Media Sosial Dorong Promosi Wisata Berbasis Kearifan Lokal di Kota Tidore Kepulauan

Ilustrasi by AI

Tidore – Media sosial semakin berperan dalam memperkenalkan destinasi wisata sekaligus membangun citra pariwisata di Kota Tidore Kepulauan. Temuan tersebut disampaikan Muhammad Taurid Yahya dan Indra Altarans dari Universitas Nuku dalam artikel yang diterbitkan pada 2026 di Indonesian Journal of Tourism and Hospitality Management (WAKATOBI). Kajian ini melihat bagaimana Facebook, Instagram, TikTok, YouTube, dan WhatsApp digunakan untuk mempromosikan destinasi wisata, bagaimana pembuat konten membangun narasi pariwisata, serta bagaimana promosi digital dapat dikaitkan dengan kearifan lokal dan pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Tidore Kepulauan memiliki kekayaan wisata yang tidak hanya berasal dari panorama alam. Warisan Kesultanan Tidore, tradisi masyarakat, kawasan pesisir dan laut, serta sejarah keterkaitan Tidore dengan jalur rempah menjadi bagian penting dari identitas destinasi. Potensi tersebut memberikan peluang besar bagi pengembangan pariwisata, tetapi promosi perlu dilakukan dengan cara yang mampu memperkenalkan daya tarik daerah sekaligus menjaga nilai budaya dan lingkungan.

Perubahan perilaku wisatawan membuat media digital semakin penting dalam komunikasi pariwisata. Wisatawan tidak lagi hanya menerima informasi dari pemerintah atau agen perjalanan. Mereka juga melihat foto, video, ulasan, dan pengalaman orang lain di media sosial sebelum menentukan destinasi yang ingin dikunjungi. Kondisi ini membuat pengalaman pengunjung dapat berubah menjadi materi promosi yang menjangkau calon wisatawan lainnya.

Yahya dan Altarans menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus untuk memahami penggunaan media sosial dalam promosi wisata berbasis kearifan lokal di Tidore Kepulauan. Informasi diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Mereka melibatkan 20 pengunjung Pantai Tugulufa dengan latar belakang usia, pekerjaan, jenis kelamin, dan daerah asal yang beragam. Pengamatan juga dilakukan terhadap konten Instagram, TikTok, dan YouTube yang dipublikasikan pemerintah, pelaku usaha pariwisata, serta pembuat konten.

Hasil kajian menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi salah satu sumber informasi wisata yang penting bagi pengunjung. Foto dan video Pantai Tugulufa yang menampilkan keindahan pantai, fasilitas, aktivitas wisata, serta pemandangan alam membantu membentuk gambaran awal mengenai destinasi. Facebook dan Instagram disebut oleh sejumlah informan sebagai media yang mereka gunakan untuk melihat informasi mengenai Tugulufa.

Namun, media sosial bukan satu-satunya faktor yang membuat seseorang datang ke Tugulufa. Sejumlah pengunjung mengenal destinasi tersebut melalui keluarga, teman, kedekatan geografis, atau pengalaman langsung. Salah satu informan bahkan datang setelah diajak teman tanpa sebelumnya melihat promosi khusus mengenai Tugulufa di media sosial. Temuan tersebut menunjukkan bahwa media sosial lebih tepat dipahami sebagai penguat visibilitas destinasi yang bekerja bersama komunikasi dari keluarga, teman, masyarakat, dan kegiatan wisata.

Promosi pemerintah juga tidak hanya mengandalkan platform digital. Informasi mengenai pariwisata disebarkan melalui pamflet dan spanduk, kemudian diperkuat melalui TikTok, Instagram, dan WhatsApp. Kegiatan seperti Sail Tidore dan Hari Nusantara juga menjadi bagian dari strategi promosi. Setelah kegiatan berlangsung, foto, video, pemberitaan, dan unggahan pengunjung dapat terus beredar di media sosial sehingga dampak promosinya tidak berhenti ketika acara selesai.

