Personal Branding di Media Sosial Bantu Tingkatkan Kesiapan Kerja Siswa SMK

Ilustrasi by AI

Tangerang Selatan — Pemanfaatan media sosial tidak lagi hanya berkaitan dengan hiburan dan interaksi sosial. Bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), media sosial dapat menjadi ruang untuk membangun citra profesional sekaligus memperkenalkan kompetensi kepada dunia kerja. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan penyuluhan yang dilakukan Muhammad Reza Fauzian, Rizky Ramadhani Arsyah Putra, Jihaan Ummu Kultsum, dan Bilqis dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Desain, Universitas Pamulang. Kegiatan yang berlangsung pada 23 April 2026 di SMK Pustek Serpong, Tangerang Selatan, diikuti 36 siswa kelas XI dan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran siswa mengenai pentingnya personal branding, pengelolaan jejak digital, serta kesiapan menghadapi dunia kerja yang semakin berbasis digital.

Kegiatan tersebut berangkat dari kondisi bahwa hampir seluruh siswa SMK Pustek Serpong telah menggunakan media sosial, tetapi belum memanfaatkannya secara optimal untuk membangun personal branding. Media sosial lebih banyak digunakan sebagai sarana hiburan dan interaksi sosial. Padahal, platform digital dapat dimanfaatkan untuk menampilkan karya, pengalaman, keterampilan, hingga kompetensi yang dimiliki siswa sebagai bagian dari portofolio profesional.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena persaingan dunia kerja terus berkembang. Lulusan SMK tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan komunikasi, kepercayaan diri, dan kemampuan memperkenalkan kompetensi kepada calon pemberi kerja. Personal branding dapat membantu seseorang menunjukkan identitas, keahlian, dan nilai tambah yang membedakannya dari kandidat lain.

Para penulis dari Universitas Pamulang melihat media sosial sebagai salah satu sarana yang potensial untuk mempersiapkan siswa menghadapi perubahan tersebut. Penggunaan media sosial yang terarah dapat membantu siswa membangun citra profesional sejak masih berada di bangku sekolah. Sebaliknya, penggunaan yang tidak terkontrol dapat meninggalkan jejak digital yang berpotensi memengaruhi citra seseorang ketika memasuki dunia kerja.

Penyuluhan dilaksanakan melalui beberapa bentuk kegiatan yang dirancang agar siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga langsung mempraktikkannya. Materi diberikan melalui ceramah dan presentasi mengenai konsep personal branding, pentingnya citra profesional di era digital, strategi menggunakan media sosial, etika bermedia sosial, serta pengelolaan jejak digital. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi, sesi berbagi pengalaman, simulasi, studi kasus, pembimbingan, dan evaluasi.

Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak melihat kembali cara mereka menggunakan media sosial. Mereka tidak hanya membahas konten yang menarik bagi pengguna internet, tetapi juga bagaimana akun media sosial dapat mencerminkan kemampuan dan karakter pemiliknya. Siswa mulai memetakan potensi diri yang dapat dikembangkan dan ditampilkan melalui platform digital masing-masing.

Hasil kegiatan menunjukkan perubahan dalam cara siswa memandang media sosial. Platform yang sebelumnya lebih banyak digunakan untuk konsumsi hiburan mulai dipahami sebagai sarana membangun portofolio digital. Siswa mampu menghubungkan kompetensi kejuruan yang mereka miliki dengan bentuk konten yang dapat menunjukkan kemampuan tersebut kepada publik.

Antusiasme siswa juga terlihat selama sesi diskusi dan tanya jawab. Pertanyaan yang muncul banyak berkaitan dengan persoalan nyata yang mungkin mereka hadapi ketika membangun identitas profesional di internet. Siswa membahas cara menangani jejak digital yang kurang baik dari masa lalu, strategi membuat konten sesuai bidang kejuruan, serta cara meningkatkan kepercayaan diri ketika menampilkan kemampuan di ruang digital.

Salah satu hal yang ditekankan dalam kegiatan tersebut adalah pentingnya memiliki identitas profesional yang jelas. Siswa didorong untuk menentukan satu atau dua bidang keahlian yang ingin mereka tampilkan secara konsisten. Identitas tersebut kemudian dapat diperkuat melalui tampilan profil, bio, estetika unggahan, serta konten yang relevan dengan bidang kejuruan mereka.

