Potensi PLTA Pakistan Capai Puluhan Gigawatt, Namun Pengembangannya Masih Terkendala

Ilustrasi by AI

Pakistan - Pakistan memiliki potensi besar untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), terutama di wilayah utara yang kaya sungai dan memiliki kondisi geografis mendukung. Tinjauan komprehensif yang ditulis Muhammad Zafar, Mohsin Mumtaz, Haseeb Amin, Muhammad Muneer, dan Muhammad Sohaib Azeem dari University of the Punjab dan Hohai University menunjukkan bahwa pemanfaatan tenaga air dapat membantu mengatasi krisis energi sekaligus mengurangi ketergantungan Pakistan pada bahan bakar fosil impor. Artikel tersebut diterbitkan pada 2026 di Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO).

Para penulis mencatat bahwa Pakistan masih menghadapi kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan listrik. Pada saat yang sama, negara tersebut memiliki sumber daya air yang sangat besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Artikel menyebut potensi tenaga air Pakistan mencapai sekitar 60.000 MW yang belum dimanfaatkan, sementara sejumlah kajian terdahulu memperkirakan potensi teknis sekitar 41.722 MW. Perbedaan angka tersebut berasal dari pendekatan dan sumber data yang digunakan, tetapi keduanya menunjukkan besarnya ruang pengembangan PLTA di Pakistan.

Sungai di Pakistan Menyimpan Potensi Energi Besar

Tenaga air telah lama menjadi bagian penting dari sistem energi Pakistan. Data yang dirujuk dalam artikel menunjukkan kapasitas pembangkit listrik tenaga air sekitar 6.599 MW dibandingkan potensi yang diperkirakan mencapai 41.722 MW.

Pakistan memiliki lima cekungan sungai besar dan puluhan anak sungai yang menawarkan lokasi potensial untuk pembangkit listrik. Wilayah utara menjadi salah satu kawasan paling menjanjikan karena karakter sungai dan topografinya mendukung pembangkitan listrik tenaga air.

Salah satu contohnya adalah Sungai Hunza. Kajian sebelumnya yang dirujuk Zafar dan rekan-rekannya mengidentifikasi sejumlah lokasi potensial untuk pengembangan PLTA di wilayah tersebut. Analisis menggunakan data geografis, hidrologi, serta kondisi topografi menemukan beberapa lokasi yang dinilai menjanjikan untuk pengembangan pembangkit baru.

Potensi serupa juga ditemukan di Sungai Kunhar. Penggunaan data geospasial dan digital elevation model memungkinkan peneliti mengidentifikasi lokasi yang memiliki kondisi lebih sesuai untuk pembangkit listrik tenaga air aliran sungai (run-of-river). Pendekatan tersebut memungkinkan pengembangan energi tanpa selalu membutuhkan pembangunan bendungan berukuran sangat besar.

PLTA Dapat Mengurangi Ketergantungan pada Bahan Bakar Fosil

Menurut Muhammad Zafar, Mohsin Mumtaz, Haseeb Amin, Muhammad Muneer, dan Muhammad Sohaib Azeem, pengembangan tenaga air memiliki arti strategis bagi ketahanan energi Pakistan.

PLTA dapat menyediakan listrik terbarukan dengan emisi karbon yang relatif rendah. Selain menghasilkan listrik, pembangkit tenaga air juga dapat memberikan manfaat lain, seperti pengelolaan air, pengendalian banjir, irigasi, serta membantu menjaga kestabilan sistem kelistrikan.

Tenaga air juga memiliki karakter berbeda dibandingkan energi surya dan angin. Produksi listrik dari matahari dan angin dapat berubah mengikuti kondisi cuaca. Sebaliknya, PLTA dapat memberikan pasokan yang lebih fleksibel dan membantu menyeimbangkan sistem ketika produksi energi surya atau angin berubah.

Karena itu, para penulis tidak melihat tenaga air sebagai pengganti tunggal bagi seluruh sumber energi terbarukan. Mereka mendorong kombinasi tenaga air, surya, angin, dan sumber energi terbarukan lainnya untuk membangun sistem energi yang lebih beragam dan stabil.

Sejumlah Proyek Besar Sedang Dikembangkan

Artikel tersebut juga mencatat sejumlah proyek PLTA berkapasitas besar yang sedang berjalan atau direncanakan di Pakistan.

Beberapa proyek yang tercantum dalam data Water and Power Development Authority (WAPDA) antara lain:

  • Diamer Basha Dam di Sungai Indus dengan kapasitas sekitar 4.500 MW.
  • Dasu Hydropower Project di Sungai Indus dengan kapasitas sekitar 4.320 MW.
  • Bunji Hydropower Project di Sungai Indus dengan kapasitas sekitar 7.100 MW.
  • Kohala Hydropower Project di Sungai Jhelum dengan kapasitas sekitar 1.124 MW.
  • Mohmand Dam di Sungai Swat dengan kapasitas sekitar 800 MW.
  • Azad Pattan di Sungai Jhelum dengan kapasitas sekitar 700,7 MW.

Proyek-proyek tersebut menunjukkan bahwa Pakistan memiliki peluang untuk menambah kapasitas energi terbarukan secara signifikan. Namun, pembangunan PLTA skala besar membutuhkan investasi besar, waktu pengerjaan panjang, serta perencanaan yang matang.

Hambatan Bukan Hanya Soal Teknologi

Zafar dan rekan-rekannya menemukan bahwa persoalan pengembangan PLTA Pakistan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air atau teknologi. Hambatan kebijakan, kelembagaan, keuangan, dan investasi juga menjadi faktor penting.

