Artikel tersebut diterbitkan pada 2026 dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH) Volume 5 Nomor 3, halaman 227–244. SDN 2 Hikun ditetapkan sebagai sekolah yang mengikuti program Google Reference School Candidate melalui surat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tabalong Nomor B-233/DIKBUD/000.1.2.3/IV/2024. Sekolah tersebut juga mengikuti kegiatan benchmarking program pada 10–12 Juni 2024 di Google Indonesia Pacific Office.
Transformasi digital belum cukup hanya dengan menyediakan teknologi
Program Google Reference School dirancang untuk mendorong sekolah mengintegrasikan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar. Perangkat dan layanan yang digunakan antara lain Google Workspace for Education, Google Classroom, Chromebook, serta program sertifikasi Google Certified Educator. Sekolah yang mengikuti program juga memiliki sejumlah persyaratan, seperti penggunaan minimal 60 Chromebook untuk dua kelompok belajar, pelatihan bagi seluruh guru, aktivasi akun belajar.id, serta sedikitnya 30 persen guru memiliki sertifikasi Google Certified Educator Level 1.
Namun, kondisi awal di SDN 2 Hikun menunjukkan adanya kesenjangan antara tuntutan program dan kemampuan penerapannya. Tidak ada guru yang telah memiliki sertifikasi Google Certified Educator Level 1. Pemahaman terhadap Google Workspace for Education juga masih terbatas, sementara sebagian besar guru masih mengandalkan pola pembelajaran konvensional berbasis buku. Pemanfaatan Google Workspace dalam kegiatan belajar pun belum optimal. Persoalan lain muncul dari keterbatasan kecepatan internet dan belum memadainya ruang pembelajaran berbasis Chromebook.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa digitalisasi pendidikan bukan hanya persoalan menyediakan perangkat dan platform. Guru juga perlu memiliki kemampuan untuk mengubah teknologi menjadi bagian dari strategi pembelajaran yang efektif dan berpusat pada siswa.
Guru dinilai dari kemampuan menggunakan teknologi dalam pembelajaran
Hamdi, Irawanto, dan Abdurahman memusatkan analisis pada dua aspek kompetensi guru yang dianggap paling relevan dengan program Google Reference School, yakni kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogik berkaitan dengan kemampuan guru mengelola proses pembelajaran, sedangkan kompetensi profesional mencakup penguasaan materi serta kemampuan merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran.
Kompetensi pedagogik masih menjadi titik lemah
Temuan paling menonjol adalah kompetensi pedagogik guru di SDN 2 Hikun berada dalam kategori kurang. Sebagian besar guru masih menggunakan pola pembelajaran konvensional dan belum memanfaatkan Google Workspace for Education secara maksimal dalam proses belajar mengajar. Padahal, platform tersebut secara teknis telah menyediakan berbagai fitur yang dapat mendukung pembelajaran digital.
Keterbatasan tersebut membuat penggunaan teknologi belum memberikan perubahan besar terhadap pengalaman belajar siswa. Dalam praktiknya, sebagian guru hanya memanfaatkan satu atau dua fitur Google Workspace, terutama untuk memberikan tugas. Penggunaan materi interaktif dan pemberian umpan balik yang bermakna masih terbatas. Akibatnya, pembelajaran digital dinilai belum jauh berbeda dari pembelajaran tatap muka konvensional.
Berbeda dengan kompetensi pedagogik, kompetensi profesional guru berada dalam kategori cukup baik. Secara administratif, sekolah telah memenuhi persyaratan minimum program dan para guru telah memahami ekosistem Google for Education. Guru juga telah memperoleh pelatihan dasar sebagai persiapan menghadapi sertifikasi Google Certified Educator Level 1. Respons orang tua dan administrasi sekolah terhadap program juga disebut positif.
Temuan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman dan praktik. Guru dapat memahami ekosistem teknologi pendidikan, tetapi kemampuan menerapkannya sebagai bagian dari proses pedagogis belum berkembang secara merata.
