Program Makan Bergizi Gratis
(MBG) yang diluncurkan oleh Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden
Prabowo Subianto bukan sekadar langkah intervensi gizi anak, melainkan strategi
kebudayaan jangka panjang untuk membentuk karakter manusia berlandaskan
nilai-nilai Pancasila. Hasil penelitian terbaru dari Universitas Halu Oleo
mengonfirmasi bahwa program strategis nasional ini memegang peranan kunci dalam
menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul, disiplin, dan berjiwa nasionalis
untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Kajian ilmiah yang dipublikasikan
dalam International Journal of Global Sustainable Research (IJGSR) edisi
2026 ini ditulis oleh peneliti Ilyas dari Universitas Halu Oleo.
Penelitian ini menyoroti bagaimana pemenuhan nutrisi rutin di sekolah menjadi
wujud nyata kehadiran negara dalam dunia pendidikan, sekaligus instrumen
pembentukan moral publik anak bangsa sejak usia dini.
Menjawab Krisis Gizi dan Angka
Putus Sekolah
Kualitas Sumber Daya Manusia
merupakan kunci utama penggerak roda ekonomi dan kemajuan suatu bangsa. Namun,
pembangunan SDM di Indonesia masih menghadapi tantangan serius berupa persoalan
gizi serta tingginya angka putus sekolah. Data Badan Pusat Statistik (BPS)
mencatat angka putus sekolah pada jenjang SMA/sederajat mencapai 21,61 persen,
SMP/sederajat 6,93 persen, dan SD/sederajat 0,67 persen, yang sebagian besar
dipicu oleh faktor kendala ekonomi keluarga.
Secara medis dan psikologis, anak
yang kekurangan nutrisi mengalami kendala perkembangan mental, daya ingat yang
terbatas, serta rendahnya kapasitas berpikir kritis. Sebaliknya, anak dengan
asupan gizi seimbang memiliki tingkat konsentrasi tinggi dan prestasi akademik
yang lebih baik. Kebijakan MBG hadir untuk memutus rantai masalah tersebut
secara inklusif dan berkelanjutan.
Dengan alokasi anggaran awal
sebesar Rp71 triliun dalam RAPBN, program yang dikembangkan dari visi Asta Cita
ini diproyeksikan menjangkau hingga 82,9 juta penerima manfaat, mencakup anak
sekolah, balita, ibu hamil, hingga ibu menyusui di seluruh Indonesia.
Metodologi Penelitian SLR yang
Terukur
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode Systematic Literature Review (SLR).
Peneliti melakukan penelusuran bibliometrik melalui Google Scholar terhadap 35
publikasi ilmiah.
Setelah dilakukan penyaringan
ketat berdasarkan rentang waktu publikasi (2020–2025) serta fokus pembahasan
pada pengembangan SDM, karakter Pancasila, program MBG, dan Indonesia Emas
2045, terpilih 9 artikel ilmiah bereputasi yang dianalisis secara mendalam
untuk menarik kesimpulan yang faktual dan objektif.
Temuan Utama: Lima Nilai
Karakter Pancasila dari Meja Makan Sekolah
Hasil analisis ilmiah membuktikan
bahwa dampak Program MBG melampaui kesehatan fisik. Makanan gratis yang
disediakan rutin oleh pemerintah di sekolah terbukti efektif menanamkan
nilai-nilai karakter Pancasila pada diri siswa:
- Memperkuat Nasionalisme dan Cinta Tanah Air:
Kehadiran negara yang menyediakan makanan bergizi memupuk kesadaran dan
kepedulian siswa terhadap negaranya, yang kelak melahirkan pejabat dan
pekerja yang jujur serta amanah.
- Melatih Kedisiplinan Sehari-hari: Siswa
dilatih disiplin melalui pembiasaan mengantre saat mengambil makanan,
mengembalikan tempat makan ke lokasi semula, serta membuang sampah pada
tempatnya.
- Meningkatkan Kehadiran dan Semangat Belajar:
Data uji coba menunjukkan peningkatan signifikan pada angka kehadiran
siswa dan tingkat konsentrasi belajar di kelas.
- Menumbuhkan Tanggung Jawab dan Sikap
Antikorupsi: Kebiasaan menyantap porsi yang menjadi haknya dan tidak
mengambil porsi kawan lain membentuk benteng moral awal yang mencegah
perilaku koruptif di masa depan.
- Memupuk Toleransi dan Nilai Religius:
Pembiasaan berdoa sebelum dan sesudah makan sesuai agama masing-masing
memperkuat kerohanian sekaligus melatih rasa saling menghormati perbedaan
di meja makan bersama.
Implikasi Sosial, Ekonomi, dan
Kebijakan Publik
Secara sosial, Program MBG
merupakan wujud nyata pengamalan Sila Ketujuh Pancasila, yaitu "Keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," karena memberikan kesetaraan akses
gizi bagi seluruh anak tanpa memandang latar belakang ekonomi.
Selain itu, program ini
memberikan dampak ganda (multiplier effect) pada perekonomian lokal.
Pelibatan UMKM, petani, dan peternak lokal sebagai pemasok bahan baku dapur
sekolah (seperti telur, tempe, beras, dan sayuran) menggerakkan roda ekonomi
dari tingkat akar rumput (grassroots).
Dalam perspektif sosiologi
pendidikan, sekolah berfungsi layaknya rumah ibadah sipil yang bertugas
mencetak warga negara yang baik (good citizens). Oleh karena itu,
peneliti menekankan pentingnya menjaga integritas pelaksanaan program ini agar
bebas dari penyimpangan anggaran atau korupsi yang dapat merusak kepercayaan
generasi muda.
Kesimpulan
Menghasilkan generasi muda yang
sehat jasmani, berjiwa kuat, serta berkarakter Pancasila merupakan modal
terbesar Indonesia untuk mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045. Program Makan
Bergizi Gratis terbukti menjadi investasi strategis jangka panjang bagi masa
depan bangsa.
Profil Penulis Penelitian
- Nama Lengkap: Ilyas
- Afiliasi Akademis: Fakultas Ekonomi dan
Bisnis, Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari, Indonesia.
- Bidang Keahlian: Ekonomi Pembangunan,
Kebijakan Publik, dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Sumber Referensi Ilmiah
- Judul Artikel: Systematic Literature
Review (SLR): Free Nutritious Meal Program (MBG) in Pancasila-Based Human
Character Development Towards Golden Indonesia 2045
- Jurnal Publikasi: International Journal
of Global Sustainable Research (IJGSR), Vol. 4, No. 7, Tahun 2026,
Halaman 735–740.
- DOI Resmi: https://doi.org/10.59890/ijgsr.v4i7.289
- URL Resmi: https://slamultitechpublisher.my.id/index.php/ijgsr/index
0 Komentar