation
Analisis terhadap 12 studi menemukan enam pendekatan utama yang berkembang dalam pengajaran pronunciation di pendidikan tinggi.
1. Pengajaran berbantuan teknologi
Teknologi menjadi salah satu perkembangan paling menonjol. Pendekatan ini mencakup Computer-Assisted Pronunciation Training (CAPT), teknologi informasi dan komunikasi, latihan digital, serta sistem pemberian umpan balik.
Liu dan Hung pada 2016 melaporkan adanya peningkatan performa pronunciation setelah mahasiswa mengikuti pelatihan berbantuan komputer. Temuan tersebut menunjukkan bahwa teknologi dapat memberikan kesempatan latihan berulang dan umpan balik kepada pembelajar.
Namun, Almithqal dan John pada 2024 menekankan bahwa penggunaan teknologi juga bergantung pada kesiapan pengajar, akses teknologi, dan dukungan institusi.
2. Pengajaran eksplisit dan kesadaran fonetik
Pendekatan ini memberikan pengetahuan pronunciation secara langsung, termasuk pengenalan karakteristik bunyi dan representasi fonetik. Pengetahuan fonetik dapat membantu mahasiswa memahami cara menghasilkan bunyi, tetapi manfaatnya akan lebih besar jika diikuti latihan dan penggunaan dalam komunikasi nyata.
3. Pedagogi berbasis kelas
Pendekatan ini menempatkan materi pembelajaran, aktivitas kelas, keputusan pengajar, waktu pembelajaran, dan kondisi lingkungan pendidikan sebagai faktor penting. Dengan demikian, efektivitas pronunciation tidak hanya ditentukan oleh teknik tertentu, tetapi juga oleh bagaimana teknik tersebut diterapkan di kelas.
4. Pengembangan profesional pengajar
Kajian menunjukkan bahwa keyakinan, pengetahuan, pengalaman, dan kepercayaan diri pengajar turut memengaruhi pembelajaran pronunciation. Pengembangan profesional dapat membantu pengajar meningkatkan kemampuan pronunciation sekaligus menentukan strategi pedagogis yang lebih tepat.
5. Pembelajaran berpusat pada mahasiswa
Pendekatan ini memperhatikan keyakinan, pengalaman, keterlibatan, dan strategi belajar mahasiswa. Mahasiswa dipandang sebagai pihak aktif yang turut menentukan perkembangan pronunciation mereka.
Namun, para peneliti mencatat bahwa banyak temuan dalam kategori ini masih mengandalkan laporan diri mahasiswa. Karena itu, penelitian mendatang perlu menghubungkan persepsi mahasiswa dengan pengukuran kemampuan pronunciation secara langsung.
6. Pembelajaran berbasis intervensi
Pendekatan intervensi memberikan latihan terstruktur dan mengukur perubahan kemampuan pronunciation. Selain temuan positif dari CAPT yang dilaporkan Liu dan Hung, Casa Molina dan rekan-rekan pada 2025 juga melaporkan peningkatan setelah penerapan pendekatan intuitive-imitative.
Meski demikian, jumlah penelitian intervensi masih terbatas sehingga efektivitas masing-masing metode belum dapat dibandingkan secara luas.
Penelitian Pronunciation Mulai Bergeser ke Teknologi
Kajian Alifya, Siahaan, dan Solo memperlihatkan perubahan fokus penelitian sepanjang 2015–2025.
Penelitian pada periode awal lebih banyak membahas keyakinan mahasiswa dan pengajar, materi pembelajaran, kurikulum, serta praktik pronunciation di kelas. Sekitar 2019–2021, perhatian berkembang pada pengalaman mahasiswa, strategi belajar, proses pembelajaran, dan pengembangan profesional pengajar.
Pada 2024 dan 2025, penelitian semakin banyak mengarah pada teknologi, sumber daya fonetik, inovasi pembelajaran, serta evaluasi efektivitas pengajaran.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pronunciation kini dipandang sebagai bidang multidimensional. Pengajar, mahasiswa, teknologi, kurikulum, materi pembelajaran, dan hasil belajar saling berhubungan dalam proses pengembangan kemampuan berbicara.
Bukti Jangka Panjang Masih Terbatas
Meskipun perkembangan penelitian cukup luas, kajian ini menemukan sejumlah kesenjangan.
Pertama, penelitian longitudinal dan eksperimen masih terbatas. Dominasi penelitian kualitatif memberikan gambaran mendalam mengenai pengalaman dan praktik pembelajaran, tetapi belum cukup memberikan bukti mengenai perubahan pronunciation dalam jangka panjang.
Kedua, terdapat ketimpangan geografis. Sebagian besar penelitian berasal dari konteks EFL Asia. Negara dan wilayah EFL lainnya masih kurang terwakili.
Ketiga, penelitian masih jarang melakukan perbandingan langsung antarpendekatan. Bukti mengenai keunggulan teknologi-assisted pronunciation instruction dibandingkan pembelajaran konvensional juga masih belum cukup kuat.
Temuan ini membuat rekomendasi penelitian berikutnya menjadi penting. Peneliti disarankan menggunakan sampel yang lebih besar, desain eksperimen terkontrol, penelitian longitudinal, studi komparatif, serta metode campuran.
AI Berpotensi Menjadi Arah Riset Berikutnya
Salah satu arah pengembangan yang disoroti adalah pemanfaatan teknologi digital baru, termasuk umpan balik pronunciation otomatis dan kecerdasan buatan (AI).
Teknologi tersebut berpotensi memberikan kesempatan latihan yang lebih sering dan umpan balik secara cepat. Namun, kajian ini menegaskan bahwa teknologi tetap perlu ditempatkan dalam desain pedagogis yang tepat. Keberadaan teknologi saja tidak otomatis menjamin keberhasilan pembelajaran.
Bagi perguruan tinggi, temuan tersebut menunjukkan pentingnya menggabungkan pelatihan pengajar, sumber belajar, teknologi, dan struktur kurikulum yang menyediakan waktu cukup untuk latihan pronunciation.
Bagi pengajar, pendekatan yang disarankan bukan sekadar mengajarkan teori fonetik. Pengetahuan pronunciation perlu dihubungkan dengan praktik komunikasi yang bermakna agar mahasiswa dapat menggunakan kemampuan tersebut dalam situasi nyata.
Profil Penulis
Cherry Alifya, Leroy Holman Siahaan, dan Lenny Solo merupakan akademisi dari Program Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Panca Sakti Bekasi. Bidang kajian artikel mereka mencakup pengajaran pronunciation dalam konteks EFL pendidikan tinggi, pendekatan pedagogis, teknologi pembelajaran, kompetensi pengajar, strategi belajar mahasiswa, dan efektivitas pembelajaran bahasa Inggris.
Sumber Penelitian
Artikel sumber berjudul “Revisiting Pronunciation Instruction in Tertiary EFL Contexts: A Systematic Literature Review of Studies Published Between 2015 and 2025” karya Cherry Alifya, Leroy Holman Siahaan, dan Lenny Solo.
Artikel tersebut diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH), Vol. 5, No. 3, 2026, halaman 429–440.
DOI: https://doi.org/10.55927/jiph.v5i3.30
Jurnal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH)
0 Komentar