Konflik Selat Hormuz Tekan Harga Kelapa Sawit Melalui Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi

Ilustrasi by AI

MALANG — Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang mengancam jalur perdagangan energi global memberikan dampak nyata terhadap dinamika harga minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil. Penelitian terbaru mengonfirmasi bahwa gejolak harga komoditas pangan dan energi ini memiliki keterikatan jangka panjang yang kuat dengan indikator makroekonomi, terutama pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi. Penemuan ini mempertegas pentingnya penguatan industri hilirisasi sawit dan program biodisel domestik demi menjaga kestabilan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian pasar global.

Secara geografis, Selat Hormuz merupakan urat nadi transportasi minyak mentah dunia. Ketika eskalasi militer dan politik meningkat di kawasan tersebut pada periode Maret hingga April 2026, kekhawatiran atas pasokan energi global langsung memicu lonjakan volatilitas harga komoditas. Bagi Indonesia, minyak kelapa sawit bukan lagi sekadar komoditas pertanian atau bahan pangan, melainkan telah bertransformasi menjadi bahan baku energi terbarukan melalui program biodiesel. Oleh karena itu, gangguan pada pasar energi global secara otomatis merembet ke pasar minyak sawit, memengaruhi pendapatan ekspor, nilai tukar mata uang, serta stabilitas harga di dalam negeri.

Guna memahami fenomena kompleks ini, tim peneliti mengaplikasikan model ekonometrika dinamis yang dikenal sebagai Vector Error Correction Model. Metode ini digunakan untuk mengukur hubungan jangka panjang maupun dinamika jangka pendek antara harga kelapa sawit, nilai tukar rupiah, inflasi, dan produk domestik bruto. Analisis berbasis data harian ini dilengkapi dengan pengujian hubungan sebab-akibat temporal, simulasi respons harga terhadap kejutan ekonomi, serta perhitungan kontribusi masing-masing variabel terhadap fluktuasi harga komoditas dalam berbagai rentang waktu.

Hasil analisis statistik menunjukkan adanya keseimbangan jangka panjang yang mengikat pergerakan harga minyak sawit dengan kondisi makroekonomi. Dalam jangka pendek, variabel inflasi terbukti paling sensitif dan memberikan pengaruh dinamis yang signifikan terhadap fluktuasi harga bulanan. Sementara itu, nilai tukar mata uang tidak menunjukkan pengaruh penyesuaian yang dominan secara langsung. Seiring berjalannya waktu, kontribusi pertumbuhan ekonomi justru menjadi faktor eksternal paling dominan dalam menjelaskan variasi harga minyak sawit jangka panjang.

Implikasi dari temuan ini sangat krusial bagi perumusan kebijakan publik dan strategi dunia usaha. Keterikatan erat antara harga minyak sawit dan energi global menegaskan bahwa manajemen risiko industri sawit tidak boleh lagi hanya mengandalkan pantauan pasar komoditas tradisional. Pemerintah perlu mempercepat pengembangan industri hilirisasi dan memperkuat mandatori biodiesel agar penyerapan minyak sawit domestik tetap stabil. Langkah strategis ini akan melindungi produsen lokal dari guncangan geopolitik luar negeri sekaligus meningkatkan ketahanan energi nasional dan pendapatan masyarakat.

Penelitian ini disusun oleh Muhammad Yazid Irfani, Dian Artika, Evana Justine Nur Aisyah, Ahmad Djalaluddin, dan Ahmad Tibrizi Soni Wicaksono dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

Sumber Penelitian: 

Judul Artikel: CPO Price Dynamics Amid Geopolitical Turmoil in the Strait of Hormuz: A Vector Error Correction Model (VECM) Approach 

Nama Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) 

Tahun Publikasi: 2026 

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i9.315 

URL Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar