Keseimbangan Kerja dan Motivasi Perkuat Keterikatan Kerja ASN di Klinik Kalimantan Barat

Created by AI

FORMOSA NEWS - PONTIANAK — Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi serta motivasi kerja terbukti berperan penting dalam meningkatkan keterikatan kerja atau employee engagement Aparatur Sipil Negara (ASN) di UPT Klinik Utama Sungai Bangkong, Provinsi Kalimantan Barat. Temuan ini berasal dari penelitian Nola Forensia dan Irfan Mahdi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak, yang diterbitkan pada 2026.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ASN yang mampu menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi cenderung memiliki keterikatan kerja yang lebih tinggi. Motivasi kerja juga memberikan pengaruh yang kuat, bahkan kontribusinya lebih besar dibandingkan keseimbangan kehidupan kerja dalam model penelitian.

Temuan ini menjadi penting bagi organisasi pelayanan kesehatan pemerintah karena keterikatan kerja berkaitan dengan energi, dedikasi, dan keterlibatan pegawai dalam menjalankan tugas. Dalam lingkungan pelayanan publik, kondisi tersebut dapat mendukung keberlangsungan pelayanan yang membutuhkan konsistensi dan komitmen pegawai.

Tantangan Keseimbangan Kerja dalam Pelayanan Publik

UPT Klinik Utama Sungai Bangkong memiliki fungsi pelayanan yang cukup luas, mulai dari kesehatan jiwa, penanganan penyalahgunaan zat atau NAPZA, pelayanan anak berkebutuhan khusus, pelayanan medis dan keperawatan, hingga berbagai layanan pendukung.

Klinik juga menjalankan kegiatan promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, serta pelayanan rujukan berdasarkan Peraturan Gubernur Kalimantan Barat Nomor 158 Tahun 2021.

Pada 2026, unit tersebut memiliki 165 ASN, termasuk satu kepala UPT. Sebanyak 20 ASN bekerja pada bagian administrasi, 100 orang pada bagian pelayanan, dan 44 orang pada bagian penunjang medis. Dengan jumlah 100 pegawai, bagian pelayanan menjadi kelompok terbesar dengan proporsi sekitar 60,61 persen dari keseluruhan ASN.

Data kehadiran selama 2023–2025 menunjukkan tingkat ketidakhadiran relatif rendah, masing-masing 0,74 persen pada 2023, 0,87 persen pada 2024, dan kembali 0,74 persen pada 2025. Namun, data juga mencatat akumulasi keterlambatan dan kepulangan lebih awal dalam jumlah cukup besar.

Total waktu keterlambatan tercatat 186.425 menit pada 2023, meningkat menjadi 198.350 menit pada 2024, lalu turun menjadi 191.210 menit pada 2025. Sementara itu, waktu kepulangan lebih awal mencapai 138.462 menit pada 2023, 148.740 menit pada 2024, dan 143.090 menit pada 2025.

Jumlah hari cuti juga meningkat dari 1.235 hari pada 2023 menjadi 1.651 hari pada 2024 dan 1.975 hari pada 2025. Kenaikan tersebut masing-masing mencapai 33,68 persen dan 19,62 persen.

Penelitian Melibatkan 164 ASN

Forensia dan Mahdi menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif untuk menganalisis hubungan antara work-life balance, motivasi, dan employee engagement.

Populasi penelitian terdiri atas 165 ASN di UPT Klinik Utama Sungai Bangkong. Namun, kepala UPT tidak dimasukkan sebagai responden sehingga jumlah sampel menjadi 164 orang. Peneliti menggunakan teknik saturated sampling atau sampel jenuh, sehingga seluruh ASN yang memenuhi kriteria dilibatkan dalam penelitian.

Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara dengan Kepala Seksi Klinik Anak, serta data sekunder dari institusi. Kuesioner menggunakan skala Likert lima tingkat.

Variabel work-life balance diukur melalui enam pernyataan yang mencakup keseimbangan waktu, keterlibatan, dan kepuasan. Motivasi kerja diukur melalui 10 pernyataan berdasarkan kebutuhan manusia dalam teori Maslow. Sementara itu, employee engagement diukur melalui enam pernyataan yang mencerminkan vigor atau semangat, dedikasi, dan penyerapan dalam pekerjaan.

Pengolahan data dilakukan menggunakan SPSS melalui pengujian validitas, reliabilitas, asumsi klasik, regresi linear berganda, korelasi, koefisien determinasi, uji F, dan uji t.

Motivasi Memberikan Pengaruh Lebih Kuat

Hasil analisis menghasilkan persamaan regresi:

Y = 1,151 + 0,242X₁ + 0,476X₂

Dalam persamaan tersebut, X₁ merupakan work-life balance, sedangkan X₂ merupakan motivasi kerja dan Y adalah employee engagement.