Pendekatan ini membuat siswa mulai memahami bahwa karya sekolah, proyek, maupun pengalaman Praktik Kerja Lapangan (PKL) dapat menjadi bagian dari portofolio digital. Melalui platform seperti Instagram, TikTok, atau LinkedIn, kompetensi siswa dapat diperkenalkan kepada masyarakat dan bahkan berpotensi dilihat oleh pihak industri sebelum siswa memasuki proses rekrutmen formal.

Temuan kegiatan juga menunjukkan bahwa personal branding berkaitan erat dengan kemampuan siswa membedakan dirinya dari kandidat lain. Ketika siswa secara konsisten menampilkan kompetensi yang sesuai dengan bidang keahliannya, media sosial dapat menjadi ruang untuk membangun citra yang lebih autentik sekaligus meningkatkan daya saing di pasar kerja. Di sisi lain, siswa juga perlu memahami bahwa aktivitas daring dapat membentuk jejak digital yang memiliki dampak jangka panjang terhadap reputasi profesional mereka.

Secara keseluruhan, kegiatan tersebut memperlihatkan adanya peningkatan pada keterlibatan siswa, rasa percaya diri, kemampuan belajar secara mandiri, kesadaran terhadap jejak digital, serta kesiapan menghadapi perubahan dunia kerja. Siswa tidak lagi hanya diposisikan sebagai pencari kerja yang menunggu kesempatan, tetapi mulai diarahkan untuk membangun identitas sebagai calon tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan dapat menunjukkan keahliannya secara digital.

Muhammad Reza Fauzian dan tim dari Universitas Pamulang menyimpulkan bahwa pengelolaan personal branding siswa SMK dapat diperkuat melalui tiga pendekatan utama, yaitu menampilkan kompetensi kejuruan dalam bentuk portofolio, menunjukkan karakter pembeda secara konsisten, dan menjaga reputasi dari jejak digital yang dapat merugikan. Pendekatan tersebut membantu mengubah cara pandang siswa terhadap media sosial, dari sekadar sarana hiburan menjadi salah satu instrumen investasi untuk masa depan karier.

Temuan ini juga memberikan implikasi bagi sekolah. Pendidikan mengenai personal branding dan literasi jejak digital dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan bimbingan konseling maupun program persiapan karier. Sekolah juga dapat menyediakan wadah portofolio digital yang memungkinkan siswa mendokumentasikan karya dan kompetensinya secara lebih terarah. Sementara itu, pendampingan lanjutan diperlukan agar siswa tidak hanya memahami konsep personal branding, tetapi mampu mengembangkan akun profesional yang benar-benar siap digunakan ketika memasuki dunia kerja.

Bagi siswa SMK, pesan utama dari kegiatan ini cukup sederhana: apa yang ditampilkan di media sosial dapat menjadi bagian dari identitas profesional. Karena itu, membangun personal branding bukan berarti sekadar membuat akun terlihat menarik, tetapi menunjukkan keahlian, karakter, dan karya secara konsisten serta bertanggung jawab. Dengan pengelolaan yang tepat, media sosial dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kompetensi siswa dengan kebutuhan dunia industri.

Penulis

Muhammad Reza Fauzian — Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Desain, Universitas Pamulang.

Rizky Ramadhani Arsyah Putra — Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Desain, Universitas Pamulang.

Jihaan Ummu Kultsum — Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Desain, Universitas Pamulang.

Bilqis — Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Desain, Universitas Pamulang.

Sumber Penelitian

“Penyuluhan Terkait Personal Branding di Media Sosial sebagai Upaya Meningkatkan Kesiapan Kerja Siswa SMK Pustek Serpong”, Jurnal Pengabdian Masyarakat Formosa (JPMF), Vol. 5, No. 4, Agustus 2026, halaman 357–366.

DOI: https://doi.org/10.55927/jpmf.v5i4.18

Jurnal: https://journaljpmf.my.id/index.php/jpmf

Posting Komentar

0 Komentar