Penelitian tersebut diterbitkan dalam Formosa Journal of Multidisciplinary Research Volume 5 Nomor 8 tahun 2026. Artikel diterima untuk publikasi pada 20 Agustus 2026, setelah melalui proses revisi pada Juli. Naskah tidak mencantumkan tanggal pasti pengambilan sampel, tetapi menyebut seluruh sampel dikumpulkan pada hari yang cerah.
Lalapan Mentah Berpotensi Menjadi Jalur Penularan Cacing
Sayuran mentah seperti kubis dan mentimun dapat menjadi media penularan STH apabila terkontaminasi telur cacing dari tanah, air, pupuk, atau lingkungan yang tidak higienis. Risiko tersebut menjadi perhatian karena lalapan tidak melalui proses pemasakan yang dapat membantu membunuh organisme yang menempel pada permukaan sayuran.
STH merupakan kelompok cacing nematoda usus yang membutuhkan tanah dalam siklus penularannya. Spesies yang umum ditemukan di Indonesia antara lain Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Ancylostoma duodenale, dan Necator americanus. Infeksi cacing ini dapat berlangsung secara kronis dan sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal.
Latar belakang penelitian juga menunjukkan bahwa kontaminasi sayuran lalapan bukan sekadar kemungkinan. Studi sebelumnya menemukan telur STH pada berbagai sayuran di sejumlah daerah. Penelitian di pasar tradisional Bekasi, misalnya, melaporkan prevalensi telur STH pada kubis sebesar 25 persen, sementara penelitian di Medan menemukan angka 8,3 persen. Pada mentimun di Palembang, penelitian sebelumnya bahkan menemukan 6 dari 12 sampel dari pedagang kaki lima positif atau sekitar 50 persen.
Namun, data mengenai kontaminasi sayuran yang langsung disajikan sebagai lalapan di warung makan Samarinda masih terbatas. Kondisi tersebut menjadi alasan Maulani dan tim memilih kawasan sekitar SDN 016 Samarinda Seberang sebagai lokasi penelitian. Kawasan itu memiliki aktivitas pedagang makanan yang cukup tinggi dan menjadi tempat anak-anak membeli makanan.
28 Sampel Kubis dan Mentimun Diperiksa
Penelitian menggunakan desain observasional deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Sampel dikumpulkan dari dua warung lalapan yang dipilih secara purposif karena merupakan warung yang menyajikan lalapan setiap hari.
Total terdapat 28 sampel, terdiri atas 14 sampel kubis dan 14 sampel mentimun. Masing-masing warung menyumbangkan tujuh sampel untuk setiap jenis sayuran. Dari empat warung yang awalnya teridentifikasi, hanya dua yang memenuhi kriteria karena satu warung tutup dan satu lainnya tidak selalu menyediakan lalapan.
Untuk mendeteksi telur cacing, peneliti menggunakan metode sedimentasi di Laboratorium Parasitologi Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur. Setiap sampel dipotong kecil, ditimbang sebanyak 50 gram, kemudian direndam dalam 500 mililiter larutan NaOH 0,2 persen selama 30 menit.
Cairan hasil perendaman kemudian disentrifugasi selama lima menit pada kecepatan 1.500 rpm. Endapan yang diperoleh diperiksa menggunakan mikroskop dengan pembesaran 10 kali dan 40 kali untuk melihat keberadaan telur STH.
Metode sedimentasi bekerja dengan memanfaatkan perbedaan berat jenis sehingga telur cacing dapat mengendap dan diperiksa secara mikroskopis. Peneliti mencatat bahwa metode ini relatif sederhana, meski memiliki keterbatasan dalam mendeteksi kontaminasi yang sangat ringan.
Semua Sampel Negatif Telur Cacing
Hasil pemeriksaan menunjukkan temuan yang cukup jelas: tidak satu pun dari 28 sampel mengandung telur STH.
Dari 14 sampel kubis dan 14 sampel mentimun, seluruhnya dinyatakan negatif. Dengan demikian, prevalensi kontaminasi STH dalam sampel yang diperiksa adalah 0 persen, sedangkan 100 persen sampel berada dalam kategori negatif. Pemeriksaan mikroskopis pada pembesaran 10 kali dan 40 kali juga tidak menemukan struktur yang sesuai dengan morfologi telur STH.
