Penelitian Ungkap Literasi Keuangan dan Kemampuan Mengelola Keuangan Membentuk Perilaku Bijak Pengguna PayLater

Ilustrasi by AI

Pontianak – Literasi keuangan dan kemampuan mengelola keuangan terbukti menjadi faktor utama yang membantu mahasiswa menggunakan layanan PayLater secara lebih bijaksana. Mahasiswa yang memiliki pemahaman keuangan yang baik serta mampu mengatur anggaran, mengendalikan pengeluaran, dan merencanakan pembayaran utang cenderung memiliki perilaku pengelolaan utang yang lebih bertanggung jawab. Sebaliknya, tekanan finansial atau financial stress tidak terbukti memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku pengelolaan utang. Temuan tersebut diungkap oleh Safia Muthmainnah dan Fuad Ramdhan Ryanto dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak dalam penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR). Penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan literasi keuangan menjadi kunci dalam mendorong penggunaan layanan kredit digital secara lebih sehat di kalangan mahasiswa.

Pesatnya perkembangan teknologi keuangan digital telah mengubah pola konsumsi masyarakat, terutama melalui layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater. Kemudahan bertransaksi tanpa harus membayar secara langsung membuat layanan ini semakin populer, khususnya di kalangan generasi muda dan mahasiswa. Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa penggunaan layanan PayLater di Indonesia terus meningkat, dengan nilai pembiayaan mencapai Rp26,20 triliun pada tahun 2025 dan lebih dari 31 juta akun pengguna. Di sisi lain, peningkatan penggunaan tersebut juga diikuti oleh naiknya rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL), yang mengindikasikan masih adanya persoalan dalam pengelolaan utang digital oleh sebagian pengguna.

Mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang paling aktif memanfaatkan layanan PayLater karena terbiasa menggunakan platform digital untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, kemudahan akses terhadap kredit digital juga meningkatkan risiko perilaku konsumtif apabila tidak disertai kemampuan mengelola keuangan secara baik. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana literasi keuangan, tekanan finansial, dan kemampuan mengelola keuangan memengaruhi perilaku pengelolaan utang mahasiswa pengguna PayLater di Kota Pontianak, dengan sikap keuangan (financial attitude) sebagai variabel mediasi.

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif dengan melibatkan 150 mahasiswa aktif di Kota Pontianak berusia 18–25 tahun yang pernah menggunakan layanan PayLater dan melakukan sedikitnya satu transaksi dalam enam bulan terakhir. Responden dipilih menggunakan teknik purposive sampling, sedangkan analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) melalui aplikasi SmartPLS. Variabel yang dianalisis meliputi literasi keuangan, tekanan finansial, kemampuan mengelola keuangan, sikap keuangan, dan perilaku pengelolaan utang.

Hasil analisis menunjukkan bahwa model penelitian memiliki kemampuan penjelasan yang cukup baik. Nilai R-square sebesar 0,524 menunjukkan bahwa literasi keuangan, tekanan finansial, dan kemampuan mengelola keuangan mampu menjelaskan 52,4% variasi sikap keuangan mahasiswa. Sementara itu, nilai R-square sebesar 0,701 menunjukkan bahwa keempat variabel tersebut mampu menjelaskan 70,1% variasi perilaku pengelolaan utang mahasiswa pengguna PayLater.

Pengujian hubungan langsung memperlihatkan bahwa literasi keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap keuangan, dengan nilai t-statistik 3,133 dan p-value 0,002. Artinya, semakin baik pemahaman mahasiswa mengenai konsep-konsep keuangan seperti bunga, inflasi, risiko, dan pengelolaan utang, semakin positif pula sikap mereka dalam mengelola keuangan pribadi. Mahasiswa yang memahami konsekuensi penggunaan PayLater cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan keuangan.

