Inovasi Kemasan Dodol Picnic Garut Sukses Memperkuat Identitas Visual Budaya dan Ekonomi Kreatif Daerah


Ilustrasi by AI 

Peneliti dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar mempublikasikan hasil studi yang mengungkap bagaimana inovasi kemasan pangan tradisional berfungsi sebagai sistem komunikasi visual untuk melestarikan identitas budaya sekaligus memajukan ekonomi daerah. Dipimpin oleh Rinkapati Swatriani bersama I Wayan Swandi, I Wayan Mudra, dan Ni Luh Desi In Diana Sari, penelitian yang terbit pada Agustus 2026 di Jurnal Multidisplin Madani (MUDIMA) ini mengevaluasi transformasi grafis dan struktur fisik kemasan Dodol Picnic Garut. Kajian ilmiah ini penting karena membuktikan bahwa integrasi desain visual yang penuh makna dan bentuk wadah yang ergonomis mampu menyampaikan sejarah, kekayaan alam, serta identitas oleh-oleh khas daerah secara efektif kepada konsumen modern.

Langkah Dodol Picnic Garut memodernisasi kemasannya menjadi angin segar bagi industri pangan lokal. Di Kabupaten Garut, Jawa Barat, industri dodol menopang 156 unit usaha, menyerap ribuan tenaga kerja, dan menyumbang nilai produksi sekitar Rp194,6 miliar per tahun. Apalagi, dodol telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Jawa Barat sejak 2023. Meski demikian, sebagian besar produk dodol masih mengandalkan kotak karton konvensional yang seragam. Melalui studi ini, para peneliti menunjukkan solusi strategis agar produk kuliner warisan tidak kalah bersaing di pasar modern tanpa kehilangan akar budayanya.

Untuk membedah makna di balik kemasan tersebut, tim peneliti menerapkan metode penelitian kualitatif deskriptif berbasis studi kasus pada dua varian modern Dodol Picnic Garut, yaitu varian Aneka Buah dan Aneka Rasa. Proses pengumpulan data dilakukan melalui:

  • Observation langsung terhadap elemen grafis, bentuk kemasan, material kertas, hingga mekanisme buka-tutup.
  • Documentation dokumentasi foto, katalog produk, dan arsip sejarah.
  • Literature review atas teori komunikasi visual serta kajian representasi budaya.

Seluruh data dianalisis menggunakan teori semiotika triadik Charles Sanders Peirce yang mengkaji hubungan antara wujud fisik tanda (representamen), konsep budaya yang diwakili (object), serta pemahaman atau persepsi yang terbentuk pada diri konsumen (interpretant).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemasan Dodol Picnic Garut bekerja sebagai satu kesatuan sistem tanda yang harmonis antara aspek grafis dan struktur fisik:

  • Representasi Geografis dan Alam: Warna hijau dominan dan ilustrasi buah-buahan pada varian Aneka Buah menjadi tanda visual yang menggambarkan keasrian alam pegunungan Garut yang subur serta kaya akan produk pertanian.
  • Keberlanjutan Sejarah dan Gastronomi: Logo klasik Picnic dan pita merah yang khas bertindak sebagai tanda keaslian merek, memperkuat citra produk sebagai warisan kuliner legendaris yang terpercaya.
  • Ergonomi Fisik sebagai Tanda Budaya Oleh-Oleh: Varian Aneka Rasa memiliki struktur ringkas berukuran $11\times5,5\times13$ cm yang dilengkapi pegangan (handle) terintegrasi. Fitur ini mempermudah konsumen membawa produk saat bepergian, sekaligus menegaskan fungsinya sebagai oleh-oleh khas (gift culture).
  • Transparansi Produk: Hadirnya jendela transparan pada bagian depan kemasan memungkinkan konsumen melihat langsung dodol di dalamnya. Fitur ini membangun kepercayaan dan kepastian atas keaslian produk.
  • Kemudahan Efisien Tanpa Perekat: Kemasan dibuat dari kertas karton tebal dengan sistem pengunci lipat (locking-tab). Struktur ini memungkinkan kemasan dibuka dan ditutup berulang kali dengan rapi tanpa membutuhkan perekat tambahan.

Temuan ini membawa dampak praktis yang signifikan bagi para pelaku industri kreatif, desainer grafis, dan UMKM. Hasil studi membuktikan bahwa pembaharuan kemasan tidak sekadar urusan estetika dagang, melainkan strategi efektif untuk mempromosikan pariwisata daerah dan melestarikan warisan budaya. Penerapan fitur ergonomis seperti pegangan boks dan jendela transparan dapat diaplikasikan pada berbagai produk makanan tradisional lainnya di Indonesia agar lebih berdaya saing di pasar nasional maupun internasional.

"Penggabungan desain grafis dan struktur kemasan membentuk sistem semiotika yang utuh, tempat tanda visual dan material saling berinteraksi untuk menyampaikan identitas budaya Garut. Struktur kemasan memiliki peran semiotik yang sama pentingnya dengan elemen grafis dalam menyampaikan makna budaya dan memosisikan produk tradisional sebagai oleh-oleh khas daerah yang autentik."

Rinkapati Swatriani et al., Indonesia Institute of the Arts (ISI) Denpasar

Profil Penulis

Rinkapati Swatriani merupakan peneliti dan akademisi dari Indonesia Institute of the Arts (ISI) Denpasar, Bali, Indonesia. Keahlian akademisnya berfokus pada Desain Komunikasi Visual, analisis semiotika, pengembangan kemasan tradisional, dan representasi budaya lokal dalam industri kreatif masa kini. Dalam penelitian ini, ia bekerja sama dengan tim peneliti ISI Denpasar yaitu I Wayan Swandi, I Wayan Mudra, dan Ni Luh Desi In Diana Sari.

Informasi Sumber Penelitian

Judul Artikel: Cultural Representation in Aneka Rasa and Aneka Buah Dodol Picnic Packaging Development
Nama Jurnal: Jurnal Multidisplin Madani (MUDIMA)
Tahun Publikasi: 2026
DOI : https://doi.org/10.55927/mudima.v6i8.110

Posting Komentar

0 Komentar