Temuan ini penting bagi pengelola agrowisata karena persaingan destinasi wisata kini tidak hanya ditentukan oleh keunikan tempat dan kualitas pengalaman pengunjung. Kemampuan sebuah destinasi untuk memperkenalkan dirinya melalui kanal digital juga semakin menentukan apakah calon wisatawan mengetahui, tertarik, dan akhirnya memilih destinasi tersebut.
Sangkanika Edugarden Hadapi Tantangan Promosi Digital
Sangkanika Edugarden Agrotourism, yang juga dikenal sebagai agrowisata buah naga kuning Sangkanika, berada di Desa Sangkanurip, Kecamatan Cigandamekar. Destinasi ini menawarkan konsep wisata edukasi yang menggabungkan budidaya buah naga kuning, aktivitas memetik buah, kuliner lokal, serta edukasi pertanian organik.
Namun, jumlah kunjungan ke destinasi tersebut masih mengalami fluktuasi. Data kunjungan pada Juni–November 2025 menunjukkan pola naik-turun yang belum stabil. Survei awal terhadap 15 pengunjung pada Juli 2025 juga mengidentifikasi promosi digital yang belum optimal sebagai salah satu persoalan utama.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena promosi yang kurang efektif dapat mengurangi ketertarikan wisatawan untuk berkunjung kembali. Dalam jangka panjang, penurunan kunjungan berpotensi memengaruhi keberlanjutan bisnis agrowisata.
Di tengah perubahan perilaku wisatawan, media digital menjadi semakin penting. Wisatawan kini menggunakan media digital untuk mencari informasi, membandingkan destinasi, melihat pengalaman pengunjung lain, dan menentukan pilihan perjalanan.
Tiga Strategi Digital yang Diteliti
Fahmi Naha Bafil’Amali, Wachdijono, dan Akhmad Jaeroni tidak hanya melihat promosi digital secara umum. Mereka menguji tiga faktor yang dapat memperkuat promosi Sangkanika Edugarden: influencer, media sosial, dan acara wisata.
Influencer dipandang sebagai komunikator yang dapat membangun kepercayaan melalui pengalaman dan konten yang dianggap lebih dekat dengan pengikutnya. Kredibilitas, keaslian, daya tarik, keahlian, serta kesesuaian influencer dengan destinasi menjadi bagian yang diperhatikan dalam penelitian.
Media sosial berfungsi sebagai saluran penyebaran informasi yang cepat dan interaktif. Konsistensi konten, relevansi informasi, respons terhadap audiens, serta pemanfaatan fitur platform menjadi aspek yang diukur.
Sementara itu, acara wisata dapat menciptakan pengalaman langsung yang lebih mudah dibagikan secara digital. Dalam konteks agrowisata, kegiatan seperti festival panen, workshop pertanian, edukasi bercocok tanam, dan aktivitas memetik buah dapat menjadi sumber konten sekaligus memperkuat identitas destinasi.
Melibatkan 132 Pengunjung
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 132 pengunjung Sangkanika Edugarden. Data utama dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur dengan skala lima tingkat yang disebarkan menggunakan Google Forms selama April–Mei 2026.
Media Sosial Menjadi Faktor Terkuat dalam Promosi Digital
Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga faktor yang diuji memiliki pengaruh positif terhadap promosi digital.
Temuan utama penelitian:
- Influencer → promosi digital: koefisien 0,183 dengan nilai signifikansi 0,010.
- Media sosial → promosi digital: koefisien 0,418 dengan nilai signifikansi 0,000.
- Acara wisata → promosi digital: koefisien 0,325 dengan nilai signifikansi 0,000.
- Promosi digital → daya saing: koefisien 0,758 dengan nilai signifikansi 0,000.
- Angka tersebut menunjukkan bahwa media sosial memiliki koefisien pengaruh paling besar terhadap promosi digital dibandingkan dengan influencer dan acara wisata dalam model penelitian ini.
Secara keseluruhan, influencer, media sosial, dan acara wisata mampu menjelaskan 66,8 persen variasi promosi digital. Sementara itu, promosi digital menjelaskan 57,4 persen dari variasi daya saing Sangkanika Edugarden. Sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak masuk dalam model penelitian.
Promosi Digital Menjadi Penghubung Utama
Temuan yang paling penting adalah peran promosi digital sebagai penghubung antara strategi pemasaran dan daya saing destinasi.
Uji mediasi menunjukkan bahwa promosi digital secara signifikan memediasi pengaruh ketiga faktor tersebut terhadap daya saing. Jalur influencer melalui promosi digital memiliki nilai Z 2,062 dengan p-value 0,039. Jalur media sosial menghasilkan Z 2,893 dengan p-value 0,004, sedangkan jalur acara wisata menghasilkan Z 2,635 dengan p-value 0,008.
Dengan kata lain, keberadaan influencer, aktivitas media sosial, dan acara wisata akan lebih kuat dampaknya jika semuanya diintegrasikan ke dalam strategi promosi digital yang efektif.
Peneliti juga menemukan perbedaan besaran efek total terhadap daya saing. Acara wisata memiliki efek total 0,468, influencer 0,256, dan media sosial 0,212 dalam model yang dianalisis.
Implikasi bagi Pengelola Agrowisata
Bagi pengelola Sangkanika Edugarden, hasil ini memberikan arah praktis. Strategi promosi tidak cukup hanya mengunggah konten atau bekerja sama dengan influencer secara terpisah. Ketiganya perlu dirancang sebagai satu ekosistem promosi digital.
Peneliti merekomendasikan agar pengelola bekerja sama dengan influencer yang kredibel, menjaga pengelolaan media sosial agar konsisten dan informatif, serta menyelenggarakan acara wisata yang inovatif dan mempromosikannya melalui platform digital.
Strategi tersebut berpotensi membantu agrowisata memperluas jangkauan informasi, memperkuat citra destinasi, meningkatkan daya tarik produk wisata, serta mendukung pertumbuhan pengunjung.
Temuan ini juga relevan bagi pengembangan agrowisata berbasis masyarakat. Destinasi pertanian tidak hanya menjual pemandangan, tetapi juga pengalaman seperti berinteraksi dengan alam, belajar pertanian, menikmati produk lokal, dan mengikuti aktivitas masyarakat setempat. Promosi digital dapat membantu pengalaman tersebut menjangkau calon wisatawan yang lebih luas.
Namun, peneliti menekankan bahwa masih terdapat faktor lain di luar model yang dapat memengaruhi promosi dan daya saing. Studi lanjutan disarankan memasukkan electronic word-of-mouth, kualitas konten, citra merek, keterlibatan audiens, dan minat berkunjung. Penelitian mendatang juga dapat membandingkan efektivitas Instagram, TikTok, Facebook, dan YouTube secara lebih spesifik.
Profil Penulis
Fahmi Naha Bafil’Amali — Peneliti dari Departemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon.
Wachdijono — Peneliti dan corresponding author dari Departemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon.
Akhmad Jaeroni — Peneliti dari Departemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon.
Ketiganya mengkaji isu yang berada pada persimpangan agribisnis, pemasaran digital, pariwisata, dan daya saing agrowisata.
Sumber Penelitian
Judul: The Role of Digital Promotion in Mediating the Effects of Influencers, Social Media, and Tourism Events on the Competitiveness of Agrotourism (A Case Study of Sangkanika Edugarden Agrotourism)
Penulis: Fahmi Naha Bafil’Amali, Wachdijono, Akhmad Jaeroni
Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR)
Volume: 5, Nomor 8
Tahun: 2026
Halaman: 1425–1444
0 Komentar