Pertumbuhan ekonomi daerah terbukti menjadi motor penggerak paling signifikan dalam mendorong pembiayaan bisnis berkelanjutan di Kalimantan Tengah selama kurun waktu 2011 hingga 2025. Temuan ini diungkapkan oleh tim peneliti dari Universitas Udayana, yakni Tabitaria Pandu Mau, I Wayan Budiasa, dan Widhianthini, melalui analisis mendalam terhadap dinamika makroekonomi wilayah tersebut. Penelitian ini memberikan gambaran krusial mengenai bagaimana sektor keuangan merespons transisi ekonomi hijau di daerah yang kaya akan sumber daya alam.
Selama ini, agenda keuangan berkelanjutan di Indonesia terus didorong oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola ke dalam strategi perbankan. Namun, implementasi kebijakan ini kerap menemui tantangan di daerah karena perbedaan struktur ekonomi dan kesiapan proyek. Kalimantan Tengah menjadi lokasi observasi yang menarik karena ekonominya yang sangat bergantung pada pemanfaatan sumber daya alam, sehingga memerlukan investasi yang lebih ramah lingkungan, mulai dari pertanian berkelanjutan hingga konservasi hutan.
Tim peneliti menggunakan metode analisis data triwulanan (2011Q1–2025Q4) untuk membedah hubungan antara pembiayaan bisnis berkelanjutan dengan tiga indikator utama: suku bunga, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi daerah. Berbeda dengan riset akademis kaku, studi ini memetakan pergerakan dana bank ke kategori bisnis ramah lingkungan dan melihat bagaimana variabel makroekonomi mempengaruhinya secara dinamis.
Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama yang memengaruhi pola pembiayaan:
- Pertumbuhan Ekonomi sebagai Driver Utama: Setiap kenaikan satu persen pada pertumbuhan ekonomi daerah berkorelasi dengan peningkatan pembiayaan bisnis berkelanjutan sebesar 1,11 persen pada triwulan yang sama. Ekspansi ekonomi meningkatkan arus kas peminjam dan nilai agunan, sehingga bank lebih percaya diri dalam menyalurkan kredit hijau.
- Dampak Suku Bunga yang Terbatas: Meskipun kenaikan suku bunga cenderung menekan pembiayaan (penurunan sebesar 0,65 persen per poin persentase), pengaruhnya tidak signifikan secara statistik. Hal ini mengindikasikan bahwa pembiayaan berkelanjutan di Kalimantan Tengah memiliki tingkat ketahanan tertentu terhadap fluktuasi biaya modal jangka pendek.
- Efek Inflasi yang Bersifat Nominal: Inflasi tidak memberikan dampak signifikan dalam jangka panjang, namun memicu penyesuaian nominal pada jangka pendek. Kenaikan harga material, tenaga kerja, dan operasional memaksa debitur mengajukan tambahan modal kerja, yang kemudian tercatat sebagai peningkatan nominal pembiayaan.
Implikasi dari studi ini menegaskan bahwa kebijakan pembiayaan berkelanjutan tidak bisa hanya mengandalkan insentif suku bunga semata. Pemerintah daerah dan lembaga keuangan perlu memastikan adanya lini proyek yang siap (investable projects) dan standar klasifikasi yang konsisten. Keberhasilan pembiayaan hijau sangat bergantung pada kualitas persiapan proyek dan kemampuan debitur dalam menjaga performa lingkungan, terlepas dari kondisi ekonomi yang sedang naik atau turun.
Profil Peneliti
- Tabitaria Pandu Mau: Mahasiswa Pascasarjana Program Magister Pembangunan Berkelanjutan dan Keuangan, Universitas Udayana.
- Prof. Dr. Ir. I Wayan Budiasa, S.P., M.P., IPU, ASEAN Eng.: Dosen dan pakar bidang pembangunan berkelanjutan di Universitas Udayana.
- Dr. Widhianthini, S.P., M.Si.: Dosen dan pakar bidang ekonomi pertanian dan keuangan di Universitas Udayana.
Sumber Penelitian:
Mau, T. P., Budiasa, I. W., & Widhianthini. (2026). "Macroeconomic Determinants of Sustainable Business Financing in Central Kalimantan". International Journal of Integrated Science and Technology (IJIST), 4(7), 517-530. DOI:
0 Komentar