Tidak ditemukan pula empat spesies STH yang menjadi fokus identifikasi, yaitu Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Ancylostoma duodenale, dan Necator americanus. Masing-masing tercatat dengan frekuensi 0 dan persentase 0 persen.
Sanitasi Warung Diduga Berperan
Maulani dan rekan-rekannya mengaitkan hasil negatif tersebut dengan kondisi sanitasi di kedua warung. Pengamatan lapangan menunjukkan area pencucian bahan makanan mentah terpisah dari area memasak. Kedua warung juga menggunakan air mengalir yang bersih untuk mencuci sayuran.
Selain itu, kedua warung tidak berada dekat saluran drainase yang berpotensi menjadi sumber kontaminasi tanah. Pada salah satu warung, sayuran dan makanan ditempatkan di rak yang terkena sinar matahari. Warung lainnya menggunakan tempat penyimpanan yang dilengkapi penutup untuk mencegah serangga hinggap pada makanan.
Peneliti juga menyoroti kondisi penyimpanan sayuran. Telur STH membutuhkan lingkungan lembap dan terlindung dari sinar matahari untuk bertahan. Karena itu, kondisi penyimpanan yang kering dan terkena sinar matahari diduga turut mengurangi peluang bertahannya telur cacing pada permukaan sayuran.
Hasil ini berbeda dengan sejumlah penelitian sebelumnya yang dilakukan di pasar tradisional. Studi di Samarinda pada 2019 menemukan telur STH pada 2 dari 27 sampel kubis atau sekitar 7 persen. Sementara itu, penelitian di Bekasi, Medan, dan Palembang melaporkan tingkat kontaminasi yang lebih tinggi pada beberapa jenis sayuran.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa lokasi dan cara penanganan sayuran dapat memengaruhi risiko kontaminasi. Pasar tradisional, misalnya, dapat melibatkan lebih banyak proses penanganan dan penyimpanan terbuka sebelum sayuran dibeli. Di warung makan, sayuran dapat dibeli dalam jumlah lebih kecil, dicuci menjelang penyajian, dan langsung digunakan.
Tetap Perlu Waspada Saat Mengonsumsi Lalapan
Meski seluruh sampel dalam penelitian ini negatif, hasil tersebut tidak berarti semua lalapan bebas dari telur cacing. Peneliti menegaskan bahwa pemeriksaan hanya mencakup 28 sampel dari dua warung dan hanya dua jenis sayuran.
Penelitian juga belum mengukur secara kuantitatif hubungan antara kebersihan pribadi pedagang dan tingkat kontaminasi sayuran. Karena itu, penelitian lanjutan disarankan melibatkan lebih banyak warung, lebih banyak jenis lalapan, serta menganalisis hubungan antara praktik higiene pedagang dan kontaminasi STH.
Bagi konsumen, temuan ini memperkuat pentingnya memilih tempat makan dengan kondisi sanitasi baik dan memastikan sayuran mentah dicuci menggunakan air bersih yang mengalir. Kebersihan tangan dan kuku pedagang juga penting karena telur STH dapat berpindah melalui tangan yang tidak bersih.
Profil Penulis
- Mutia Maulani — Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur; penelitian berfokus pada pemeriksaan kontaminasi telur Soil Transmitted Helminths pada sayuran lalapan.
- Agus Evendi — Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur; bertindak sebagai corresponding author.
- Aliful Karim — Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur.
- Lamri — Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur.
Artikel tidak mencantumkan gelar akademik masing-masing penulis maupun bidang keahlian yang lebih spesifik, sehingga informasi tersebut tidak ditambahkan di luar sumber penelitian.
Sumber Penelitian
Maulani, Mutia; Evendi, Agus; Karim, Aliful; Lamri. “Prevalence of Soil Transmitted Helminths Egg Contamination in Cabbage (Brassica oleracea var. capitata) and Cucumber (Cucumis sativus).” Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 8, 2026, hlm. 2807–2816. DOI: 10.55927/fjmr.v5i8.171.
0 Komentar