Program Ekstrakurikuler Atletik Kids di Sekolah Dasar Indonesia Menghadapi Tantangan Latihan dan Fasilitas

Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Kalimantan - Sebuah penelitian yang diterbitkan pada 2026 oleh Norparidi dan Akhmad Abdurahman dari STIA Bina Banua serta Irawanto dari Magister Administrasi Publik UNISKA MAB menemukan bahwa program ekstrakurikuler Atletik Kids di SDN 1 Kapar, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, belum berjalan secara optimal. Data lapangan, termasuk wawancara yang dilakukan pada 20 November 2024, menunjukkan bahwa frekuensi latihan yang hanya sekali seminggu, keterbatasan fasilitas olahraga, metode latihan yang monoton, sistem seleksi peserta yang belum terstruktur, dan pengalaman pelatih yang terbatas menjadi sejumlah kendala dalam pengembangan kemampuan atletik siswa. Kondisi tersebut turut berkaitan dengan belum adanya prestasi SDN 1 Kapar dalam cabang Atletik Kids pada O2SN.

Atletik Kids Tidak Hanya Mengembangkan Kemampuan Olahraga

Atletik Kids merupakan program atletik yang dirancang khusus untuk anak usia 6–12 tahun dengan memadukan keterampilan atletik, permainan, dan kompetisi beregu. Program ini mencakup beberapa nomor seperti Kanga's Escape, Formula One, Turbo Javelin Throw, dan Forward Squat Jumps. Menurut artikel tersebut, program Atletik Kids diperkenalkan secara internasional pada 2001 dan telah diterapkan di berbagai federasi anggota World Athletics dengan jutaan anak sebagai peserta. Di Indonesia, Atletik Kids juga menjadi bagian dari Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), sehingga pengembangan kemampuan siswa sejak tingkat sekolah dasar menjadi penting untuk menemukan bibit atlet sejak dini.

Bagi siswa sekolah dasar, kegiatan olahraga ekstrakurikuler memberikan manfaat yang lebih luas daripada sekadar memenangkan pertandingan. Aktivitas fisik secara rutin dapat membantu mengembangkan kemampuan gerak, kedisiplinan, kepercayaan diri, kerja sama, dan sportivitas.

Namun, manfaat tersebut sangat bergantung pada pengelolaan program. Kegiatan olahraga ekstrakurikuler membutuhkan jadwal latihan yang memadai, pelatih yang kompeten, peralatan yang sesuai, serta sistem untuk mengidentifikasi siswa yang memiliki minat dan potensi.

Kondisi SDN 1 Kapar menggambarkan tantangan tersebut. Meskipun sekolah telah menyelenggarakan program Atletik Kids, data Kelompok Kerja Guru Olahraga (KKGO) Kecamatan Murung Pudak tahun 2024 menunjukkan bahwa sekolah tersebut belum pernah memenangkan kompetisi Atletik Kids dalam O2SN, bahkan pada tingkat kecamatan.

Peneliti Mengevaluasi Program Berdasarkan Kondisi Lapangan

Norparidi, Irawanto, dan Akhmad Abdurahman menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk memahami bagaimana program Atletik Kids berjalan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan pencapaiannya masih terbatas.

Peneliti tidak hanya mengandalkan data angka. Mereka mengumpulkan informasi secara langsung melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi di SDN 1 Kapar, Desa Kapar, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.

Informan penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru kelas, pelatih ekstrakurikuler Atletik Kids, serta orang tua atau wali siswa. Peneliti melihat tiga aspek utama, yaitu jadwal latihan, proses perekrutan peserta, serta ketersediaan sarana dan prasarana.

Informasi yang diperoleh kemudian dibandingkan dari berbagai sumber untuk memastikan konsistensinya. Analisis dilakukan melalui proses pengurangan data, penyajian data, serta penarikan dan pemeriksaan kesimpulan.

Latihan Hanya Sekali Seminggu Membatasi Perkembangan

Masalah pertama yang ditemukan adalah rendahnya frekuensi latihan dan belum terstrukturnya program latihan.

Kegiatan Atletik Kids di SDN 1 Kapar hanya dilakukan sekali dalam seminggu. Jadwal latihan belum tersusun secara optimal, belum memiliki target perkembangan yang dapat diukur untuk setiap siswa, dan belum disertai evaluasi berkala.

Masalah tersebut semakin besar karena metode latihan dinilai kurang bervariasi. Peneliti menemukan bahwa antusiasme siswa cenderung menurun seiring berjalannya program karena mereka tidak melihat perkembangan yang jelas.

Pelatih yang diwawancarai juga menyebut keterbatasan peralatan dan lapangan sekolah yang sempit sebagai faktor yang membatasi variasi latihan.

Perekrutan Peserta Belum Mengidentifikasi Potensi Atletik

Persoalan lainnya berkaitan dengan sistem penerimaan peserta.

Keikutsertaan siswa masih dilakukan secara terbuka tanpa proses seleksi yang terstruktur. Akibatnya, sebagian siswa mengikuti kegiatan karena mengikuti teman, bukan karena memiliki minat atau potensi atletik yang kuat.