Tiga hambatan utama digitalisasi pembelajaran
Para peneliti menemukan tiga persoalan utama yang menghambat penerapan Google Reference School di SDN 2 Hikun.
Pertama, infrastruktur belum memadai. Koneksi internet yang tidak stabil dan belum tersedianya ruang pembelajaran khusus berbasis Chromebook menjadi kendala langsung dalam pelaksanaan pembelajaran digital. Padahal, program mensyaratkan dukungan infrastruktur yang memadai, termasuk minimal 60 Chromebook.
Kedua, literasi teknologi masih terbatas. Pelatihan yang telah diberikan belum cukup untuk memastikan kemampuan digital guru dan orang tua berkembang secara berkelanjutan. Minimnya pendampingan setelah pelatihan membuat keterampilan menggunakan Google Classroom, Google Forms, dan Google Drive sulit berkembang secara konsisten.
Ketiga, pemanfaatan platform belum optimal. Teknologi lebih sering digunakan untuk fungsi dasar seperti memberikan tugas, bukan untuk menciptakan pengalaman belajar yang interaktif, kolaboratif, dan memberikan umpan balik kepada siswa.
Sertifikasi harus diikuti pendampingan
Hamdi, Irawanto, dan Abdurahman merekomendasikan agar peningkatan kompetensi guru tidak berhenti pada sertifikasi. Program Google Certified Educator Level 1 dan Level 2 perlu disertai pendampingan setelah pelatihan agar kemampuan teknologi benar-benar diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Sekolah juga perlu meningkatkan kapasitas internet dan menyediakan ruang pembelajaran berbasis Chromebook. Jumlah guru bersertifikasi perlu ditingkatkan melampaui batas minimum 30 persen, sementara hasil karya yang menggunakan Google Workspace perlu dikembangkan dan dibagikan kepada sekolah lain.
Komunikasi dengan orang tua dan pemangku kepentingan juga dinilai penting. Sekolah disarankan menjelaskan tujuan, manfaat, dan cara penggunaan teknologi secara terbuka, serta melakukan evaluasi berkala dengan melibatkan guru, siswa, dan orang tua. Evaluasi tersebut perlu menitikberatkan pada efektivitas pembelajaran, bukan sekadar pemenuhan persyaratan administratif.
Pelajaran bagi digitalisasi pendidikan
Hasil penelitian di SDN 2 Hikun memberikan gambaran bahwa keberhasilan digitalisasi sekolah sangat bergantung pada kapasitas manusia yang mengoperasikan teknologi tersebut. Platform digital yang lengkap tidak akan menghasilkan pembelajaran yang lebih baik jika guru belum memiliki kemampuan pedagogis untuk mengintegrasikannya ke dalam proses belajar.
Bagi sekolah dan pemerintah daerah, temuan ini dapat menjadi pertimbangan dalam merancang program peningkatan kompetensi guru. Pelatihan teknologi sebaiknya tidak hanya mengejar jumlah peserta atau sertifikat, tetapi dilanjutkan dengan praktik, pendampingan, evaluasi, dan berbagi pengalaman antarpendidik.
Para peneliti juga mengakui bahwa kajian ini masih terbatas pada satu sekolah dan hanya menganalisis kompetensi pedagogik serta profesional. Penelitian berikutnya disarankan melibatkan lebih banyak sekolah rujukan Google di Kabupaten Tabalong maupun daerah lain, menggunakan pendekatan kuantitatif atau metode campuran, serta memasukkan kompetensi kepribadian dan sosial.
Profil Penulis
Gelar akademik dan bidang keahlian spesifik ketiga penulis tidak dicantumkan dalam artikel yang tersedia, sehingga informasi tersebut tidak ditambahkan untuk menjaga akurasi.
Sumber Penelitian
Hamdi, Muhammad Munawar Aulia, Irawanto, dan Akhmad Abdurahman. “Analysis of Organizational Capacity of Public Schools in Adopting Educational Technology Innovation (Study at SDN 2 Hikun as a Google Reference School).” Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH), Vol. 5, No. 3, 2026, hlm. 227–244. DOI: 10.55927/jiph.v5i3.18.
0 Komentar