Salah satu masalah utama adalah rendahnya keterlibatan sektor swasta dalam pembangunan tenaga air. Investor cenderung lebih tertarik pada sektor pembangkit termal. Selain itu, perencanaan yang tidak konsisten, keterbatasan pendanaan, serta hambatan kelembagaan memperlambat pembangunan proyek.

Analisis yang dikutip dalam artikel bahkan menempatkan hambatan politik serta kebijakan dan kelembagaan sebagai salah satu kendala paling signifikan terhadap pengembangan energi terbarukan di Pakistan.

Kondisi tersebut membuat potensi tenaga air yang besar belum sepenuhnya berubah menjadi kapasitas pembangkit yang tersedia bagi masyarakat.

Para penulis menyarankan penguatan kebijakan, peningkatan kapasitas lembaga pemerintah, percepatan proses perizinan, serta pemberian insentif yang lebih terarah untuk menarik investasi swasta. Pemerintah juga dapat mempertimbangkan skema pembiayaan publik-swasta, obligasi hijau, dan dana iklim untuk mendukung proyek-proyek tenaga air.

Dampak Lingkungan dan Masyarakat Harus Diperhitungkan

Pengembangan PLTA tidak otomatis berarti bebas dari dampak lingkungan. Bendungan besar dapat mengubah ekosistem sungai, menekan akses masyarakat terhadap sumber daya, dan dalam kasus tertentu menyebabkan perpindahan penduduk.

Karena itu, Environmental Impact Assessment (EIA) menjadi bagian penting dalam perencanaan proyek. Artikel mencatat bahwa lebih dari 20 persen pengambil keputusan yang disurvei tidak menilai kerangka kelembagaan yang ada sepenuhnya sesuai dengan pedoman EIA. Sebanyak 25 persen juga menilai pedoman yang berlaku belum selaras dengan standar dan praktik internasional untuk proyek tenaga air.

Pengalaman proyek Gulpur Hydropower Plant di Kotli, Azad Kashmir, menunjukkan pentingnya EIA dalam mengidentifikasi kawasan sensitif dan memengaruhi desain proyek. Temuan tersebut memperkuat kebutuhan untuk memasukkan perlindungan lingkungan dan kepentingan masyarakat sejak tahap awal pembangunan.

Para penulis juga menekankan bahwa masyarakat yang terdampak tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai penerima kompensasi. Mereka perlu dilibatkan sebagai pemangku kepentingan dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan.

PLTA Skala Kecil dan Teknologi Baru Menjadi Alternatif

Masa depan tenaga air Pakistan tidak harus bergantung sepenuhnya pada bendungan raksasa. Artikel tersebut menyoroti peluang pengembangan pembangkit skala kecil yang relatif lebih mudah dibangun dan berpotensi mengurangi sebagian dampak lingkungan dibandingkan proyek bendungan besar.

Digitalisasi, desain turbin yang lebih maju, serta sistem pumped storage juga dapat meningkatkan efisiensi dan kemampuan PLTA dalam mendukung jaringan listrik yang menggabungkan tenaga surya dan angin.

Dengan kebutuhan listrik yang terus meningkat, pengembangan sumber energi domestik menjadi semakin penting bagi Pakistan. Pemerintah negara tersebut menargetkan peningkatan porsi energi terbarukan hingga 30 persen pada 2030.

Bagi Pakistan, tantangannya bukan lagi sekadar menemukan sumber energi baru. Persoalan utamanya adalah bagaimana memanfaatkan potensi tenaga air secara ekonomis tanpa mengorbankan lingkungan, masyarakat, dan keberlanjutan jangka panjang.

Muhammad Zafar, Mohsin Mumtaz, Haseeb Amin, Muhammad Muneer, dan Muhammad Sohaib Azeem dari University of the Punjab dan Hohai University menyimpulkan bahwa strategi pengembangan PLTA perlu menggabungkan perencanaan proyek yang lebih baik, desain berkelanjutan, perlindungan lingkungan, pembiayaan yang memadai, serta partisipasi masyarakat. Pendekatan terpadu tersebut dinilai penting agar potensi tenaga air Pakistan dapat membantu mengatasi krisis energi sekaligus mendukung masa depan energi yang lebih berkelanjutan.

Profil Penulis

Muhammad Zafar — Penulis, Institute of Energy and Environmental Engineering, University of the Punjab, Lahore.

Mohsin Mumtaz — Penulis, Institute of Energy and Environmental Engineering, University of the Punjab, Lahore.

Haseeb Amin — Penulis, Institute of Energy and Environmental Engineering, University of the Punjab, Lahore.

Muhammad Muneer — Penulis korespondensi, School of Electrical and Power Engineering, Hohai University, Nanjing.

Muhammad Sohaib Azeem — Penulis, School of Electrical and Power Engineering, Hohai University, Nanjing.

Artikel sumber tidak mencantumkan gelar akademik maupun bidang keahlian spesifik masing-masing penulis. Karena itu, informasi tersebut tidak ditambahkan agar profil tetap sesuai dengan sumber asli.

Sumber Penelitian

Judul: Harnessing Pakistan's Mega-Hydropower Potential: A Comprehensive Review of Large-Scale Hydroelectric Projects
Penulis: Muhammad Zafar, Mohsin Mumtaz, Haseeb Amin, Muhammad Muneer, Muhammad Sohaib Azeem
Afiliasi: University of the Punjab dan Hohai University
Jurnal: Indonesian Journal of Interdisciplinary Research in Science and Technology (MARCOPOLO)
Volume: 4, Nomor 3
Tahun: 2026
Halaman: 205–226
DOI: https://doi.org/10.55927/marcopolo.v4i3.31
URL Jurnal: https://journalmarcopolo.my.id/index.php/marcopolo

Posting Komentar

0 Komentar