Kondisi tersebut dapat menjadi masalah ketika program diarahkan untuk membentuk siswa yang mampu berkompetisi. Siswa yang tidak memiliki motivasi intrinsik berpotensi kesulitan mempertahankan semangat ketika latihan menjadi lebih berat.

Karena itu, Norparidi, Irawanto, dan Abdurahman merekomendasikan sistem perekrutan yang lebih terstruktur dengan mempertimbangkan minat, kemampuan, dan potensi atletik siswa.

Keterbatasan Fasilitas Menjadi Hambatan Utama

Sarana dan prasarana menjadi salah satu persoalan paling penting dalam program tersebut.

SDN 1 Kapar belum memiliki peralatan Atletik Kids yang memadai, seperti gawang anak, matras Formula One, tongkat zig-zag, dan turbo javelin dalam jumlah yang cukup. Lapangan sekolah yang sempit juga menyulitkan pelaksanaan latihan lari cepat dan lempar yang membutuhkan area lebih luas.

Keterbatasan tersebut bukan hanya berkaitan dengan kenyamanan latihan. Kondisi itu membatasi variasi latihan dan menyulitkan siswa mempraktikkan keterampilan teknis yang dibutuhkan dalam kompetisi.

Peneliti juga mengidentifikasi pengalaman pelatih yang masih terbatas sebagai faktor penting. Secara keseluruhan, keterbatasan fasilitas, frekuensi latihan yang rendah, variasi latihan yang kurang, serta kompetensi pelatih yang perlu ditingkatkan menciptakan persoalan yang saling berkaitan dalam pelaksanaan program.

Siswa Tetap Mendapatkan Manfaat Fisik dan Karakter

Meskipun memiliki berbagai kekurangan, penelitian tersebut tidak menyimpulkan bahwa program Atletik Kids tidak memberikan manfaat.

Siswa yang aktif mengikuti latihan menunjukkan perkembangan dalam kebugaran fisik, kelincahan, koordinasi gerak, dan kepercayaan diri. Program tersebut juga membantu menanamkan nilai sportivitas, kedisiplinan, kerja keras, dan kemampuan bekerja sama.

Persoalannya adalah manfaat tersebut belum menghasilkan prestasi kompetitif yang kuat. Berdasarkan data 2024 yang dikutip dalam artikel, SDN 1 Kapar belum pernah meraih juara Atletik Kids pada O2SN di tingkat kecamatan, kabupaten, maupun provinsi.

Temuan ini menunjukkan bahwa manfaat pendidikan dan perkembangan pribadi siswa dapat tetap muncul meskipun prestasi kompetisi belum optimal.

Peneliti Merekomendasikan Latihan Lebih Teratur dan Pelatih yang Lebih Kompeten

Norparidi, Irawanto, dan Akhmad Abdurahman merekomendasikan agar frekuensi latihan ditingkatkan dari sekali menjadi setidaknya dua kali seminggu. Program tersebut perlu dilengkapi dengan rencana latihan satu semester, target perkembangan setiap siswa, serta evaluasi bulanan.

Pelatih juga disarankan mengikuti pelatihan khusus melalui organisasi seperti PASI atau dinas pendidikan. Materi latihan perlu mencakup seluruh nomor resmi Atletik Kids dengan pendekatan yang lebih bervariasi dan berbasis permainan agar siswa tetap antusias.

Bagi sekolah, peneliti menyarankan pengadaan peralatan secara bertahap, pemanfaatan lapangan desa atau kecamatan yang lebih luas jika diperlukan, serta penyediaan anggaran khusus untuk program ekstrakurikuler tersebut.

Orang tua juga memiliki peran penting melalui dukungan, komunikasi dengan pelatih dan sekolah, pemenuhan kebutuhan nutrisi, serta memastikan anak memperoleh waktu istirahat yang cukup. Sementara itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Tabalong diharapkan mendukung penyediaan fasilitas, pelatihan pelatih bersertifikat, kompetisi antarsekolah, dan kebijakan anggaran olahraga ekstrakurikuler.

Menurut temuan Norparidi, Irawanto, dan Akhmad Abdurahman dari STIA Bina Banua dan UNISKA MAB, persoalan utama bukan terletak pada tidak adanya potensi anak, melainkan pada kesenjangan antara potensi program Atletik Kids dan dukungan yang tersedia untuk mengembangkannya. Mengatasi kesenjangan tersebut membutuhkan dukungan bersama dari sekolah, pelatih, orang tua, dan pemerintah daerah.

Profil Penulis

Norparidi — STIA Bina Banua, Indonesia. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian khusus.

Irawanto — Magister Administrasi Publik UNISKA MAB, Indonesia; penulis korespondensi. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik secara spesifik maupun bidang keahlian khusus.

Akhmad Abdurahman — STIA Bina Banua, Indonesia. Artikel tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian khusus.

Sumber Penelitian

Judul artikel: Evaluation of the Implementation of the Athletics Kids Extracurricular Program at SDN 1 Kapar, Tabalong Regency: A Descriptive Qualitative Approach
Penulis: Norparidi, Irawanto, dan Akhmad Abdurahman
Jurnal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH)
Volume: 5, No. 3
Tahun publikasi: 2026
Halaman: 207–226

Posting Komentar

0 Komentar