Program Work Immersion Siswa SMA Dinilai Berjalan Baik, Anggaran dan Umpan Balik Masih Perlu Diperkuat


Gambar dibuat oleh AI

Pangasinan, Formosa News — Program Work Immersion bagi siswa Senior High School (SHS) di Filipina dinilai telah berjalan dengan baik, terutama dalam penerapan kurikulum, dukungan administratif, dan pengawasan. Namun, kajian Josepine P. Villanueva dari Lyceum-Northwestern University dan Umingan National High School, serta Christopher L. Infante dari Lyceum-Northwestern University, yang diterbitkan pada 2026, menemukan beberapa aspek yang masih dapat diperkuat, terutama anggaran, koordinasi, dan sistem umpan balik. Temuan ini penting karena program Work Immersion menjadi bagian dari pendidikan yang memperkenalkan siswa pada pengalaman dunia kerja sebelum melanjutkan pendidikan atau memasuki pasar kerja.

Kajian tersebut diterbitkan dalam International Journal of Applied Educational Research (IJAER) melalui artikel berjudul Navigating Senior High School Students’ Work Immersion Program Exposures: Input for Implementation Enhancement. Penelitian melibatkan 137 siswa dan mengevaluasi pelaksanaan program dari lima aspek, yakni kepatuhan terhadap kurikulum, proses pelaksanaan, penilaian perkembangan siswa, pengawasan, serta persoalan administratif.

Work Immersion Menghubungkan Sekolah dengan Dunia Kerja

Work Immersion merupakan bagian dari pendidikan Senior High School di Filipina yang memberikan kesempatan kepada siswa memperoleh pengalaman langsung di lingkungan kerja.

Program ini dirancang agar siswa tidak hanya mempelajari teori di sekolah, tetapi juga memahami bagaimana pengetahuan dan keterampilan digunakan dalam situasi nyata. Pengalaman tersebut dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan teknis sekaligus keterampilan seperti komunikasi, kerja sama, ketepatan waktu, profesionalisme, dan pengambilan keputusan terkait karier.

Dalam sistem pendidikan Filipina, program tersebut menjadi bagian dari reformasi K-12. Republic Act No. 10533 memperpanjang pendidikan dasar formal menjadi 13 tahun, sedangkan DepEd Order No. 30, s. 2017 memberikan pedoman mengenai pelaksanaan Work Immersion. Program tersebut diarahkan untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan kehidupan dan karier serta mempersiapkan diri menghadapi pendidikan lanjutan maupun pekerjaan.

Karena melibatkan sekolah dan institusi mitra, kualitas pelaksanaan Work Immersion tidak hanya ditentukan oleh materi pembelajaran. Persiapan siswa, pengawasan, koordinasi, fasilitas, anggaran, dan komunikasi antara pihak yang terlibat juga menjadi bagian penting.

Penelitian Melibatkan 137 Siswa

Villanueva dan Infante menggunakan pendekatan survei kuantitatif untuk menggambarkan bagaimana siswa menilai pelaksanaan program dan membandingkan penilaian berdasarkan gender.

Responden berasal dari 137 siswa Work Immersion dari total populasi 210 siswa. Mereka merupakan siswa strand Humanities and Social Sciences (HUMSS) pada jalur akademik di sebuah sekolah menengah negeri di bawah DepEd Schools Division Office II, Pangasinan.

Dari 137 responden, 60 siswa laki-laki dan 77 siswa perempuan. Sampel dipilih secara acak sederhana.

Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari Monitoring and Evaluation Tool untuk program Work Immersion sebagaimana tercantum dalam DepEd Order No. 30, s. 2017. Para peserta juga diberikan penjelasan mengenai penelitian, pengelolaan data, serta perlindungan kerahasiaan jawaban mereka.

Data kemudian dianalisis menggunakan nilai rata-rata dan standar deviasi. Peneliti juga menggunakan uji statistik untuk melihat apakah terdapat perbedaan penilaian antara siswa laki-laki dan perempuan.

Pelaksanaan Program Mendapat Penilaian Positif

Secara keseluruhan, siswa memberikan penilaian positif terhadap pelaksanaan Work Immersion. Nilai rata-rata keseluruhan mencapai 3,61 dengan standar deviasi 0,63, yang dikategorikan sebagai “Evident” dalam skala penelitian.

Lima aspek yang dinilai menunjukkan hasil sebagai berikut:

  • Implementasi dan kepatuhan kurikulum: rata-rata 3,63
  • Proses pelaksanaan Work Immersion: 3,60
  • Penilaian perkembangan siswa: 3,56
  • Pengawasan program: 3,58
  • Persoalan administratif: 3,64

Aspek kurikulum memperoleh penilaian cukup kuat. Siswa menilai tujuan program dapat dicapai pada akhir semester dengan skor rata-rata 3,72, sementara kesesuaian program dengan kebutuhan masyarakat memperoleh 3,57. Keselarasan spesialisasi siswa dengan institusi mitra juga memperoleh nilai 3,60.

Pada proses pelaksanaan, pemberian umpan balik mengenai kinerja siswa memperoleh skor 3,70. Kegiatan yang disusun berdasarkan kompetensi memperoleh 3,65, sedangkan persiapan sebelum siswa memasuki lokasi Work Immersion memperoleh 3,50.

Fasilitas Mendapat Nilai Tinggi

Dukungan administratif juga menjadi salah satu kekuatan program.

