Warga Desa Banu Ayu Manfaatkan Inovasi Biogas dan Bio-Slurry untuk Perkuat Ketahanan Energi Mandiri

Ilustrasi by AI

Tim pengabdian masyarakat dari Stisipol Candradimuka yang dipimpin oleh Arif Rahman Hakim bersama rekan-rekannya sukses mengimplementasikan program pemberdayaan berbasis inovasi biogas dan pemanfaatan bio-slurry di Desa Banu Ayu, Kabupaten Lahat, sepanjang tahun 2025. Inisiatif yang dipublikasikan pada Juli 2026 ini menjadi solusi penting dalam mengatasi tumpukan limbah peternakan, menekan biaya energi rumah tangga, serta mendorong praktik pertanian ramah lingkungan di wilayah perdesaan.

Selama ini, masyarakat Desa Banu Ayu yang mayoritas berprofesi sebagai petani dan peternak menghadapi kendala serius akibat sebagian besar limbah kotoran ternak dibiarkan menumpuk tanpa pengolahan. Kondisi tersebut tidak hanya memicu pencemaran lingkungan dan bau tidak sedap, tetapi juga membuat warga sangat bergantung pada gas LPG subsidi serta kayu bakar dengan beban pengeluaran bulanan yang cukup tinggi, diperparah dengan kebiasaan membakar sisa limbah pertanian di lahan.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, program ini dijalankan menggunakan pendekatan partisipatif yang melibatkan Kelompok Tani-Ternak Ayik Mati dan Kelompok Tani Maju Bersama bersama pemerintah desa. Melalui serangkaian sosialisasi, pelatihan praktik langsung pembuatan reaktor penampung limbah (digester), serta pendampingan berkala, masyarakat diajak mengolah kotoran sapi dan kambing menjadi energi gas siap pakai dan pupuk organik.

Evaluasi program mencatatkan sejumlah pencapaian nyata bagi kemandirian warga:

  • Instalasi biogas berhasil memproduksi gas metana yang dimanfaatkan warga untuk memasak sehari-hari, sehingga pengeluaran untuk membeli LPG yang sebelumnya mencapai Rp150.000 hingga Rp200.000 per bulan dapat ditekan secara signifikan.
  • Pencemaran lingkungan dan bau menyengat di sekitar kandang ternak berkurang drastis, sekaligus memperbaiki tingkat kebersihan dan kesehatan lingkungan desa.
  • Sisa fermentasi biogas atau bio-slurry diolah menjadi pupuk organik cair dan padat yang terbukti menyuburkan tanaman pangan seperti padi dan jagung, serta mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia yang mahal.
  • Kapasitas kelembagaan kelompok tani semakin kuat berkat penyusunan tata kelola operasional dan jadwal pemeliharaan fasilitas secara mandiri.

Menurut Arif Rahman Hakim dan tim akademisi Stisipol Candradimuka, penerapan teknologi tepat guna ini berhasil mewujudkan konsep ekonomi sirkular di tingkat desa yang memberikan dampak luas bagi perekonomian dan kelestarian lingkungan. Langkah ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya terkait penyediaan energi bersih terjangkau, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta penanganan perubahan iklim. Model pemberdayaan ini dinilai sangat efektif dan layak untuk direplikasi di berbagai daerah perdesaan lainnya.

Profil Singkat Penulis

  • Tim Penulis: Arif Rahman Hakim, Saswita, Nopriawan Mahriadi, Abdurahman Arif, M. Rizki, dan Ricardo.
  • Afiliasi: Stisipol Candradimuka dan Program Magister Ilmu Administrasi Publik Stisipol Candradimuka, Indonesia.
  • Bidang Keahlian: Administrasi Publik, Pemberdayaan Masyarakat, dan Tata Kelola Lingkungan Perdesaan.

Sumber Penelitian

Posting Komentar

0 Komentar