Temuan ini penting karena affiliate marketing semakin menyatu dengan aktivitas belanja di media sosial. Melalui sistem tersebut, kreator konten atau influencer mempromosikan produk menggunakan tautan khusus dan memperoleh komisi ketika konsumen melakukan pembelian. TikTok, Facebook, Instagram, dan Shopee menjadi bagian dari ekosistem yang membuat rekomendasi produk semakin mudah ditemukan calon pembeli.
Di tengah derasnya konten promosi, persoalan kepercayaan menjadi semakin penting. Konsumen dapat menemukan berbagai ulasan, video promosi, dan siaran langsung setiap hari, tetapi tidak semuanya dipersepsikan sebagai informasi yang jujur atau autentik. Konten yang dianggap berlebihan, menyesatkan, atau terlalu berorientasi pada keuntungan dapat mengurangi keyakinan konsumen terhadap rekomendasi affiliate.
TikTok Shop menjadi platform paling dominan
Peneliti mengumpulkan data dari 287 mahasiswa tahun ketiga dan keempat College of Business and Accountancy Gordon College pada tahun akademik 2025–2026. Populasi yang menjadi sasaran penelitian mencapai 1.011 mahasiswa dari lima program studi. Sampel dipilih menggunakan stratified random sampling, dengan 145 mahasiswa tahun ketiga dan 142 mahasiswa tahun keempat.
Meski sering melihat konten affiliate, sebagian besar mahasiswa tidak menunjukkan perilaku yang berlebihan. Sebanyak 40,07 persen responden menghabiskan 10–30 menit per hari untuk melihat konten affiliate. Tingkat interaksi, klik tautan, dan pembelian melalui tautan affiliate juga paling banyak berada pada kategori sedang.
Keaslian pengalaman lebih penting daripada jumlah pengikut
Salah satu temuan menarik adalah mahasiswa tidak semata-mata menilai kredibilitas affiliate dari jumlah pengikut. Dalam aspek kredibilitas, pernyataan bahwa reputasi affiliate memengaruhi kepercayaan memperoleh nilai rata-rata tertinggi, yaitu 3,27. Sementara itu, anggapan bahwa jumlah pengikut yang lebih besar berarti kredibilitas lebih tinggi mendapatkan nilai 3,17.
Keaslian pengalaman juga menjadi faktor penting. Pernyataan bahwa kepercayaan meningkat ketika affiliate menggunakan produk secara pribadi memperoleh nilai rata-rata 3,33, tertinggi dalam indikator keaslian ulasan. Demonstrasi produk secara nyata juga mendapat nilai tinggi, yakni 3,31.
Dengan kata lain, konsumen dalam studi ini cenderung lebih percaya pada rekomendasi yang terlihat berasal dari pengalaman nyata dibandingkan sekadar popularitas pembuat konten. Temuan tersebut memperkuat pentingnya komunikasi yang jujur, transparan, dan berbasis pengalaman dalam affiliate marketing.
Penempatan link punya hubungan terkuat dengan kepercayaan
Platform dan cara penyajian konten juga berpengaruh. Responden memberikan penilaian tinggi terhadap video pendek dan fitur belanja langsung di dalam aplikasi. Keduanya memperoleh nilai rata-rata 3,31 untuk pernyataan bahwa format tersebut mendorong klik atau pembelian.
Namun, dari empat dimensi yang diteliti, penempatan tautan affiliate memiliki hubungan statistik paling kuat dengan kepercayaan konsumen, dengan koefisien korelasi r = 0,77. Keaslian ulasan berada di urutan berikutnya dengan r = 0,74, kredibilitas affiliate r = 0,71, dan platform yang digunakan r = 0,69. Secara keseluruhan, strategi affiliate marketing memiliki hubungan positif yang kuat dengan kepercayaan konsumen, dengan r = 0,78 dan p = 0,000.
Analisis lanjutan menunjukkan seluruh faktor tersebut juga menjadi prediktor signifikan terhadap kepercayaan. Model penelitian memiliki R² = 0,61, yang berarti kombinasi variabel strategi affiliate marketing dalam model berkaitan dengan 61 persen variasi kepercayaan konsumen yang diukur dalam studi tersebut.
Pelajaran bagi bisnis dan konsumen
Bagi pelaku usaha dan affiliate marketer, hasil ini menunjukkan bahwa membangun kepercayaan tidak cukup hanya dengan meningkatkan jangkauan promosi. Kredibilitas, transparansi, pengalaman menggunakan produk, kualitas ulasan, pemilihan platform, serta tautan yang mudah ditemukan dan diakses menjadi bagian penting dari strategi pemasaran digital.
Peneliti juga menemukan bahwa tingkat kepercayaan konsumen secara keseluruhan berada pada kategori tinggi, dengan nilai rata-rata 3,25. Meski demikian, responden tetap menunjukkan sikap kritis. Indikator verifikasi sebelum membeli hanya berada pada kategori sedang dengan nilai 3,22, yang menunjukkan bahwa mahasiswa masih melakukan pemeriksaan terhadap informasi produk sebelum mengambil keputusan pembelian.
Bagi konsumen, temuan ini menjadi pengingat bahwa konten affiliate sebaiknya tidak diterima begitu saja. Rekomendasi dari influencer atau affiliate dapat membantu menemukan produk, tetapi informasi mengenai kualitas, harga, dan manfaat produk tetap perlu diverifikasi sebelum membeli.
Profil penulis
Artikel ini ditulis oleh Ayesha Anne R. Abella, Lian Ashley Alabarca, Shawn Arichea, Ariel Balingasa, Renalyn D. Calimlim, Brad Axl Cantero, Joy Ann Ragasa, dan Roger Idos, seluruhnya berafiliasi dengan Gordon College, Filipina. Ayesha Anne R. Abella tercatat sebagai corresponding author. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian individual masing-masing penulis; bidang yang tercermin dari penelitian mereka adalah affiliate marketing, digital marketing, social commerce, dan consumer trust.
0 Komentar