Penelitian tersebut juga menemukan semakin pentingnya peran pembuat konten lokal. Salah satu informan menyebut Jeje Kalaodi sebagai pembuat konten Tidore yang menjadi sumber informasi mengenai Pantai Tugulufa melalui Instagram. Kehadiran pembuat konten lokal membuat promosi tidak hanya berasal dari akun resmi pemerintah. Mereka dapat menyampaikan daya tarik daerah melalui sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan dan pengalaman masyarakat setempat.

Konten visual menjadi salah satu kekuatan utama promosi Tugulufa. Pemandangan laut, lingkungan hijau, fasilitas wisata, aktivitas pengunjung, dan panorama Gunung Tidore mudah dikemas dalam bentuk foto maupun video. Penggunaan gambar dari udara atau drone juga dapat memberikan gambaran kawasan secara lebih luas. Namun, Yahya dan Altarans menilai promosi tidak seharusnya berhenti pada keindahan pemandangan. Sejarah Kesultanan Tidore, tradisi maritim, kuliner lokal, aktivitas masyarakat, dan sejarah jalur rempah dapat dikembangkan menjadi cerita yang membuat identitas destinasi semakin kuat.

Aspek keberlanjutan menjadi perhatian penting dalam temuan tersebut. Konten yang menarik dapat meningkatkan perhatian wisatawan, tetapi promosi harus tetap sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Salah satu informan menilai kondisi Tugulufa secara umum sesuai dengan gambaran di media sosial, tetapi menemukan persoalan sampah ketika berada langsung di lokasi. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan popularitas melalui media sosial perlu diikuti dengan pengelolaan kebersihan, fasilitas, dan lingkungan yang memadai.

Secara keseluruhan, media sosial berkontribusi pada peningkatan kesadaran terhadap destinasi, minat berkunjung, pembentukan citra wisata, dan penyebaran informasi. Data dari 20 informan menunjukkan bahwa konten buatan pengguna, pembuat konten lokal, kegiatan pemerintah, serta jejaring pertemanan ikut memperluas jangkauan promosi Tugulufa. Meski demikian, temuan tersebut tidak membuktikan bahwa media sosial secara langsung menyebabkan peningkatan jumlah wisatawan. Pengaruhnya lebih terlihat dalam memperluas visibilitas dan membangun ketertarikan calon pengunjung.

Bagi pengembangan pariwisata Tidore, strategi digital dapat diarahkan tidak hanya untuk mendapatkan lebih banyak perhatian, tetapi juga untuk memperkenalkan identitas budaya secara lebih mendalam. Cerita tentang sejarah, tradisi, masyarakat, kuliner, dan lingkungan dapat dipadukan dengan foto, video, serta narasi yang menarik. Dengan demikian, media sosial dapat berfungsi sebagai sarana promosi sekaligus media edukasi mengenai nilai budaya dan perilaku wisata yang bertanggung jawab.

Yahya dan Altarans menyimpulkan bahwa pengembangan pariwisata berkelanjutan di Tidore perlu mengintegrasikan promosi digital dengan kearifan lokal, partisipasi masyarakat, dan pengelolaan destinasi yang berkelanjutan. Penelitian lanjutan juga disarankan untuk mengukur efektivitas media sosial dalam jangka panjang serta membandingkan berbagai platform guna mengetahui strategi komunikasi yang paling efektif dalam mempromosikan warisan budaya, tradisi, produk lokal, dan pariwisata yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Profil Penulis

Muhammad Taurid Yahya — Program Studi Ilmu Administrasi Negara, Universitas Nuku.

Indra Altarans — Program Studi Teknik Sipil, Universitas Nuku.

Sumber Penelitian

“Social Media as a Local Wisdom-Based Tourism Promotion Strategy in Supporting Sustainable Tourism Development in Tidore Islands City”

Indonesian Journal of Tourism and Hospitality Management (WAKATOBI), Vol. 5, No. 1, 2026, halaman 15–34.

DOI: https://doi.org/10.55927/wakatobi.v5i1.18

Link Jurnal: https://journalwakatobi.my.id/index.php/wakatobi

Posting Komentar

0 Komentar