Pada aspek administratif, akses terhadap fasilitas dan lokasi Work Immersion mendapatkan skor tertinggi, yakni 3,84. Profil institusi mitra yang tersedia untuk siswa, orang tua, dan guru memperoleh 3,82. Persetujuan orang tua memperoleh 3,76, sedangkan orientasi siswa dan orang tua sebelum program dimulai memperoleh 3,74.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa dari sudut pandang siswa, berbagai unsur pendukung program telah tersedia dan berjalan secara relatif baik.

Namun, terdapat satu aspek administratif yang mendapat nilai paling rendah, yaitu alokasi anggaran, dengan skor 3,26. Peneliti melihat aspek ini sebagai salah satu area yang masih dapat diperhatikan untuk meningkatkan konsistensi pelaksanaan program.

Koordinasi dan Umpan Balik Masih Bisa Ditingkatkan

Dalam aspek pengawasan, keberadaan rencana pemantauan yang jelas memperoleh nilai 3,79. Pelaksanaan rencana pemantauan mendapatkan 3,61, sedangkan penggunaan hasil pemantauan untuk memperbaiki pelaksanaan program memperoleh 3,57.

Namun, koordinasi, perencanaan, dan sistem umpan balik mendapatkan nilai 3,39, terendah dalam dimensi pengawasan.

Temuan ini bukan berarti program tidak berjalan, tetapi menunjukkan adanya ruang untuk memperkuat mekanisme komunikasi dan evaluasi antara sekolah, guru, siswa, serta institusi mitra.

Villanueva dan Infante menilai bahwa mempertahankan kekuatan yang sudah ada sambil memperbaiki anggaran, koordinasi, dan mekanisme umpan balik dapat membantu menciptakan pengalaman Work Immersion yang lebih konsisten bagi siswa.

Penilaian Siswa Laki-Laki dan Perempuan Relatif Sama

Salah satu temuan penting lainnya adalah tidak adanya perbedaan yang signifikan antara penilaian siswa laki-laki dan perempuan terhadap pelaksanaan Work Immersion.

Secara keseluruhan, siswa laki-laki memberikan nilai rata-rata 3,62, sedangkan siswa perempuan 3,60. Uji statistik menghasilkan nilai p 0,51, sehingga perbedaan tersebut tidak signifikan.

Hasil yang sama terlihat pada seluruh aspek yang dianalisis. Nilai p untuk implementasi kurikulum adalah 0,62, proses pelaksanaan 0,88, penilaian perkembangan siswa 0,63, pengawasan 0,90, dan persoalan administratif 0,64. Seluruhnya berada di atas batas 0,05 yang digunakan dalam analisis.

Menurut Josepine P. Villanueva dan Christopher L. Infante, kesamaan penilaian tersebut menunjukkan bahwa siswa laki-laki dan perempuan memiliki pengalaman yang relatif konsisten dalam mengikuti program Work Immersion. Para peneliti memandang kondisi tersebut sebagai indikasi bahwa pelaksanaan program memberikan pengalaman yang relatif setara bagi kedua kelompok siswa.

Implikasi bagi Sekolah dan Institusi Mitra

Temuan ini memberikan beberapa masukan bagi pengelola pendidikan.

Sekolah dapat mempertahankan penerapan kurikulum, pengawasan, dukungan administratif, serta persiapan siswa yang telah mendapatkan penilaian positif. Pada saat yang sama, pengelolaan anggaran, koordinasi dengan institusi mitra, dan sistem pemberian umpan balik dapat diperkuat.

Institusi mitra juga memiliki peran penting. Kerja sama yang lebih terstruktur dengan sekolah dapat membantu memperjelas kebutuhan siswa, menyederhanakan proses penempatan, berbagi sumber daya, serta memberikan umpan balik secara berkala.

Para peneliti merekomendasikan agar sekolah dan institusi mitra terus mempertahankan praktik penempatan yang setara serta memperkuat koordinasi agar seluruh siswa memperoleh pengalaman belajar yang berkualitas.

Dengan demikian, Work Immersion tidak sekadar menjadi kegiatan tambahan bagi siswa. Program ini dapat menjadi jembatan antara pembelajaran di sekolah dan pengalaman dunia kerja, selama pelaksanaannya terus dievaluasi dan disempurnakan berdasarkan kebutuhan siswa serta perkembangan lingkungan kerja.

Profil Penulis

Josepine P. Villanueva berafiliasi dengan Lyceum-Northwestern University, Dagupan City, Pangasinan, Filipina, serta Umingan National High School, DepEd Schools Division Office II Pangasinan. Christopher L. Infante berafiliasi dengan Lyceum-Northwestern University, Dagupan City, Pangasinan, Filipina. Artikel ini berfokus pada pendidikan Senior High School, Work Immersion, pengalaman belajar berbasis dunia kerja, evaluasi program pendidikan, dan kesiapan siswa menghadapi pendidikan lanjutan maupun dunia kerja.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Navigating Senior High School Students’ Work Immersion Program Exposures: Input for Implementation Enhancement
Penulis: Josepine P. Villanueva dan Christopher L. Infante
Afiliasi: Lyceum-Northwestern University; Umingan National High School, DepEd Schools Division Office II Pangasinan, Filipina
Jurnal: International Journal of Applied Educational Research (IJAER)
Tahun Publikasi: 2026
Volume: 4, Nomor 3
Halaman: 251–262
DOI: https://doi.org/10.59890/ijaer.v4i3.3

Posting Komentar

0 Komentar