Kecerdasan Buatan Picu Pergeseran Kepemilikan Bahasa dan Kerentanan Suara Profesional dalam Pembelajaran ESP

Ilustrasi by AI

Riset terbaru yang dipublikasikan pada Agustus 2026 oleh Elda Martha Suri dan Salsabila Lianita dari Universitas Ekasakti Padang bersama Windry Novalia Jufri dari Universitas Negeri Padang mengungkap bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang masif dalam pembelajaran English for Specific Purposes (ESP) memicu pergeseran kepemilikan bahasa dan kerentanan suara profesional siswa. Temuan ini sangat penting bagi dunia pendidikan modern karena menunjukkan bahwa ketergantungan berlebihan pada teknologi dapat mengikis otentisitas, otoritas, dan rasa percaya diri pengguna bahasa dalam dunia kerja.

Transformasi digital telah mengubah praktik pendidikan secara global, di mana AI kini dimanfaatkan untuk menyusun draf teks akademik, menerjemahkan istilah teknis, hingga memeriksa tata bahasa. Namun, kemudahan tersebut memunculkan masalah baru berupa "kepemilikan bahasa yang tergeser", di mana pengguna merasa tidak lagi sepenuhnya memiliki kendali atas gaya bahasa, pilihan kata, dan struktur argumen yang mereka hasilkan. Akibatnya, representasi kompetensi profesional dan identitas akademik individu menjadi rentan.

Untuk menguji fenomena ini, penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei eksplanatori. Sebanyak 120 responden yang terdiri atas mahasiswa dan dosen pengampu ESP dilibatkan melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tertutup berskala Likert dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji korelasi, regresi linear, serta analisis mediasi dengan bantuan perangkat lunak statistik.

Hasil analisis data membuktikan beberapa temuan utama berikut:

  • Intensitas penggunaan AI yang tinggi terbukti secara signifikan meningkatkan pergeseran kepemilikan bahasa, di mana teks buatan AI terasa lebih mendominasi gaya bahasa pribadi pengguna.
  • Penggunaan AI yang berlebihan turut memperkuat kerentanan suara profesional, yang ditandai dengan rendahnya rasa percaya diri ketika responden harus menulis teks ESP tanpa bantuan teknologi.
  • Sebagian besar responden memanfaatkan AI untuk menyusun draf teks profesional (60%), memperbaiki struktur kalimat (55.8%), dan menerjemahkan istilah teknis (53.3%).
  • Pergeseran kepemilikan bahasa bertindak sebagai mediator penting yang menjelaskan bagaimana tingginya penggunaan AI secara tidak langsung melemahkan keaslian dan otoritas suara profesional pengguna.

Menurut para peneliti dari Universitas Ekasakti Padang dan Universitas Negeri Padang, hasil ini memberikan pandangan kritis bahwa AI tidak boleh diposisikan sebagai pengganti proses berpikir manusia. Institusi pendidikan dan pengajar disarankan untuk mengintegrasikan literasi AI kritis serta merancang penugasan berbasis proses—seperti pengumpulan draf awal, catatan revisi, dan refleksi penggunaan AI—agar mahasiswa tetap memegang kendali atas agensi bahasa dan identitas profesional mereka.

Profil Penulis

  • Elda Martha Suri – Peneliti dan akademisi di Universitas Ekasakti Padang.
  • Windry Novalia Jufri – Peneliti dan akademisi di Universitas Negeri Padang.
  • Salsabila Lianita – Peneliti dan akademisi di Universitas Ekasakti Padang.

Sumber Penelitian

  • Judul Artikel: Linguistic Ownership Displacement and Professional Voice Vulnerability in Artificial Intelligence Mediated English for Specific Purposes Ecosystems
  • Nama Jurnal: Journal of Educational Analytics (JEDA), Vol. 5 No. 3, Agustus 2026
  • DOI/URL: https://doi.org/10.55927/jeda.v5i3.35

Posting Komentar

0 Komentar