Secara umum, penerapan Kurikulum Merdeka menuntut pendekatan
pembelajaran yang berpusat pada siswa dan berorientasi pada pengembangan
potensi secara aktif. Namun, mata pelajaran IPAS di lapangan kerap disampaikan
secara linier menggunakan media cetak semata, sehingga siswa kehilangan fokus
dan kurang percaya diri untuk berinteraksi. Sebelum penelitian ini dijalankan,
pengamatan awal di kelas V UPTD SD Negeri 65 Parepare menunjukkan bahwa dari 15
siswa, sebanyak 8 siswa (53,33%) tergolong kurang aktif dan hanya 2 siswa
(13,33%) yang benar-benar aktif selama kegiatan belajar berlangsung.
Guna mengatasi kendala pasifnya siswa, para peneliti merancang
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) berbasis model Kurt Lewin yang dilaksanakan
dalam dua siklus berkesinambungan. Setiap siklus mencakup empat tahapan utama:
perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi pada materi IPAS
topik "Indonesiaku Kaya Raya". Model pembelajaran STAD digunakan
untuk membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen guna
mendorong kerja sama tim, sementara platform kuis edukatif Wordwall dimanfaatkan
sebagai media interaktif untuk menguji pemahaman materi secara menyenangkan
melalui laptop atau ponsel. Pengumpulan data dilakukan melalui lembar observasi
dan dokumentasi yang dianalisis secara kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan adanya lonjakan partisipasi siswa serta
peningkatan kualitas pengajaran guru dari Siklus I ke Siklus II:
- Peningkatan
Keterlaksanaan Sintaks STAD: Kepatuhan pelaksanaan langkah-langkah model STAD oleh guru
meningkat dari 69,78% (kategori Cukup) pada Siklus I menjadi 83,11%
(kategori Baik) pada Siklus II.
- Peningkatan
Aktivitas Mengajar Guru:
Performa mengajar guru dalam mengelola kelas dan mengarahkan kelompok naik
dari 73% (kategori Cukup) menjadi 87% (kategori Baik).
- Lonjakan
Keaktifan Siswa:
Keaktifan belajar murid mengalami peningkatan pesat dari 57,15% (kategori
Aktif) pada Siklus I menjadi 92,86% (kategori Sangat Aktif) pada Siklus
II, jauh melampaui indikator keberhasilan yang ditetapkan sebesar 51%.
- Penguatan
Keberanian dan Kolaborasi:
Murid menunjukkan peningkatan signifikan dalam keberanian mengajukan
pertanyaan, menjawab kuis, menyampaikan pendapat, serta bekerja sama dalam
menyelesaikan tugas kelompok.
Dampak dari hasil penelitian ini sangat luas bagi praktisi pendidikan
dan pengambil kebijakan sekolah. Penerapan kolaborasi antara strategi STAD dan
media digital Wordwall terbukti mampu mengubah suasana kelas yang kaku menjadi
ekosistem belajar yang suportif dan kompetitif secara sehat. Guru sekolah dasar
kini dapat menerapkan kombinasi ini untuk meningkatkan keterlibatan siswa tanpa
harus mengorbankan kedalaman materi pelajaran. Bagi pihak sekolah, hasil riset
ini mempertegas pentingnya penyediaan fasilitas teknologi dan jaringan internet
guna mendukung keberlangsungan media pembelajaran berbasis gim edukatif.
"Penggabungan model STAD dengan media Wordwall terbukti efektif
menciptakan suasana belajar yang aktif, interaktif, dan kolaboratif, sehingga
mampu meningkatkan keterlibatan serta keberanian siswa dalam proses
pembelajaran IPAS," ungkap Muhammad Asrul Sultan bersama tim peneliti dari
Universitas Negeri Makassar dalam laporan ilmiahnya.
Profil Penulis Utama
Muhammad Asrul Sultan, S.Pd., M.Pd., merupakan akademisi dan peneliti aktif
pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Negeri
Makassar, Indonesia. Ia memiliki keahlian mendalam di bidang inovasi
pembelajaran dasar, model pembelajaran kooperatif, pengembanan media digital
edukatif, serta penelitian tindakan kelas.
Sumber Penelitian
Sultan, M. A., Amran, M., & Syam, M. F. (2026). The Implementation of the
STAD (Student Team Achievement Divisions) Learning Model Assisted by Wordwall
to Improve Student Engagement in IPAS for Fifth-Grade Students. International
Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), 4(7), 947–958.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijatss.v4i7.306
https://aprmultitechpublisher.my.id/index.php/ijatss

0 Komentar