Peran Kunci Motivasi: Keseimbangan Hidup dan Beban Kerja Pengaruhi Kinerja Karyawan

Ilustrasi by AI

Kinerja karyawan di lingkungan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak tugas yang dikerjakan, melainkan sangat bergantung pada keseimbangan hidup dan tingkat motivasi kerja. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Marta Suhendra dan Budiman Abdulah dari Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta mengkaji faktor-faktor penentu produktivitas tenaga kerja di PT Infokom Elektrindo. Penelitian yang dilaksanakan dari Mei hingga Juli 2026 ini menemukan bahwa motivasi kerja memegang peran mediasi yang sangat krusial dalam menghubungkan beban kerja serta keseimbangan hidup dengan pencapaian kinerja pegawai.

Dalam dunia bisnis yang bergerak cepat, karyawan sering kali dihadapkan pada tekanan pekerjaan yang tinggi serta tantangan untuk membagi waktu antara urusan profesional dan pribadi. Keseimbangan hidup yang buruk dapat menurunkan motivasi dan efisiensi kerja, sementara beban kerja yang berlebihan berisiko memicu stres apabila tidak dikelola dengan tepat.

Untuk memahami dinamika tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif kausal dengan melibatkan seluruh populasi pegawai Divisi General Affairs PT Infokom Elektrindo sebanyak 110 orang sebagai responden melalui teknik saturated sampling (sensus). Analisis data dilakukan menggunakan teknik Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS) melalui perangkat lunak SmartPLS 4.0.

Hasil analisis statistik menunjukkan beberapa temuan utama sebagai berikut:

  • Beban kerja tidak berpengaruh langsung secara signifikan terhadap kinerja karyawan ($\beta = 0,053$, $p = 0,432$), yang menunjukkan bahwa karyawan mampu beradaptasi dengan tuntutan tugas melalui keahlian dan dukungan organisasi.
  • Beban kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap motivasi kerja ($\beta = 0,485$, $p = 0,00$), di mana tantangan kerja yang terkelola dengan baik dapat menjadi stimulus positif bagi antusiasme pegawai.
  • Motivasi kerja terbukti memberikan pengaruh positif dan paling dominan terhadap peningkatan kinerja karyawan ($\beta = 0,693$, $p = 0,00$).
  • Keseimbangan hidup (work-life balance) berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan ($\beta = 0,215$, $p = 0,004$) sekaligus terhadap motivasi kerja ($\beta = 0,316$, $p = 0,003$).
  • Motivasi terbukti secara signifikan memediasi hubungan antara beban kerja terhadap kinerja ($\beta = 0,336$, $p = 0,001$) serta antara keseimbangan hidup terhadap kinerja karyawan ($\beta = 0,219$, $p = 0,004$).

Temuan ini menegaskan bahwa strategi perusahaan tidak boleh sekadar berfokus pada penambahan volume tugas, melainkan harus mengutamakan aspek kesejahteraan psikologis dan peningkatan motivasi kerja. Marta Suhendra dan Budiman Abdulah dari Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta menyarankan agar manajemen perusahaan terus memperkuat kebijakan keseimbangan hidup, memberikan apresiasi yang layak, serta menerapkan sistem evaluasi yang adil guna mendongkrak produktivitas jangka panjang.

Profil Penulis

  • Marta Suhendra – Peneliti dan akademisi di Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta dengan bidang keahlian manajemen sumber daya manusia.
  • Budiman Abdulah – Peneliti dan akademisi di Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta yang fokus pada kajian organisasi dan sumber daya manusia.

Sumber Penelitian:

  • Artikel: "The Influence of Work-Life Balance and Workload on Employee Performance with Motivation as an Intervening Variable at PT Infokom Elektrindo"
  • Jurnal: International Journal of Management Analytics (IJMA), Vol. 4, No. 3, Juli 2026
  • DOI: https://doi.org/10.59890/ijma.v4i3.37

Posting Komentar

0 Komentar