Membuat Lanskap Bisa Diambil: Politik Epistemik dan Ekologi Relasional dalam Jejak Balak karya Ayu Welirang dan Bilangan Fu karya Ayu Utami

Gambar Ilustrasi AI

Riset Sastra Indonesia Ungkap Ekstraksi Alam Berakar dari Dominasi Pengetahuan dan Kewenangan Politik

Sebelum eksploitasi material seperti penebangan hutan atau penambangan batu kapur terjadi, lanskap alam terlebih dahulu diubah secara kognitif dan legal menjadi komoditas yang sah untuk dikeruk. Temuan tersebut diungkap oleh Heru S.P. Saputra dan tim peneliti dari Universitas Jember serta Universitas PGRI Banyuwangi dalam studi yang terbit pada Agustus 2026. Melalui analisis komparatif atas dua novel Indonesia—Jejak Balak karya Ayu Welirang dan Bilangan Fu karya Ayu Utami—penelitian ini membongkar bagaimana mekanisme pengetahuan dan kewenangan politik bekerja mengubah ruang hidup menjadi sumber daya komersial. Hasil studi ini penting karena menawarkan cara pandang baru bagi kebijakan lingkungan: perusakan alam bukan sekadar masalah teknis atau ekonomi, melainkan konflik mendasar tentang bagaimana manusia mendefinisikan dan memperlakukan alam.

Secara mendasar, krisis lingkungan sering kali hanya dilihat dari dampak fisiknya, seperti banjir bandang atau gundulnya hutan. Namun, studi ini menunjukkan bahwa sebelum alat berat bekerja, ada proses saintifik, hukum, dan birokrasi yang memisahkan elemen alam dari fungsi ekologis maupun nilai budayanya. Hutan adat diubah statusnya menjadi "lahan lepasan" atau Hak Guna Usaha (HGU), sedangkan kawasan karst ditransformasikan menjadi konsesi tambang melalui pengodean wilayah.

Untuk membedah fenomena ini, tim peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis teks mendalam (close reading) dan pengodean tematik. Sebanyak 68 unit teks dari kedua novel dianalisis secara teliti. Pendekatan ini menggabungkan studi ekokritik sastra, geografi sumber daya kritis, dan ontologi politik tanpa mengelompokkan pengetahuan secara kaku ke dalam dikotomi "modern versus tradisional".

Riset ini menghasilkan empat temuan utama terkait bagaimana ekstraktivisme dan pengetahuan ekologis beroperasi:

  • Ekstraksi Didahului Legitimasi Kognitif: Penebangan dan penambangan selalu diawali oleh legitimasi administratif, hukum, dan wacana publik yang mengisolasikan alam dari keterikatan sosial serta budayanya.
  • Sifat Pengetahuan yang Fleksibel: Ilmu pengetahuan modern tidak selalu merusak, dan sains lokal tidak selalu melestarikan. Dalam teks yang diteliti, pemantauan teknis dan analisis geologi dapat mendukung konservasi. Sebaliknya, ritual adat atau klaim lokal bisa dikutip dan dimanfaatkan oleh korporasi untuk memuluskan penambangan.
  • Peran Entitas Non-Manusia: Elemen alam seperti batuan karst, aliran air bawah tanah, hingga figur penjaga hutan (Inyiak) hadir dalam narasi sebagai pembentuk pengetahuan dan batasan etis tindakan manusia.
  • Konflik Ontologis: Sengketa lingkungan berubah menjadi konflik ontologis ketika para aktor tidak hanya berdebat soal keuntungan ekonomi, tetapi menolak definisi tentang apa itu alam dan siapa yang berhak mengelolanya.

Dampak dan implikasi dari penelitian ini sangat signifikan bagi masyarakat, pengambil kebijakan, dan akademisi. Studi ini memberikan landasan kritis bahwa perlindungan lingkungan yang efektif memerlukan pengakuan atas hak-hak wilayah adat serta keanekaragaman cara pandang lokal. Kebijakan tata ruang tidak boleh hanya mengandalkan penilaian dokumen teknis tunggal yang rentan dijadikan alat legitimasi ekstraksi. Selain itu, riset ini membuktikan bahwa karya sastra Indonesia memiliki kapasitas teoritis yang kuat untuk merumuskan ulang pemikiran lingkungan global.

Profil Penulis Utama Dr. Heru S.P. Saputra, M.Hum. adalah akademisi dan peneliti di Departemen Sastra Indonesia, Universitas Jember. Beliau memiliki keahlian di bidang sosiologi sastra, ekokritik, dan etnosains. Dalam studi ini, beliau bekerja sama dengan Wiwin Indiarti (Universitas PGRI Banyuwangi), Titik Maslikatin, Edy Hariyadi, L. Dyah Purwita Wardani, dan Ulil Lauhul Mahfudah (Universitas Jember).

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar