Disparitas Harga Global Menekan Pasokan Kelapa Petani di Jambi

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Jambi - Perbedaan harga kelapa antara pasar internasional dan tingkat petani terbukti memengaruhi keputusan serta volume pasokan petani di Provinsi Jambi. Temuan ini berasal dari riset Ahmad Edi Saputra bersama Zulgani, Suandi, Zamzami, dan Ridwansyah dari Universitas Jambi, yang menganalisis kondisi petani kelapa dalam di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur menggunakan data survei dan harga internasional periode 2020–2025. Hasilnya menunjukkan, semakin lebar kesenjangan harga yang diterima petani dibandingkan harga acuan internasional, semakin kecil pasokan kelapa yang masuk ke pasar formal.

Temuan tersebut penting karena kelapa dalam merupakan salah satu sumber penghidupan masyarakat perdesaan. Tanaman kelapa bersifat tahunan dan dapat produktif selama puluhan tahun, sementara sebagian besar perkebunan kelapa Indonesia dikelola oleh petani rakyat skala kecil. Karena itu, perubahan harga dan kestabilan pemasaran tidak hanya menentukan pendapatan petani, tetapi juga memengaruhi keberlanjutan produksi di daerah sentra kelapa.

Ketika harga global naik, petani belum tentu ikut menikmati

Persoalan utama yang disoroti riset ini adalah apa yang disebut transmisi harga asimetris. Sederhananya, perubahan harga di pasar internasional tidak selalu diteruskan secara seimbang kepada petani.

Dalam kondisi yang ditemukan peneliti, penurunan harga internasional dapat dengan cepat diikuti penurunan harga di tingkat petani. Sebaliknya, ketika harga internasional meningkat, kenaikan tersebut tidak selalu diteruskan secara penuh kepada petani. Akibatnya, terbentuk jurang harga yang semakin lebar antara pasar internasional dan harga di tingkat kebun.

Rantai pemasaran yang panjang menjadi salah satu persoalan. Kelapa dari petani dapat melewati pengumpul desa, tengkulak kecamatan, agen regional, hingga eksportir atau industri pengolahan. Dalam kondisi seperti ini, biaya transportasi, penanganan, penyimpanan, serta posisi tawar yang tidak seimbang dapat mengurangi bagian harga yang diterima petani.

Gambaran tersebut terlihat pada data harga 2020–2025. Saat harga acuan CNO CIF Rotterdam mencapai sekitar Rp18.500 per kilogram pada 2022, harga di tingkat petani hanya mencapai sekitar Rp9.000 per kilogram. Selisihnya sekitar Rp9.500 per kilogram atau 51,3 persen. Ketika harga internasional kemudian terkoreksi pada 2023, harga di tingkat petani juga turun dengan cepat hingga sekitar Rp7.000 per kilogram.

Disparitas harga mengubah keputusan petani

Untuk melihat bagaimana kesenjangan harga memengaruhi perilaku petani, tim menggunakan pendekatan ekonometrika Heckman Two-Step. Metode ini digunakan untuk membedakan dua keputusan: apakah petani berpartisipasi dalam pasar formal dan berapa banyak kelapa yang mereka pasok setelah memutuskan untuk masuk ke pasar tersebut.

Survei dilakukan terhadap 100 rumah tangga petani kelapa dalam. Responden dipilih dari sejumlah wilayah sentra perkebunan di Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur. Data lapangan mencakup karakteristik petani, luas lahan, biaya produksi, volume panen dan penjualan, harga tingkat petani, akses pasar, kredit, serta keanggotaan koperasi. Data tersebut kemudian dipadukan dengan data harga acuan internasional CNO Rotterdam CIF untuk periode 2020–2025.

Hasil analisis menunjukkan bahwa disparitas harga memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap partisipasi petani dalam pasar formal. Model memperkirakan bahwa kenaikan disparitas sebesar Rp100 per kilogram menurunkan probabilitas petani berpartisipasi dalam pemasaran formal sekitar 0,98 persen.

Dampaknya juga terlihat pada jumlah pasokan. Berdasarkan persamaan hasil model Heckman, setiap kenaikan disparitas harga sebesar Rp1.000 per kilogram dikaitkan dengan penurunan pasokan kelapa yang dijual ke pasar formal sekitar 0,1854 ton atau 185,4 kilogram per petani per tahun. Elastisitas pasokan terhadap disparitas harga tercatat -0,285.

Secara keseluruhan, peneliti melaporkan bahwa kenaikan disparitas harga sebesar 10 persen menurunkan volume pasokan kelapa yang dialokasikan petani ke pasar formal sebesar 1,85 persen.

Koperasi menjadi salah satu kunci

Riset ini juga menemukan bahwa kondisi petani tidak hanya ditentukan oleh harga. Luas lahan, akses jalan dan transportasi, pendidikan, akses pembiayaan, serta kelembagaan koperasi ikut berperan dalam keputusan pemasaran.

Keanggotaan koperasi secara khusus menunjukkan pengaruh positif terhadap volume pasokan. Peneliti mencatat bahwa petani yang bergabung dalam koperasi rata-rata memperoleh harga di tingkat kebun 12–15 persen lebih tinggi dibandingkan petani nonanggota. Koperasi juga dapat mengumpulkan hasil panen dalam jumlah lebih besar sehingga meningkatkan posisi tawar petani ketika bernegosiasi dengan pembeli atau industri pengolahan.

Data responden menunjukkan bahwa rata-rata petani berusia 48,65 tahun, memiliki pengalaman mengelola kebun sekitar 22,30 tahun, dan menggarap lahan rata-rata 2,15 hektare. Dari 100 responden, 78 persen aktif menjual hasil ke pasar formal, sedangkan 22 persen lainnya merupakan nonpartisipan atau memasok secara tidak teratur melalui pasar informal. Hanya 34 persen responden yang tercatat sebagai anggota koperasi dan 42 persen memiliki akses kredit atau pembiayaan.

Empat langkah yang disarankan

Bagi peneliti, persoalan harga tidak cukup ditangani hanya dengan memperhatikan harga jual. Struktur rantai pasok juga perlu diperbaiki agar petani mendapatkan bagian yang lebih adil dari nilai komoditas.

Riset tersebut merekomendasikan empat langkah utama:

  • Memperkuat koperasi dan kelompok tani sebagai agregator pemasaran bersama agar ketergantungan pada rantai tengkulak dapat dikurangi.
  • Mengembangkan industri pengolahan di perdesaan, seperti pengolahan VCO, kopra putih berkualitas ekspor, dan tepung kelapa, sehingga petani tidak hanya bergantung pada penjualan kelapa segar.
  • Membangun sistem informasi harga digital secara real-time agar petani memperoleh informasi harga internasional dan domestik secara lebih transparan.
  • Memperbaiki infrastruktur transportasi pesisir, termasuk jalan angkut dan fasilitas pelabuhan pengumpul di Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur untuk menekan biaya logistik.

Dengan demikian, persoalan pasokan kelapa bukan sekadar persoalan produksi di kebun. Ketika petani merasa harga yang diterima tidak sebanding dengan kondisi pasar, insentif untuk memanen, merawat tanaman, dan memasok produk ke pasar formal ikut melemah. Sebaliknya, rantai pemasaran yang lebih transparan, akses pasar yang lebih baik, dan koperasi yang kuat dapat membantu menjaga pasokan sekaligus memperbaiki posisi tawar petani.

Profil Penulis

Ahmad Edi Saputra: Penulis utama/corresponding author, Universitas Jambi. Bidang keahlian dan gelar akademik penulis tidak dicantumkan dalam artikel sumber yang tersedia, sehingga informasi tersebut tidak ditambahkan untuk menjaga akurasi.

Penelitian ditulis bersama Zulgani, Suandi, Zamzami, dan Ridwansyah, seluruhnya tercantum berafiliasi dengan Universitas Jambi.

Sumber Penelitian

Judul: The Effect of International and Domestic Price Disparities on the Supply Volume of Coconuts: An Econometric Approach Using a Farmer Preference Model

Penulis: Ahmad Edi Saputra, Zulgani, Suandi, Zamzami, Ridwansyah

Afiliasi: Universitas Jambi

Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR)

Volume/Edisi: Vol. 5, No. 8, 2026, halaman 1601–1618

DOI: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i8.17134

URL jurnal: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar

Posting Komentar

0 Komentar