Dualisme Kelembagaan Perikanan Gurita Wakatobi: Hukum Adat Kuat, Posisi Tawar Ekonomi Nelayan Masih Rentan
Keberlanjutan perikanan gurita berbasis komunitas di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, menghadapi tantangan dualisme kelembagaan antara aturan adat dan rantai perdagangan pasar
Tantangan Tersembunyi Perikanan Skala Kecil di Pesisir Indonesia
Krisis tata kelola perikanan pesisir sering kali dipandang sebatas masalah kelangkaan stok ikan atau kerusakan terumbu karang
Di Wakatobi, perikanan gurita memiliki nilai ekonomi tinggi untuk pasar ekspor
Metodologi Penelitian dan Pendekatan Analisis Kelembagaan
Untuk membedah fenomena dualisme ini, tim peneliti menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif eksploratif
Seluruh data kualitatif dianalisis menggunakan perangkat lunak NVivo melalui pengodean terbuka (open coding) dan analisis tematik
Temuan Utama: Dualisme Antara Konservasi Adat dan Ketergantungan Pasar
Hasil analisis menunjukkan bahwa sistem perikanan gurita di Wakatobi berjalan dalam dua ranah yang belum terintegrasi secara utuh
- Aturan Adat (Parimpari) Sangat Efektif Menjaga Laut: Sistem Parimpari berhasil mengatur waktu buka-tutup wilayah tangkap melalui musyawarah, pengawasan sosial, dan sanksi adat
. Nelayan patuh terhadap aturan ini karena tingginya legitimasim legitimasi sosial dan rasa kebersamaan . - Perdagangan Dikuasai Pengepul: Pembiayaan melaut, permodalan, dan penentuan harga jual gurita berada di bawah kendali pengepul
. Model pembiayaan terikat ini membuat nelayan tidak memiliki posisi tawar untuk merundingkan harga pertama (first-sale price) . - Jurang Komunikasi Antar-Lembaga: Keputusan adat terkait waktu tangkap tidak terhubung dengan perencanaan pasar
. Tidak ada wadah bersama yang menghubungkan informasi ekologi dengan transparansi harga atau skema pembiayaan mandiri . - Peran Kelompok Nelayan Masih Lemah: Keberadaan kelompok nelayan atau koperasi belum berfungsi optimal dalam melakukan pemasaran bersama, pencarian pembeli alternatif, maupun penyediaan modal independen
.
Implikasi Kebijakan dan Dampak Nyata Bagi Masyarakat Pesisir
Studi ini menegaskan bahwa keberhasilan menjaga keberlanjutan lingkungan tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan ekonomi nelayan jika struktur pasar tetap timpang
Pemerintah perlu memperkuat posisi kelompok nelayan atau koperasi sebagai lembaga perantara (bridging organization)
"Pemisahan fungsi antara tata kelola sumber daya dan transaksi pasar menyebabkan nelayan tetap berada dalam posisi tawar yang lemah meskipun aturan adat mereka sangat solid," ungkap Ratnawati Tahir dari Universitas Muhammadiyah Makassar
Profil Penulis
Juhardin, S.Pi., M.Si., adalah peneliti utama yang menempuh Program Doktor Ilmu Agribisnis di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar
Sumber Penelitian
- Judul Artikel: Institutional Dualism in Community-Based Octopus Fisheries: Interactions Between Customary Governance and Economic Institutions in Wakatobi, Indonesia
- Jurnal: International Journal of Contemporary Sciences (IJCS), Vol. 4, No. 8, hlm. 2151–2166
- Tahun Publikasi: 2026
- DOI:
https://doi.org/10.55927/bjqwye26 URL Jurnal: https://journalijcs.my.id/index.php/ijcs

0 Komentar