Komunikasi Lebih Penting daripada Kompetensi: Faktor-Faktor Penentu Respons yang Efektif dari Departemen Mesin terhadap Kegagalan Mesin Utama dalam Kondisi Cuaca Ekstrem

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Banten - Komunikasi Mengalahkan Kompetensi Saat Mesin Kapal Mati di Tengah Cuaca Buruk. Penelitian yang dilakukan oleh Rahmat Santoso, Cholis Imam Nawawi, Budi Purnomo, dan Andesvan Gumay dari Politeknik Pelayaran Banten. dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 8 Tahun 2026 menyoroti bahwa memberikan bukti krusial bagi perusahaan pelayaran, akademi maritim, dan pembuat kebijakan untuk mencegah insiden kecelakaan kapal dan bencana lingkungan di laut.

Latar Belakang: Faktor Manusia dalam Darurat Pelayaran
Mesin utama merupakan jantung utama dari sebuah kapal sejenis. Ketika mesin mati di perairan tenang, kapal biasanya masih dapat terapung aman selagi proses perbaikan berlangsung. Namun, jika kegagalan mesin terjadi saat badai atau cuaca buruk, gelombang tinggi dan angin kencang dapat dengan cepat menyeret kapal hingga mengalami kandas, tabrakan, atau bahkan terbalik. Cuaca buruk tidak hanya meningkatkan beban kerja mekanis mesin, tetapi juga menciptakan tekanan fisik dan psikologis yang berat bagi para awak kapalMeskipun teknologi pemeliharaan prediktif dan sistem deteksi kerusakan otomatis pada kapal telah berkembang pesat, gangguan teknis mendadak tetap tidak terhindarkan di tengah laut. Selama ini, standar keselamatan maritim lebih banyak berfokus pada sertifikasi teknis atau manajemen awak di anjungan navigasi. Sebaliknya, perhatian terhadap keterampilan non-teknis (non-technical skills) personel di ruang kontrol mesin saat kondisi kritis masih sangat terbatas. Memahami apakah keberhasilan penanganan darurat lebih ditentukan oleh penguasaan teknis individu atau komunikasi tim sangat penting agar lembaga maritim dapat mengalokasikan anggaran pelatihan secara lebih efektif.

Metodologi Sederhana dan Profil Responden
Penelitian kuantitatif ini melibatkan 112 perwira teknik mesin kapal yang sedang menempuh pendidikan peningkatan kompetensi di Politeknik Pelayaran Banten. Sampel yang diambil merepresentasikan para profesional maritim yang kaya pengalaman lapangan, bukan taruna pemula:
  • Masa Layar: Sebanyak 66,1% responden memiliki pengalaman berlayar lebih dari 6 tahun.
  • Pengalaman Nyata: Sebanyak 89,3% responden pernah mengalami langsung insiden mesin utama mati saat kapal berlayar.
  • Kualifikasi: Sebanyak 82,2% memegang sertifikat Ahli Teknika Tingkat (ATT) III atau IV, serta 71,4% telah mengikuti pelatihan penanganan darurat.
Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner 60 item berbasis skala Likert untuk mengukur empat variabel utama: kompetensi teknis, komunikasi tim, koordinasi tugas, dan kesiapsiagaan darurat. Tim peneliti menggunakan analisis korelasi Pearson untuk melihat hubungan awal, serta analisis regresi linear berganda untuk mengisolasi kontribusi unik dari masing-masing faktor terhadap efektivitas penanganan darurat.

Temuan Utama: Komunikasi Menjadi Kunci Utama Keselamatan

Secara individu, keempat faktor menunjukkan hubungan positif yang sangat kuat dengan efektivitas penanganan darurat. Para perwira menilai tingkat koordinasi tugas sebagai faktor tertinggi yang mereka miliki (rata-rata skor 4,10 dari skala 5), diikuti oleh komunikasi (4,02), kesiapsiagaan (3,94), dan kompetensi teknis (3,83)Namun, ketika keempat variabel diuji secara bersamaan dalam model regresi linear berganda—yang mampu menjelaskan 89,7% varians efektivitas penanganan darurat—muncul hasil yang sangat kontras:

  • Komunikasi Memegang Peran Paling Dominan: Komunikasi tim mempertahankan pengaruh statistik terbesar ($\beta = 0,747, p < 0,001$).
  • Kesiapsiagaan Menjadi Faktor Penentu Kedua: Kesiapsiagaan darurat memberikan kontribusi signifikan yang nyata ($\beta = 0,306, p = 0,001$).
  • Kompetensi Teknis dan Koordinasi Tidak Berdiri Sendiri: Kompetensi teknis ($\beta = -0,058, p = 0,478$) maupun koordinasi ($\beta = 0,014, p = 0,886$) tidak lagi menunjukkan pengaruh langsung yang signifikan secara statistik ketika variabel komunikasi dan kesiapsiagaan dikontrol.
Para peneliti menjelaskan bahwa kompetensi teknis dan koordinasi tetap sangat penting, tetapi dampaknya baru terasa nyata jika disalurkan melalui komunikasi yang jelas dan latihan simulasi yang teratur. Seorang insinyur kapal mungkin memiliki pengetahuan teknis yang sangat tinggi, namun pengetahuan tersebut tidak akan menyelamatkan kapal jika tidak dikomunikasikan secara cepat dan tepat kepada tim di kamar mesin maupun ke perwira navigasi di anjungan.

Implikasi Industri dan Dampak Nyata
Hasil penelitian ini memberikan panduan praktis bagi perusahaan pelayaran, akademi maritim, dan regulator keselamatan internasional. Mengingat para perwira mesin kapal pada umumnya sudah memiliki kualifikasi teknis yang memadai, penambahan porsi pelatihan teori teknik memberikan manfaat marginal yang relatif kecil. Sebaliknya, penguatan keselamatan pelayaran dapat dicapai melalui:
  • Standarisasi Protokol Komunikasi: Menyusun format pelaporan terstruktur dari kamar mesin ke anjungan saat terjadi kondisi darurat, termasuk kejelasan jenis kerusakan dan estimasi waktu perbaikan.
  • Pelatihan Simulasi Berbasis Cuaca Buruk: Meningkatkan frekuensi latihan darurat menggunakan simulator yang mereplikasi kondisi kebisingan tinggi, tekanan mental, dan pergerakan kapal saat badai.
  • Penguatan Engine Resource Management (ERM): Mengarahkan kurikulum manajemen sumber daya kamar mesin pada pertukaran informasi yang efektif dan kesadaran situasi di bawah tekanan ekstrem.
Profil Singkat Penulis
Rahmat Santoso, M.T.: Dosen dan peneliti di Politeknik Pelayaran Banten dengan keahlian di bidang sistem propulsi kapal, manajemen kamar mesin, dan keselamatan pelayaran.
Cholis Imam Nawawi, M.T.: Peneliti dan akademisi Politeknik Pelayaran Banten yang berfokus pada Engine Resource Management (ERM) dan efisiensi operasional kapal.
Budi Purnomo, M.Pd.: Pakar metodologi pendidikan dan pelatihan vokasi maritim di Politeknik Pelayaran Banten.
Andesvan Gumay, M.T.: Spesialis teknik mesin kapal di Politeknik Pelayaran Banten yang meneliti standar keselamatan kapal dan kinerja manusia di lingkungan berrisiko tinggi.

Sumber Penelitian
Rahmat Santoso, Cholis Imam Nawawi, Budi Purnomo, Andesvan Gumay. Communication Outweighs Competence: Determinants of Effective Engine-Department Response to Main Engine Failure in Severe Weather. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS). Vol, 5 No. 8 Hal 1727-1742.
DOI : https://doi.org/10.55927/fjas.v5i8.105
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar