Pengungkapan ESG Berpengaruh Negatif terhadap Nilai Perusahaan di Pasar Modal Indonesia

Ilustrasi by AI

Jakarta, Formosa News – Penerapan praktik Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG) sering kali dianggap sebagai penggerak utama nilai perusahaan di pasar modal modern. Namun, studi terbaru yang dilakukan oleh Aditya Sri Yanto, Agung Dharmawan Buchdadi, dan Etty Gurendrawati dari Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Jakarta, Indonesia, justru mengungkapkan temuan yang berbeda. Dipublikasikan dalam International Journal of Management Analytics (IJMA) pada Juli 2026, penelitian ini meneliti data panel perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2017 hingga 2024 untuk menganalisis dampak pengungkapan ESG terhadap nilai perusahaan dengan masa jabatan CEO sebagai variabel moderasi. Hasil riset ini penting karena memberikan perspektif baru bagi para investor dan manajemen perusahaan bahwa komitmen keberlanjutan tidak selalu langsung mendongkrak nilai pasar dalam jangka pendek.

Latar Belakang Masalah dan Metodologi Penelitian

Sejak diberlakukannya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 51/POJK.03/2017 mengenai Keuangan Berkelanjutan, pelaporan keberlanjutan di Indonesia mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai 97% emiten pada tahun 2024. Di sisi lain, investasi berbasis ESG juga bertumbuh pesat. Kendati demikian, bukti empiris terdahulu mengenai hubungan antara ESG dan kinerja perusahaan menunjukkan hasil yang inkonsisten—sebagian menemukan pengaruh positif, sementara yang lain melaporkan dampak negatif akibat beban administratif dan biaya kepatuhan yang tinggi.

Untuk memecahkan perbedaan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode regresi Fixed Effect Model (FEM) pada data panel. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling pada perusahaan non-keuangan di BEI dari tahun 2017 hingga 2024. Model analisis ini turut mengontrol variabel seperti leverage, ukuran perusahaan, pergantian CEO, pandemi COVID-19, serta kinerja masa lalu (lagged firm performance) untuk memastikan keakuratan hasil estimasi.

Temuan Utama Penelitian

Berdasarkan analisis data yang mencakup model dengan tingkat penjelasan mencapai 91,54% terhadap variasi nilai perusahaan, penelitian ini menemukan beberapa poin penting sebagai berikut:

  • Pengaruh Negatif Pengungkapan ESG: Pengungkapan ESG terbukti memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap nilai perusahaan yang diukur dengan Tobin's Q.
  • Peran Masa Jabatan CEO: Masa jabatan CEO secara statistik tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap nilai perusahaan, maupun sebagai variabel pemoderasi dalam hubungan antara ESG dan nilai perusahaan.
  • Faktor Pendukung Keuangan: Variabel leverage dan kinerja perusahaan periode sebelumnya (lagged firm performance) menunjukkan hubungan yang positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.

Implikasi dan Dampak bagi Dunia Usaha serta Kebijakan

Temuan ini mengindikasikan bahwa implementasi dan pelaporan ESG di Indonesia pada periode tersebut masih berfungsi sebagai pusat biaya (cost center) ketimbang penggerak nilai instan. Membangun infrastruktur pelaporan, teknologi, pelatihan staf, serta penyesuaian tata kelola menuntut investasi awal yang besar, yang dampaknya baru akan terasa dalam jangka panjang.

Bagi manajemen perusahaan, hasil riset ini menyarankan agar investasi ESG dipandang sebagai komitmen strategis jangka panjang, bukan sekadar aktivitas untuk mendulang imbal hasil pasar secara instan. Sementara itu, bagi para investor, skor ESG sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya sinyal valuasi jangka pendek, melainkan perlu dianalisis bersama struktur pendanaan serta lintasan kinerja historis perusahaan. Pemerintah dan regulator juga didorong untuk memberikan insentif atau dukungan transisi guna membantu perusahaan menyerap biaya awal kepatuhan ESG.

"Implementasi ESG memerlukan biaya dan investasi awal yang besar, sehingga manfaat ekonominya tidak selalu tercermin secara langsung pada valuasi pasar dalam jangka pendek," ungkap para peneliti dari Universitas Negeri Jakarta.

Profil Penulis

  • Aditya Sri Yanto – Mahasiswa Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Jakarta, Indonesia (Bidang keahlian: Manajemen Keuangan dan Keberlanjutan Korporat).
  • Agung Dharmawan Buchdadi – Dosen dan Peneliti di Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Jakarta, Indonesia (Bidang keahlian: Manajemen Strategis dan Keuangan).
  • Etty Gurendrawati – Dosen dan Peneliti di Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Jakarta, Indonesia (Bidang keahlian: Akuntansi dan Tata Kelola Perusahaan).

Sumber Penelitian:

Posting Komentar

0 Komentar