Di industri pelayaran, keselamatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi navigasi atau kepatuhan terhadap prosedur resmi. Banyak keputusan penting di laut bergantung pada pengalaman yang diperoleh selama bertahun-tahun bekerja. Pengetahuan seperti membaca perubahan cuaca, mengenali kondisi kapal, mengambil keputusan dalam keadaan darurat, hingga membangun koordinasi antara kapal dan darat merupakan keterampilan yang sulit didokumentasikan dalam buku panduan.
Penelitian ini menyoroti bahwa perubahan komposisi tenaga kerja yang kini terdiri dari berbagai generasi menjadi tantangan baru bagi perusahaan pelayaran. Pergantian awak kapal, pensiun pelaut senior, serta semakin cepatnya digitalisasi berpotensi menyebabkan hilangnya pengetahuan praktis apabila tidak diwariskan kepada generasi berikutnya. Akibatnya, organisasi dapat kehilangan "ingatan operasional" yang selama ini menjadi fondasi keselamatan pelayaran.
Untuk memahami persoalan tersebut, para peneliti melakukan survei terhadap 156 responden yang terdiri atas perwira kapal, awak operasional, manajer armada, dan staf keselamatan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dengan skala penilaian lima tingkat, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji reliabilitas, regresi linear berganda, serta analisis moderasi guna melihat hubungan antarvariabel.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa semakin besar kehilangan maritime tacit knowledge atau pengetahuan praktis yang dimiliki pelaut senior, semakin tinggi pula kerentanan keberlanjutan operasional perusahaan pelayaran. Analisis regresi menunjukkan koefisien pengaruh sebesar 0,473 dengan tingkat signifikansi yang sangat kuat (p < 0,001). Artinya, pengalaman kerja yang hilang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi, prosedur tertulis, maupun sistem administrasi perusahaan.
Penelitian juga menemukan sejumlah faktor yang mampu menekan risiko tersebut. Praktik knowledge sharing atau berbagi pengetahuan terbukti mampu mengurangi kehilangan pengalaman penting. Semakin aktif proses berbagi pengalaman di dalam organisasi, semakin kecil risiko hilangnya pengetahuan praktis. Selain itu, proses transfer pengetahuan antargenerasi memiliki pengaruh positif yang kuat terhadap kemampuan perusahaan mempertahankan pengalaman operasional yang dimiliki pelaut senior.
Beberapa temuan utama penelitian meliputi:
- Kehilangan pengetahuan praktis pelaut senior meningkatkan kerentanan operasional perusahaan pelayaran.
- Praktik berbagi pengetahuan mampu menekan hilangnya pengalaman penting di lingkungan kerja.
- Transfer pengetahuan antara pelaut senior dan junior memperkuat retensi pengetahuan organisasi.
- Proses pergantian awak kapal yang berjalan efektif membantu menjaga kesinambungan operasi.
- Pelatihan dan pengembangan kompetensi awak kapal mengurangi risiko gangguan operasional.
- Dukungan organisasi memperlemah dampak negatif hilangnya pengetahuan terhadap keberlanjutan operasional perusahaan.
Analisis statistik menunjukkan bahwa model penelitian mampu menjelaskan sekitar 35,6 persen variasi kerentanan operasional perusahaan pelayaran. Sisanya dipengaruhi faktor-faktor lain di luar model penelitian, sehingga pengelolaan sumber daya manusia tetap menjadi salah satu komponen strategis dalam meningkatkan ketahanan operasional perusahaan.
Menurut Pierre Marcello Lopulalan dan tim peneliti, pengalaman pelaut senior bukan sekadar keterampilan individu, tetapi merupakan aset organisasi yang sangat bernilai. Pengetahuan tersebut mencakup intuisi keselamatan, kemampuan membaca risiko, pola komunikasi saat kondisi darurat, hingga kebiasaan kerja yang terbentuk dari pengalaman bertahun-tahun. Oleh karena itu, perusahaan pelayaran perlu mengembangkan sistem yang mampu mempertahankan pengalaman tersebut agar tidak hilang ketika terjadi pergantian personel.
Temuan ini memiliki implikasi penting bagi industri pelayaran Indonesia. Perusahaan tidak cukup hanya menyelenggarakan pelatihan formal, tetapi juga perlu membangun budaya berbagi pengetahuan melalui mentoring lintas generasi, briefing dan debriefing rutin, dokumentasi pengalaman operasional, simulasi berbasis kasus nyata, serta proses serah terima tugas yang lebih sistematis. Langkah-langkah tersebut diyakini dapat meningkatkan keselamatan pelayaran sekaligus menjaga keberlanjutan operasi perusahaan.
Bagi lembaga pendidikan maritim, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran praktik lapangan dan interaksi langsung dengan pelaut berpengalaman perlu diperkuat agar mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memperoleh wawasan operasional yang sulit diajarkan melalui buku. Sementara bagi regulator, penelitian ini dapat menjadi dasar dalam merancang kebijakan pengembangan kompetensi pelaut yang tidak hanya berorientasi pada sertifikasi, tetapi juga pada pelestarian pengalaman kerja sebagai aset nasional.
Para peneliti juga merekomendasikan agar penelitian selanjutnya melibatkan lebih banyak perusahaan pelayaran, berbagai jenis kapal, serta menggunakan pendekatan kombinasi survei dan wawancara mendalam. Pendekatan tersebut dinilai lebih mampu menggali bentuk-bentuk pengetahuan praktis yang selama ini sulit diukur hanya melalui kuesioner.
Profil Penulis
Pierre Marcello Lopulalan merupakan akademisi di Politeknik Pelayaran Banten dengan bidang keahlian manajemen sumber daya manusia maritim, keselamatan pelayaran, dan manajemen pengetahuan.
Paulina M. Latuheru adalah dosen di Politeknik Transportasi Sungai, Danau, dan Penyeberangan Palembang yang menekuni bidang transportasi perairan serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia maritim.
Albertha Lolo Tandung merupakan akademisi di Politeknik Pelayaran Barombong dengan fokus pada pendidikan pelayaran, keselamatan operasional kapal, dan pengembangan kompetensi pelaut.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Maritime Tacit Knowledge Attrition and Operational Continuity Vulnerability in Multigenerational Shipping Workforces
Penulis: Pierre Marcello Lopulalan, Paulina M. Latuheru, Albertha Lolo Tandung
Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR)
Volume 5, Nomor 7, Tahun 2026
0 Komentar