Penurunan Produktivitas di Kebun Kelapa Sawit Petani Kecil yang Sudah Tua: Implikasi Kebijakan bagi Program Peremajaan di Kota Subulussalam

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Aceh - Pohon Kelapa Sawit Tua di Subulussalam Pemicu Penurunan Hasil Panen dan Kerugian Ekonomi Petani. Penelitian yang dilakukan oleh Khalid Sunny dari Universitas Sains Cut Nyak Dhien dan Qhisthina Atikah dari Universitas Syiah Kuala dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 8 Tahun 2026 menyoroti bahwa penurunan hasil panen secara langsung mengancam ketahanan ekonomi rumah tangga petani serta kesejahteraan masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidupnya pada sektor perkebunan kelapa sawit.

Kondisi perkebunan rakyat di Kota Subulussalam saat ini menghadapi tantangan struktural yang cukup serius
. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Perkebunan Kota Subulussalam serta BPS Provinsi Aceh, meskipun luas lahan perkebunan rakyat mengalami perluasan dari 19.014 hektar menjadi 19.304 hektar, total produksi Tandan Buah Segar (TBS) justru merosot dari 29.120 ton menjadi 28.800 ton. Penurunan paling signifikan terjadi di Kecamatan Simpang Kiri, di mana produksi tahunan anjlok dari 9.210 ton menjadi 7.460 ton. Wilayah ini merupakan kawasan bekas pemukiman transmigrasi dengan mayoritas usia tanaman sawit telah melewati masa produktif primanya, yakni lebih dari 20 hingga 25 tahun.

Metodologi penelitian ini menggunakan pendekatan survei sosio-ekonomi kuantitatif-deskriptif yang melibatkan 98 petani sawadaya mandiri sebagai responden. Sampel diambil menggunakan metode simple random sampling dari lima desa pusat perkebunan di Kecamatan Simpang Kiri, yaitu Mukti Makmur, Makmur Jaya, Pasar Panjang, Tangga Besi, dan Pegayo. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan observasi lapangan untuk menganalisis hubungan antara fase usia tanaman, alokasi input produksi (pupuk, tenaga kerja, dan bibit), serta dampaknya terhadap kinerja finansial petani.

Hasil penelitian menunjukkan penurunan performa tanaman secara tajam berdasarkan kelompok usianya
:

  • Fase Remaja Dewasa (5–12 tahun): Mencapai produktivitas fisik tertinggi sebesar 19,04 ton per hektar per tahun dengan pendapatan Rp49,17 juta per hektar per tahun.
  • Fase Primordial Dewasa (13–20 tahun): Menghasilkan produktivitas sebesar 18,57 ton per hektar per tahun.
  • Fase Tua/Tua Renta (≥ 21 tahun): Produktivitas fisik anjlok hingga 15,04 ton per hektar per tahun, mengalami penurunan sebesar 24,5% dibandingkan fase remaja.
  • Kerugian Potensi Pendapatan: Petani yang mengelola perkebunan sawit tua kehilangan potensi pendapatan bersih (opportunity loss) sebesar Rp12,61 juta per hektar setiap tahunnya.
Secara biologis, pohon sawit yang berusia lebih dari dua dekade memiliki tinggi batang melebihi 12 meter, yang menyulitkan efisiensi penyerapan nutrisi serta proses pemanenan. Pohon yang terlalu tinggi meningkatkan risiko buah lewat matang dan buah lepas (brondolan) yang tersangkut di pelepah. Selain faktor fisiologis tanaman, kerugian petani diperparah oleh keterbatasan modal untuk membeli pupuk sesuai dosis yang dianjurkan, riwayat penggunaan bibit lokal tidak bersertifikat (mencapai 44,9% dari total sampel), serta kurangnya perawatan pelepah (pruning) secara teratur.

Implikasi dari temuan ini menegaskan bahwa peningkatan pupuk kimia saja tidak cukup untuk memulihkan produktivitas tanaman tua tanpa adanya peremajaan total
. Oleh karena itu, percepatan pelaksanaan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang didanai oleh BPDPKS menjadi solusi mendesak untuk menyelamatkan perekonomian warga. Para peneliti merekomendasikan tiga langkah strategis bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan:
  • Fasilitasi Legalitas Lahan: Mengakselerasi program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) untuk mengatasi hambatan sertifikasi tanah petani agar memenuhi syarat bantuan dana PSR.
  • Penguatan Kelembagaan Koperasi: Memberikan pelatihan manajemen proposal dan kelembagaan bagi kelompok tani/koperasi agar mampu mengajukan bantuan peremajaan secara kolektif.
  • Penerapan GAP dan Sertifikasi ISPO: Menjamin pasokan bibit unggul bersertifikat serta mendampingi petani dalam menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) sejak fase tanaman belum menghasilkan demi memenuhi standar sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Profil Penulis
Khalid Sunny. Peneliti di Universitas Sains Cut Nyak DhienBidang Keahlian: Sosio-ekonomi pertanian, manajemen perkebunan rakyat, dan analisis kebijakan peremajaan tanaman.
Qhisthina Atikah. Peneliti di Universitas Syiah KualaBidang Keahlian: Agribisnis, pembangunan ekonomi pedesaan, dan tata kelola kelapa sawit berkelanjutan.

Sumber Penelitian
Khalid Sunny, Qhisthina Atikah. Productivity Degradation in Aging Smallholder Oil Palm Plantations: Policy Implications for Replanting Programs in Subulussalam City. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS), Vol. 5, No. 8, hlm. 1659–1670
DOI : https://doi.org/10.55927/fjas.v5i8.110
URL: https://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar