Ibu Hamil di Bawah 20 dan di Atas 35 Tahun Berisiko 6,2 Kali Lipat Miliki Anak Stunting

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Timor Tengah Selatan - Penelitian terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (SKI) mengungkapkan bahwa usia ibu saat hamil memiliki hubungan signifikan dengan risiko kejadian stunting pada anak balita. Tim peneliti yang terdiri dari Wiradi Suryanegara, Audrye Henderikha Keke Liu, dan Nia Reviani mengevaluasi data rekam medis di Puskesmas Noebeba, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hasil analisis menunjukkan bahwa wanita yang hamil pada usia berisiko tinggi yaitu di bawah 20 tahun atau di atas 35 tahun, berisiko 6,256 kali lebih besar melahirkan anak yang mengalami stunting dibandingkan dengan ibu yang hamil pada usia reproduksi optimal (20–35 tahun). Temuan ini menjadi pengingat penting akan perlunya perencanaan kehamilan yang optimal serta edukasi gizi maternal di wilayah-wilayah dengan beban stunting tinggi.

Secara nasional, angka stunting atau tengkes di Indonesia memang mengalami penurunan, namun distribusinya belum merata, di mana wilayah timur Indonesia seperti Nusa Tenggara Timur masih mencatatkan prevalensi yang tergolong tinggi. Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan linier kronis akibat kekurangan gizi dalam jangka panjang, yang umumnya bermula sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dampaknya tidak hanya terbatas pada postur tubuh yang pendek, tetapi juga memengaruhi perkembangan kognitif, motorik, hingga daya saing akademis dan ekonomi anak di masa depan.

Dalam riset yang dipublikasikan pada tahun 2026 ini, peneliti menggunakan metode analitis observasional dengan pendekatan cross-sectional. Data sekunder diambil dari 200 rekam medis pasangan ibu dan anak balita (usia 0–59 bulan) yang terdaftar di Puskesmas Noebeba selama periode 2022 hingga 2024. Peneliti mengelompokkan usia kehamilan ibu menjadi kelompok tidak berisiko (20–35 tahun) dan kelompok berisiko (<20 tahun atau >35 tahun), lalu menganalisis hubungannya dengan status stunting anak berdasarkan standar z-score tinggi badan menurut umur WHO.

Temuan utama penelitian ini menunjukkan:

  • Distribusi Kehamilan Berisiko: Dari total 200 ibu yang diteliti, separuhnya (50% atau 100 orang) berada pada kelompok usia berisiko, dengan rincian 25,5% hamil di usia kurang dari 20 tahun dan 24,5% hamil di atas usia 35 tahun.
  • Kejadian Stunting: Tercatat sebanyak 81 anak (40,5%) mengalami stunting, sementara 119 anak (59,5%) berada pada status gizi normal.
  • Korelasi Usia Ibu: Dari 81 kasus stunting, sebanyak 61 kasus terjadi pada anak yang lahir dari ibu kelompok usia berisiko (<20 atau >35 tahun). Sedangkan dari kelompok ibu usia 20–35 tahun, hanya 20 anak yang mengalami stunting.
  • Tingkat Risiko (Odds Ratio): Uji statistik chi-square menghasilkan p-value sebesar 0,001 dengan nilai Odds Ratio (OR) 6,256 (95% CI: 3,320–11,791). Ini mengonfirmasi bahwa ibu di kelompok usia berisiko memiliki peluang 6,256 kali lebih tinggi untuk memiliki anak stunting dibandingkan dengan ibu usia 20–35 tahun.

Peneliti menjelaskan bahwa kehamilan di bawah usia 20 tahun rawan memicu kompetisi nutrisi antara tubuh ibu yang masih tumbuh dan janin yang dikandungnya. Selain itu, ketidakmatangan organ reproduksi dan minimnya pengetahuan pengasuhan turut memperbesar risiko bayi lahir dengan berat badan rendah. Sementara itu, kehamilan di atas usia 35 tahun rentan terhadap penurunan fungsi fisiologis reproduksi dan komplikasi kehamilan (seperti hipertensi atau anemia) yang mengganggu pasokan nutrisi ke plasenta.

"Hasil temuan ini menunjukkan bahwa usia ibu saat hamil merupakan salah satu faktor maternal penting yang berhubungan dengan pertumbuhan anak," ujar tim peneliti dalam laporannya. Mereka menekankan pentingnya penguatan penapisan kesehatan reproduksi, bimbingan pra-nikah, layanan antenatal care (ANC), serta edukasi ASI eksklusif dan MP-ASI bagi kelompok rentan guna memutus rantai stunting di tingkat pelayanan primer.

Profil Penulis

  • Wiradi Suryanegara, S.Ked., M.Si. — Dosen dan peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (SKI). Memiliki keahlian di bidang ilmu kedokteran dasar, kesehatan masyarakat, dan nutrisi maternal.
  • Audrye Henderikha Keke Liu, S.Ked. — Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (SKI) yang berfokus pada kajian kesehatan ibu dan anak serta epidemiologi gizi.
  • Nia Reviani, dr., MAPS. — Dosen dan akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (SKI) dengan keahlian dalam bidang manajemen kesehatan masyarakat, kebijakan kesehatan, serta perlindungan anak dan ibu.

Sumber Penelitian

Suryanegara, W., Liu, A. H. K., & Reviani, N. (2026). The Association between Maternal Age During Pregnancy and the Incidence of Stunting among Children Under Five at Noebeba Public Health Center, Noebeba District, South Central Timor, 2022-2024. Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5, No. 9, hal. 1699-1714.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i9.17289

Link: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar

Posting Komentar

0 Komentar