Riset Universitas Negeri Medan Ungkap Nilai Kemanusiaan Dominan dalam Naskah Drama Klasik Victorian Caste


Pengorbanan pribadi dan kepedulian sosial menjadi kunci utama dalam meruntuhkan sekat kelas sosial yang kaku. Temuan tersebut diungkap oleh tim peneliti dari Universitas Negeri Medan—Aida Syahputri Sihombing, Mia Elbinaria Purba, Rosa Linda, Tita Grace Sianipar, dan Syamsul Bahri—dalam riset ilmiah yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS). Studi ini membongkar dinamika hubungan antarkelas dalam naskah drama komedi klasik karya Thomas William Robertson berjudul Caste (1867). Penelitian ini penting karena memberikan bukti empiris mengenai bagaimana nilai-nilai humanisme digunakan dalam karya sastra teater untuk menantang hierarki sosial dan menegakkan martabat manusia.

Secara kontekstual, struktur masyarakat pada era Victorian di Inggris ditandai oleh pemisahan kelas sosial yang sangat ketat dan diskriminatif. Naskah drama Caste menghadirkan konflik dramatis saat George D'Alroy, seorang bangsawan dan perwira militer, memilih menikahi Esther Eccles, seorang penari balet dari kalangan rakyat miskin. Pertentangan antara aturan status sosial dan kebebasan individu dalam drama ini menjadi cerminan nyata dari pergolakan nilai kemanusiaan yang berhadapan dengan sistem otoritas yang kaku.

Metodologi yang digunakan oleh para peneliti Universitas Negeri Medan adalah metode kualitatif deskriptif dengan menerapkan kerangka teori humanisme Budi Hardiman. Peneliti melakukan pembacaan cermat (close reading) dan pencatatan terhadap dialog serta interaksi antarkarakter dalam naskah drama Caste. Data percakapan kemudian dikategorikan dan dihitung persentasenya ke dalam enam indikator nilai humanisme utama.

Hasil analisis empiris menunjukkan bahwa nilai-nilai kemanusiaan terwujud dalam 32 data tuturan dialog dengan sebaran sebagai berikut:

  • Pengorbanan / Sacrifice (25%): Menjadi nilai humanisme yang paling dominan dengan 8 data. Pengorbanan menjadi penggerak utama cerita, ditunjukkan saat George rela melepas gelar bangsawan dan status sosialnya demi menikahi Esther, serta keteguhan Esther dalam menjaga kehormatan di tengah kemiskinan.
  • Kepedulian / Caring for Others (20%): Ditemukan sebanyak 6 data. Nilai ini tercermin melalui perhatian tulus dan kasih sayang antarkarakter tanpa memandang status sosial, seperti sikap lembut Esther kepada ibunya.
  • Menghargai Pendapat / Appreciate Opinions (15%): Muncul sebanyak 5 data. Nilai ini terlihat saat karakter dari kelas berbeda saling mendengarkan dan menghargai pandangan hidup masing-masing dalam dialog yang terbuka.
  • Kerja Sama / Cooperation (15%): Ditemukan sebanyak 5 data. Komitmen bersama ini ditunjukkan oleh Esther dan saudaranya, Polly, untuk saling mendukung dan bertahan hidup di tengah krisis ekonomi.
  • Solidaritas / Solidarity (15%): Muncul sebanyak 5 data. Bentuk persatuan ini terlihat dari tekad bulat George dan Esther untuk berdiri bersama menghadapi tekanan norma masyarakat.
  • Tolong-menolong / Helping (10%): Ditemukan sebanyak 3 data. Nilai ini hadir dalam aksi nyata, seperti bantuan praktis Polly dalam merawat anak Esther di masa-masa sulit.

Temuan riset ini membawa implikasi penting bagi pengembangan ilmu sastra, pendidikan karakter, dan dunia teater modern. Hasil penelitian membuktikan bahwa drama tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan panggung, melainkan sebagai media negosiasi sosial dan laboratorium kemanusiaan. Bagi akademisi dan praktisi seni pertunjukan, kajian ini memberikan panduan kuantitatif dan kualitatif bahwa dialog yang menekankan empati serta pengorbanan efektif dalam menyampaikan pesan kesetaraan moral kepada penonton.

Penelitian dari Universitas Negeri Medan ini mengukuhkan bahwa rasa empati, dialog terbuka, dan solidaritas sosial mampu mengikis prasangka terinstitusi dalam masyarakat. Sebagaimana ditegaskan oleh Aida Syahputri Sihombing dan timnya, nilai pengorbanan yang mendominasi cerita memperlihatkan bahwa martabat sejati seorang manusia tidak ditentukan oleh status kelahiran atau kekayaan, melainkan oleh integritas moral dan keberanian membela keadilan.

Profil Penulis

Aida Syahputri Sihombing, S.Pd., merupakan peneliti di bidang sastra dan drama dari Universitas Negeri Medan. Fokus kajian akademisnya meliputi analisis nilai-nilai humanisme, teater klasik, dan kritik sastra. Penelitian ini disusun bersama tim peneliti dari Universitas Negeri Medan, yaitu Mia Elbinaria Purba, Rosa Linda, Tita Grace Sianipar, dan Syamsul Bahri.

Sumber Penelitian

 


Posting Komentar

0 Komentar