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa work-life balance memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap employee engagement. Nilai koefisien regresinya sebesar 0,242, dengan nilai t sebesar 2,971 dan signifikansi 0,003.

Artinya, semakin baik keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi ASN, semakin tinggi pula keterikatan mereka terhadap pekerjaan.

Motivasi kerja menunjukkan pengaruh yang lebih kuat. Variabel ini memiliki koefisien regresi sebesar 0,476, nilai t sebesar 7,038, dan tingkat signifikansi kurang dari 0,001.

Nilai standardized beta juga memperlihatkan perbedaan kontribusi kedua variabel. Work-life balance memiliki Beta sebesar 0,213, sedangkan motivasi mencapai 0,505. Dengan demikian, motivasi menjadi faktor yang lebih dominan dalam model penelitian.

Ketika kedua variabel dianalisis secara bersama-sama, nilai korelasi mencapai 0,646. Koefisien determinasi (R²) sebesar 0,417 menunjukkan bahwa work-life balance dan motivasi secara bersama-sama menjelaskan 41,7 persen variasi employee engagement ASN.

Sementara itu, 58,3 persen sisanya berkaitan dengan faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian.

Uji simultan juga menunjukkan hasil signifikan dengan nilai F sebesar 57,629 dan signifikansi kurang dari 0,001. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kedua faktor secara bersama-sama memiliki hubungan yang signifikan dengan keterikatan kerja ASN.

Lingkungan Kerja Perlu Mendukung Keseimbangan dan Motivasi

Peneliti merekomendasikan agar pengelolaan ASN tidak hanya berfokus pada pencapaian target pekerjaan, tetapi juga memperhatikan keseimbangan kehidupan kerja dan motivasi pegawai.

Pengaturan beban kerja yang proporsional, pengelolaan waktu kerja, serta kesempatan mengambil cuti secara tepat dapat membantu pegawai menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Dari sisi motivasi, organisasi dapat memperkuat penghargaan terhadap kinerja, menciptakan lingkungan kerja yang mendukung, membangun hubungan kerja yang positif, memastikan keamanan kerja, serta menyediakan peluang pengembangan kemampuan dan karier.

Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif jika diterapkan secara terintegrasi. Keseimbangan kerja membantu pegawai mengelola tuntutan pekerjaan, sementara motivasi dapat memperkuat energi dan kemauan mereka untuk memberikan kontribusi terbaik.

Bagi organisasi pelayanan kesehatan pemerintah, keterikatan kerja yang kuat menjadi bagian penting karena kualitas pelayanan sangat bergantung pada konsistensi dan keterlibatan pegawai dalam menjalankan tugas.

Masih Ada Faktor Lain yang Perlu Diteliti

Meski menemukan pengaruh yang signifikan, penelitian ini tidak menjelaskan seluruh faktor yang menentukan keterikatan kerja ASN. Nilai R² sebesar 41,7 persen menunjukkan masih terdapat 58,3 persen variasi employee engagement yang berkaitan dengan faktor lain di luar model.

Penelitian berikutnya dapat menguji faktor seperti kepuasan kerja, lingkungan kerja, dukungan organisasi, gaya kepemimpinan, kompensasi, pengembangan karier, dan budaya organisasi.

Penelitian juga dapat diperluas ke fasilitas pelayanan publik atau fasilitas kesehatan lainnya. Pendekatan kualitatif maupun metode campuran dapat digunakan untuk memahami pengalaman ASN secara lebih mendalam.

Karena penelitian menggunakan desain cross-sectional, hasilnya perlu dipahami sebagai bukti statistik mengenai hubungan atau pengaruh dalam model penelitian, bukan sebagai bukti kausalitas mutlak.

Profil Peneliti

Nola Forensia dan Irfan Mahdi merupakan peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak. Artikel yang menjadi dasar pemberitaan ini tidak mencantumkan gelar akademik maupun spesialisasi keahlian masing-masing penulis secara rinci.

Sumber Penelitian

Artikel berjudul “The Effect of Work-Life Balance and Motivation on Employee Engagement among Civil Servants at UPT Klinik Utama Sungai Bangkong, West Kalimantan Province” ditulis oleh Nola Forensia dan Irfan Mahdi dan diterbitkan pada 2026 dalam International Journal of Management, Business, and Innovation (IJMBI).

DOI: 10.59890/ijmbi.v4i4.48

Jurnal: International Journal of Management, Business, and Innovation (IJMBI)

Posting Komentar

0 Komentar