Kemampuan mengelola keuangan juga memberikan pengaruh yang lebih kuat terhadap sikap keuangan. Variabel ini memiliki t-statistik 5,742 dengan p-value 0,000, menunjukkan bahwa mahasiswa yang terbiasa membuat anggaran, mengontrol arus kas, mengatur pengeluaran, dan merencanakan pembayaran cicilan memiliki sikap keuangan yang lebih bertanggung jawab dibandingkan mahasiswa yang kurang memiliki keterampilan tersebut.

Berbeda dengan dua variabel tersebut, tekanan finansial tidak berpengaruh signifikan terhadap sikap keuangan. Meskipun sebagian mahasiswa mengalami tekanan ekonomi akibat keterbatasan uang saku atau kebutuhan akademik, kondisi tersebut tidak secara otomatis mengubah cara mereka memandang pengelolaan keuangan maupun penggunaan layanan PayLater. Hasil ini menunjukkan bahwa sikap keuangan lebih banyak dibentuk oleh pengetahuan dan kemampuan mengelola keuangan dibandingkan tekanan ekonomi yang dirasakan.

Penelitian ini juga menemukan bahwa sikap keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku pengelolaan utang, dengan t-statistik 5,080 dan p-value 0,000. Mahasiswa yang memiliki kebiasaan merencanakan pengeluaran, mempertimbangkan kemampuan membayar sebelum berutang, serta memandang utang sebagai tanggung jawab cenderung lebih disiplin dalam menggunakan PayLater dan membayar tagihan tepat waktu.

Selain itu, literasi keuangan dan kemampuan mengelola keuangan juga terbukti secara langsung meningkatkan perilaku pengelolaan utang. Literasi keuangan memiliki t-statistik 2,439 dengan p-value 0,015, sedangkan kemampuan mengelola keuangan memperoleh t-statistik 3,279 dengan p-value 0,001. Sebaliknya, tekanan finansial kembali tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap perilaku pengelolaan utang mahasiswa.

Analisis pengaruh tidak langsung memperlihatkan bahwa sikap keuangan berhasil memediasi hubungan antara literasi keuangan dan perilaku pengelolaan utang, serta memediasi hubungan antara kemampuan mengelola keuangan dan perilaku pengelolaan utang. Namun, sikap keuangan tidak mampu memediasi hubungan antara tekanan finansial dan perilaku pengelolaan utang. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan dan keterampilan keuangan akan lebih efektif apabila diikuti dengan pembentukan sikap keuangan yang bertanggung jawab.

Menurut Safia Muthmainnah dan Fuad Ramdhan Ryanto, hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bagi perguruan tinggi maupun penyedia layanan PayLater. Perguruan tinggi perlu memperkuat program edukasi literasi keuangan yang berfokus pada penyusunan anggaran, pengelolaan kredit digital, pengendalian penggunaan PayLater, serta perencanaan pembayaran utang. Di sisi lain, penyedia layanan PayLater diharapkan memberikan informasi yang lebih jelas mengenai biaya, jatuh tempo pembayaran, bunga, dan risiko keterlambatan agar pengguna dapat mengambil keputusan keuangan secara lebih bertanggung jawab.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan layanan PayLater yang sehat tidak cukup hanya dipengaruhi oleh kondisi keuangan seseorang. Pengetahuan mengenai keuangan, kemampuan mengelola keuangan, serta sikap yang bertanggung jawab terhadap utang merupakan faktor yang jauh lebih menentukan dalam membentuk perilaku pengelolaan utang mahasiswa. Dengan memperkuat literasi dan keterampilan keuangan sejak dini, risiko penggunaan kredit digital secara berlebihan dapat diminimalkan sehingga mahasiswa mampu memanfaatkan layanan PayLater secara lebih bijaksana dan berkelanjutan.

Profil Penulis

Safia Muthmainnah – Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak, Indonesia.

Fuad Ramdhan Ryanto – Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pontianak, Indonesia.

Sumber Penelitian

Judul: The Effect of Financial Literacy, Financial Stress, and Financial Management Ability on the Debt Management Behavior of PayLater Users Among University Students in Pontianak: Financial Attitude as a Mediating Variable.

Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4 No. 7, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i7.98

Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr

Posting Komentar

0 Komentar