Pertumbuhan Ekonomi ASEAN Terancam Bencana Alam dan Terorisme

Ilustrasi by AI

Jakarta — Bencana alam dan terorisme memiliki hubungan negatif dengan pertumbuhan ekonomi di enam negara ASEAN, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Kamboja. Temuan tersebut berasal dari penelitian Dwi Mahroji, Rita Yuni Mulyanti, dan Setia Dharma yang menganalisis data ekonomi keenam negara selama 2010–2024. Menggunakan data panel dan Fixed Effect Model, penelitian ini menemukan bahwa kedua jenis guncangan tersebut berkaitan dengan penurunan pertumbuhan ekonomi pada periode berikutnya, dengan hubungan negatif terorisme yang relatif lebih kuat.

Pertumbuhan ekonomi menjadi salah satu indikator penting untuk melihat perkembangan dan kesejahteraan suatu negara. Pertumbuhan yang berkelanjutan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan, serta mendukung pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik. Namun, kemampuan suatu negara untuk mempertahankan pertumbuhan tidak hanya bergantung pada kebijakan ekonomi. Faktor lingkungan dan keamanan juga dapat memberikan tekanan terhadap aktivitas ekonomi.

ASEAN termasuk salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi yang dinamis. Industrialisasi, investasi asing, perdagangan regional, dan pertumbuhan penduduk telah mendukung perkembangan ekonomi sejumlah negara anggotanya. Di sisi lain, kawasan ini memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap bencana alam dan berbagai persoalan keamanan.

Bencana alam menjadi salah satu ancaman utama. Sejumlah negara ASEAN berada di kawasan Pacific Ring of Fire dan menghadapi berbagai risiko akibat perubahan iklim. Gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, badai tropis, kekeringan, dan tanah longsor dapat merusak infrastruktur serta aset produktif. Gangguan tersebut kemudian dapat menghentikan produksi, menghambat rantai pasok, menurunkan hasil pertanian, dan meningkatkan pengeluaran pemerintah untuk tanggap darurat serta pembangunan kembali.

Dampak ekonomi juga dapat muncul dari persoalan keamanan. Terorisme dapat menurunkan kepercayaan investor, mengurangi aktivitas pariwisata, mengganggu operasional bisnis, meningkatkan biaya keamanan, dan memperbesar ketidakpastian ekonomi. Dalam kondisi keamanan yang berkepanjangan, perusahaan dapat menunda investasi dan ekspansi, sementara pemerintah berpotensi mengalihkan anggaran dari sektor produktif menuju sektor keamanan.

Penelitian Mahroji, Mulyanti, dan Dharma menjadi penting karena penelitian sebelumnya lebih sering membahas bencana alam atau terorisme secara terpisah. Studi ini memasukkan kedua faktor tersebut dalam satu model untuk melihat bagaimana risiko lingkungan dan keamanan secara bersamaan berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi di ASEAN.

Menggunakan Data Enam Negara ASEAN

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan balanced panel data dari enam negara selama 2010–2024. Total data yang dianalisis mencapai 90 observasi negara-tahun. Negara yang diteliti adalah Indonesia, Malaysia, Kamboja, Filipina, Thailand, dan Vietnam. Pemilihan negara didasarkan pada ketersediaan dan konsistensi data pertumbuhan ekonomi, bencana alam, serta terorisme.

Data pertumbuhan ekonomi diperoleh dari World Bank World Development Indicators. Informasi mengenai terorisme berasal dari Institute for Economics & Peace, terutama Global Terrorism Index dan kumpulan data terkait terorisme. Sementara itu, data bencana alam diperoleh dari basis data bencana internasional dan diperiksa silang dengan ASEANstats serta sumber internasional lainnya.

Pertumbuhan ekonomi diukur menggunakan persentase pertumbuhan tahunan Produk Domestik Bruto (PDB) riil. Bencana alam diukur berdasarkan jumlah kejadian bencana yang tercatat setiap tahun, sedangkan terorisme diukur berdasarkan jumlah insiden terorisme. Peneliti menggunakan jeda satu periode atau one-period lag, sehingga kejadian bencana dan terorisme pada periode sebelumnya dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada periode berikutnya.

Beberapa model data panel diuji sebelum menentukan model utama, yaitu Common Effect Model, Fixed Effect Model, dan Random Effect Model. Hasil uji Chow dan Hausman sama-sama menghasilkan probabilitas 0,0000. Hasil tersebut mendukung penggunaan Fixed Effect Model, yang memperhitungkan karakteristik khusus masing-masing negara yang relatif tetap sepanjang periode penelitian.

Bencana Alam Berkaitan dengan Penurunan Pertumbuhan

Hasil penelitian menunjukkan koefisien bencana alam sebesar −0,0138664. Angka negatif tersebut menunjukkan adanya hubungan berlawanan antara kejadian bencana alam pada periode sebelumnya dan pertumbuhan ekonomi pada periode berikutnya. Dalam model yang digunakan, kenaikan 1 persen kejadian bencana alam pada periode sebelumnya berkaitan dengan penurunan sekitar 0,0139 persen pertumbuhan ekonomi pada periode berikutnya, dengan faktor lain dianggap tetap.

Hubungan tersebut dapat dijelaskan melalui kerusakan infrastruktur, aset produktif, fasilitas pertanian dan industri, serta terganggunya transportasi dan rantai pasok. Ketika kapasitas produksi menurun, proses pemulihan dapat membutuhkan waktu sehingga dampak ekonomi tidak selalu berhenti pada tahun ketika bencana terjadi.

Meski demikian, penelitian tidak menyatakan bahwa setiap bencana memberikan dampak ekonomi dengan tingkat yang sama. Dampaknya dapat berbeda berdasarkan jenis bencana, tingkat keparahan, waktu kejadian, serta sektor ekonomi yang terkena dampak. Karena itu, koefisien negatif dalam penelitian ini menggambarkan hubungan rata-rata berdasarkan keseluruhan negara dan periode yang dianalisis.

Terorisme Menunjukkan Hubungan Negatif Lebih Besar

Terorisme memiliki koefisien sebesar −0,0787206. Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas terorisme pada periode sebelumnya berkaitan dengan penurunan pertumbuhan ekonomi pada periode berikutnya. Dalam model log-log yang digunakan, peningkatan 1 persen terorisme pada periode sebelumnya berkaitan dengan penurunan sekitar 0,0787 persen pertumbuhan ekonomi pada periode berikutnya.

Nilai absolut koefisien terorisme lebih besar daripada koefisien bencana alam. Dengan demikian, dalam model penelitian ini, terorisme memiliki hubungan negatif yang relatif lebih kuat dengan pertumbuhan ekonomi dibandingkan bencana alam. Namun, peneliti menegaskan bahwa kedua koefisien tidak dapat dianggap sebagai perbandingan langsung mengenai total kerugian ekonomi karena kedua variabel memiliki skala pengukuran dan karakteristik data yang berbeda.

Terorisme dapat memengaruhi perekonomian melalui berbagai jalur. Ketidakpastian keamanan dapat membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam melakukan investasi dan ekspansi. Aktivitas pariwisata juga dapat menurun, kegiatan bisnis terganggu, dan biaya keamanan meningkat. Dampaknya bahkan dapat bertahan setelah insiden terjadi karena masyarakat dan perusahaan dapat mengubah keputusan investasi, konsumsi, maupun lokasi usaha berdasarkan persepsi terhadap keamanan.

Ketahanan Bencana dan Keamanan Perlu Menjadi Bagian Kebijakan Ekonomi

Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa bencana alam dan terorisme sama-sama memiliki hubungan negatif dengan pertumbuhan ekonomi pada periode berikutnya di enam negara ASEAN. Bencana alam memiliki koefisien −0,0138664, sedangkan terorisme memiliki koefisien −0,0787206. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya ketahanan ekonomi dalam menghadapi guncangan lingkungan maupun keamanan.

Peneliti merekomendasikan agar negara-negara ASEAN memperkuat pengurangan risiko bencana melalui pembangunan infrastruktur yang tangguh, sistem peringatan dini, kesiapsiagaan darurat, serta mekanisme rekonstruksi yang efektif. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi lamanya dampak ekonomi setelah bencana terjadi.

Di bidang keamanan, penguatan institusi penanggulangan terorisme dan kerja sama keamanan regional juga dinilai penting. Perlindungan terhadap infrastruktur ekonomi dan penciptaan lingkungan bisnis yang stabil dapat membantu mempertahankan kepercayaan investor serta mendukung aktivitas ekonomi. Kebijakan keamanan, dengan demikian, tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari strategi pembangunan ekonomi.

Penelitian ini juga menyoroti pentingnya memperhitungkan dampak yang tertunda. Rekonstruksi infrastruktur, pemulihan kapasitas produksi, lapangan kerja, dan pendapatan masyarakat setelah bencana dapat membutuhkan beberapa periode. Hal serupa dapat terjadi setelah terorisme karena pelaku ekonomi membutuhkan waktu untuk menyesuaikan keputusan mereka terhadap perubahan persepsi risiko keamanan.

Pada akhirnya, penelitian Dwi Mahroji, Rita Yuni Mulyanti, dan Setia Dharma memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi ASEAN tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi konvensional. Kemampuan negara dalam menghadapi bencana alam dan menjaga stabilitas keamanan juga menjadi bagian penting dari ketahanan ekonomi. Bagi ASEAN, penguatan manajemen risiko bencana dan kebijakan keamanan regional dapat menjadi langkah penting untuk menjaga pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan.

Profil Penulis

Dwi Mahroji — Universitas Mitra Bangsa.

Rita Yuni Mulyanti — Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta.

Setia Dharma — Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Economic Growth under Threat: The Effects of Natural Disasters and Terrorism in Six ASEAN Countries

Jurnal: East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5 No. 8, 2026, halaman 3555–3570.

DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i8.287

Link Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr

Posting Komentar

0 Komentar