Konser Tur Dunia BTS di Netflix Membangun Identitas Kolektif Fandom ARMY Melalui Komunikasi Timbal Balik

Ilustrasi by AI

SURAKARTA – Penayangan konser global melalui platform digital tidak lagi sekadar berfungsi sebagai sarana hiburan media, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang komunikasi interaktif yang membentuk identitas kelompok secara lintas negara. Sebuah studi komunikasi ilmiah pada tahun 2026 yang disusun oleh Desi Anggi Ramadhani, Pawito, dan Andre N. Rahmanto dari Universitas Sebelas Maret, Surakarta, menganalisis bagaimana tayangan film konser BTS THE COMEBACK LIVE | ARIRANG di Netflix berhasil membangun identitas kolektif antara grup musik BTS dan penggemarnya yang dikenal sebagai ARMY melalui proses komunikasi dua arah. Penelitian ini menjadi sangat penting karena membuktikan bahwa konser yang ditayangkan secara internasional melalui saluran media arus utama mampu menciptakan konvergensi simbolik dan rasa memiliki yang mendalam di antara jutaan penonton yang terpisah secara geografis.

Perkembangan media digital yang pesat telah mengubah cara produk budaya dikonsumsi oleh masyarakat global. Dalam industri musik populer Korea atau K-pop, pertunjukan tidak lagi berlangsung sebagai komunikasi satu arah dari penyanyi kepada penonton. Sebaliknya, konser masa kini berfungsi sebagai ekosistem komunikasi tempat nilai-nilai budaya, narasi perjuangan, dan ikatan emosional dinegosiasikan secara bersama-sama. Ketika BTS menggelar konser kembalinya mereka di Lapangan Gwanghwamun, Seoul, dan memancarkannya ke seluruh dunia melalui siaran Netflix, peristiwa tersebut menjadi momen komunikasi budaya tempat simbol lokal bersatu dengan partisipasi penggemar global.

Untuk membedah fenomena tersebut, para peneliti menerapkan teori konvergensi simbolik yang dikembangkan oleh Ernest G. Bormann menggunakan metode analisis tema fantasi. Penelitian kualitatif interpretatif ini mengamati secara mendalam rekaman audiovisual konser, mencakup pidato para anggota grup, respons emosional penonton, nyanyian bersama, simbol visual panggung, penggunaan tongkat lampu ARMY Bomb, hingga penggunaan lagu tradisional Arirang. Melalui pengamatan berulang dan pengodean data, peneliti mengidentifikasi bagaimana narasi yang disampaikan di atas panggung direspons oleh penonton hingga membentuk makna yang disepakati bersama.

Hasil penelitian menemukan tiga tema fantasi utama yang menjadi perekat identitas kelompok dalam konser tersebut. Tema pertama adalah reunifikasi sebagai narasi harapan bersama, di mana kembalinya BTS setelah empat tahun jeda dimaknai bukan sekadar awal promosi album baru, melainkan pemulihan hubungan emosional yang telah lama ditunggu. Tema kedua adalah identitas budaya Korea, yang dihadirkan melalui penggunaan nama Arirang dan latar sejarah Lapangan Gwanghwamun sebagai simbol ketangguhan dan warisan budaya yang diakui bersama oleh penonton lokal maupun internasional. Tema ketiga adalah komunikasi timbal balik berbasis kejujuran dan ketangguhan bersama, di mana para anggota grup secara terbuka mengungkapkan kerentanan serta rasa cemas mereka, yang langsung disambut dengan sorakan dan konfirmasi positif dari puluhan ribu penonton di lokasi maupun pemirsa global.

Interaksi antara narasi panggung dan respons penonton menciptakan rantai fantasi serta petunjuk simbolik seperti sebutan OT7, warna ungu, serta frasa melangkah maju bersama. Proses komunikasi ini menghasilkan sebuah visi retoris yang menyatukan BTS dan ARMY dalam satu pandangan dunia yang sama, yaitu menghadapi ketidakpastian masa depan secara bersama-sama. Penelitian ini membuktikan bahwa identitas kolektif fandom global tidak terbentuk secara pasif dari pesan pencitraan artis, melainkan diciptakan secara aktif melalui dialog, partisipasi simbolik, dan pengalaman emosional yang dibagikan secara bersamaan di media digital.

Dampak dari penelitian ini memberikan kontribusi besar bagi studi komunikasi media, praktisi industri kreatif, dan pengelola acara internasional. Penelitian ini menunjukkan bahwa media siaran digital seperti platform penstriman dapat dimanfaatkan untuk memperkuat komunitas sosial dan diplomasi budaya lintas negara. Pengelola acara dan produser media dapat menerapkan pola komunikasi partisipatif dan terbuka untuk membangun loyalitas audiens yang berkelanjutan di era digital.

Penelitian ini dilakukan oleh Desi Anggi Ramadhani, Pawito, dan Andre N. Rahmanto yang terafiliasi dengan Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Profil Penulis: Desi Anggi Ramadhani, Pawito, Andre N. Rahmanto (Universitas Sebelas Maret, Surakarta)

Sumber Penelitian: 

Judul Artikel: Constructing Collective Identity Through Reciprocal Communication in BTS THE COMEBACK LIVE | ARIRANG: A Fantasy Theme Analysis

Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 9, 2026, hal. 3621-3638 

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i9.271 

Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar