Baguio — Pendekatan pembelajaran Science, Technology, and Society (SCITES) dapat meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam mempelajari sains dan teknologi dengan menghubungkan materi perkuliahan dengan persoalan nyata di masyarakat. Temuan tersebut berasal dari penelitian Norman D. Patiang, Elmer C. Eligio, dan Angelica C. Corpuz dari University of Baguio, Filipina, yang dilakukan selama tahun akademik 2025. Penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa pembelajaran sains dan teknologi tidak harus berhenti pada hafalan konsep, tetapi dapat diarahkan pada diskusi, penyelidikan, refleksi, serta pemahaman mengenai dampak sains dan teknologi terhadap kehidupan masyarakat.
Permasalahan yang menjadi perhatian penelitian berawal dari rendahnya antusiasme mahasiswa ketika pembelajaran sains dan teknologi terlalu banyak menggunakan hafalan, fakta yang berdiri sendiri, dan materi abstrak. Pola pembelajaran seperti itu dapat membuat mahasiswa kesulitan melihat alasan mengapa pengetahuan yang dipelajari penting bagi kehidupan mereka. Padahal, perkembangan sains dan teknologi semakin berkaitan dengan berbagai persoalan masyarakat, mulai dari perubahan iklim, kesehatan masyarakat, kecerdasan buatan, kesetaraan digital, pengelolaan sampah, keberlanjutan, hingga pembangunan komunitas.
SCITES menawarkan pendekatan yang berbeda dengan menempatkan sains dan teknologi dalam konteks sosial, budaya, etika, dan lingkungan. Mahasiswa tidak hanya dituntut memahami bagaimana suatu teknologi bekerja atau menghafal konsep ilmiah, tetapi juga diajak membahas siapa yang terdampak, apa manfaat dan risikonya, bagaimana teknologi memengaruhi kehidupan masyarakat, serta keputusan apa yang dapat diambil berdasarkan bukti dan pertimbangan etis.
Penelitian ini menggunakan tiga landasan utama, yaitu Constructivist Theory, Inquiry-Based Learning, dan Socio-Scientific Issues (SSI) Framework. Dalam pendekatan konstruktivisme, mahasiswa membangun pemahaman melalui pengalaman dan interaksi. Pembelajaran berbasis penyelidikan mendorong mahasiswa bertanya, mencari informasi, menganalisis bukti, dan memecahkan masalah. Sementara itu, kerangka socio-scientific issues membawa persoalan ilmiah yang memiliki konsekuensi sosial dan etis ke dalam proses pembelajaran.
Penelitian dilakukan di School of Teacher Education and Liberal Arts, University of Baguio. Pesertanya berasal dari sejumlah program sarjana, termasuk Communication, Political Science, Psychology, English, Elementary Education, Secondary Education, dan Physical Education. Peneliti menggunakan pemilihan peserta secara purposif agar mahasiswa yang terlibat benar-benar memiliki pengalaman langsung dengan pembelajaran menggunakan SCITES.
Pengumpulan data berlangsung selama empat minggu ketika perkuliahan SCITES sedang berjalan. Peneliti menggunakan survei tatap muka dan wawancara semi-terstruktur. Survei digunakan untuk mengetahui pandangan mahasiswa mengenai sains dan teknologi, pengalaman mereka mengikuti SCITES, serta perubahan minat, motivasi, dan keterlibatan. Wawancara kemudian digunakan untuk mendapatkan penjelasan yang lebih mendalam mengenai pengalaman mahasiswa. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk menemukan pola yang berulang dari jawaban peserta. Saturasi data tercapai setelah 10 peserta sehingga wawancara dihentikan karena informasi yang diperoleh dinilai sudah cukup untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Hasil penelitian menghasilkan tujuh tema yang menggambarkan pengalaman mahasiswa dan pengaruh SCITES terhadap keterlibatan mereka. Tema pertama adalah relevansi pembelajaran melalui hubungan dengan kehidupan nyata. Sebanyak 90 persen atau 9 dari 10 peserta menggambarkan SCITES sebagai pembelajaran yang bermakna karena materi sains dan teknologi dikaitkan dengan persoalan yang mereka kenal di luar ruang kelas. Masalah lingkungan lokal, kesehatan, perubahan iklim, kecerdasan buatan, media sosial, pertanian, energi terbarukan, kesiapsiagaan bencana, privasi, dan pengelolaan sampah menjadi beberapa contoh persoalan yang digunakan dalam pembelajaran.
Keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari membuat materi yang sebelumnya terasa abstrak menjadi lebih mudah dipahami. Mahasiswa dapat menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman yang sudah mereka miliki. Bagi mahasiswa yang dipersiapkan untuk menjadi pendidik, kemampuan tersebut juga dinilai penting karena mereka nantinya dapat menerapkan cara yang sama dengan menghubungkan materi pelajaran dengan kondisi peserta didik dan lingkungan masyarakat.
Tema kedua menunjukkan bahwa pembelajaran interaktif dan reflektif mampu meningkatkan keterlibatan mahasiswa. Sekitar 85 persen peserta, atau sekitar 9 dari 10 mahasiswa, menilai diskusi kelompok, proyek, refleksi, dan partisipasi aktif sebagai bagian penting dari pengalaman belajar mereka. Mahasiswa tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi harus menyampaikan gagasan, mendengarkan pandangan orang lain, membandingkan perspektif, dan membahas bagaimana sains serta teknologi memengaruhi kehidupan manusia.
Berbagai kegiatan yang disebut peserta mencakup diskusi mengenai konservasi air, pengelolaan sampah, lalu lintas, daur ulang, kualitas udara, etika kecerdasan buatan, air bersih, dan penggunaan energi di masyarakat. Studi kasus juga dianggap menarik karena mahasiswa harus memikirkan persoalan praktis sekaligus etis, misalnya bagaimana perusahaan teknologi menangani data penggunanya.
Namun, pendekatan yang lebih aktif tersebut tidak selalu mudah diterapkan sejak awal. Sekitar 75 persen peserta mengalami tantangan dalam menyesuaikan diri dengan gaya pembelajaran yang tidak konvensional. Mahasiswa dapat merasa kewalahan ketika harus memahami berbagai topik yang saling berkaitan, menyampaikan pendapat, berpikir secara mendalam mengenai persoalan etis, atau mempertahankan sikap netral ketika membahas isu kontroversial.
Karena itu, penelitian menekankan pentingnya pendampingan bertahap atau scaffolding. Guru dapat memperkenalkan satu aspek persoalan pada satu waktu, memberikan pertanyaan pemandu, mengajarkan perbedaan antara bukti dan opini, menggunakan diskusi kelompok kecil sebelum diskusi kelas, serta memberikan kerangka untuk membandingkan berbagai posisi etis. Kesulitan tersebut juga tidak selalu bersifat permanen. Peserta menunjukkan bahwa rasa tidak nyaman dapat berkurang setelah mereka memperoleh kesempatan berulang untuk berpartisipasi.
Penelitian selanjutnya menemukan bahwa 80 persen atau 8 dari 10 peserta mengalami perubahan dalam cara memandang sains dan teknologi. Mereka tidak lagi melihat sains hanya sebagai kumpulan fakta untuk ujian, laboratorium, atau bidang khusus mahasiswa sains. Sebaliknya, sains dipahami sebagai bidang yang berhubungan dengan manusia, budaya, komunikasi, kebijakan, etika, dan persoalan sosial.
Perubahan perspektif tersebut menjadi salah satu hasil penting karena menunjukkan bahwa SCITES tidak hanya memengaruhi keaktifan mahasiswa di kelas. Pendekatan tersebut juga dapat mengubah cara mahasiswa memahami tujuan sains dan teknologi. Perkembangan teknologi, misalnya, tidak hanya dipandang berdasarkan kemampuan teknisnya, tetapi juga berdasarkan dampaknya terhadap privasi, akses masyarakat, budaya, kebijakan, dan kesejahteraan manusia.
Dari sisi minat belajar, hasil penelitian menunjukkan temuan yang sangat kuat. Seluruh peserta atau 100 persen mahasiswa melaporkan peningkatan minat ketika sains dan teknologi dikaitkan dengan persoalan dunia nyata. Topik energi bersih, kecerdasan buatan, privasi daring, polusi, kekurangan pangan, banjir, teknologi kesehatan, dan energi berkelanjutan menjadi contoh persoalan yang memicu rasa ingin tahu mahasiswa.
Relevansi tersebut membuat mahasiswa tidak hanya bertanya mengenai apa yang harus mereka hafalkan, tetapi mulai mempertanyakan bagaimana suatu persoalan bekerja, mengapa persoalan tersebut penting, dan apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Dalam konteks pembelajaran, perubahan tersebut menunjukkan bahwa rasa ingin tahu dapat muncul ketika mahasiswa melihat hubungan langsung antara materi akademik dan kehidupan mereka.
SCITES juga berkaitan dengan peningkatan motivasi. Penelitian melaporkan bahwa sekitar 80 hingga 100 persen peserta menggambarkan peningkatan motivasi, antusiasme, rasa memiliki tujuan, dan keyakinan bahwa pembelajaran dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Mahasiswa merasa pembelajaran lebih berarti ketika mereka dapat melihat hubungan antara pengetahuan dengan perubahan iklim, air bersih, pengelolaan sampah, kebijakan, kesejahteraan manusia, serta persoalan lingkungan di sekitar mereka.
Temuan lainnya berkaitan dengan kemampuan berpikir kritis dan kesadaran sosial, yang juga dilaporkan oleh sekitar 80 hingga 100 persen peserta. Mahasiswa menjadi lebih terbiasa menganalisis persoalan kompleks, mempertimbangkan tanggung jawab, membahas persoalan etis, dan melihat konsekuensi sosial dari teknologi. Proses tersebut membuat keterlibatan belajar tidak hanya diukur dari seberapa aktif mahasiswa berbicara di kelas, tetapi juga dari kualitas cara mereka memahami dan menilai suatu persoalan.
Berdasarkan tujuh tema tersebut, peneliti kemudian mengembangkan SCITES-Inspired Engagement Model. Model ini memiliki empat tahap yang berlangsung secara siklus, yaitu Contextualization, Interactive Inquiry, Reflective Construction, dan Evaluation Loop.
Tahap Contextualization mengawali pembelajaran dengan persoalan nyata yang dekat dengan mahasiswa. Setelah itu, Interactive Inquiry mendorong mahasiswa melakukan diskusi, proyek, studi kasus, penyelidikan, dan pemecahan masalah secara kolaboratif. Reflective Construction membantu mahasiswa menghubungkan bukti, pemahaman pribadi, pertimbangan etis, dan konsekuensi sosial. Tahap Evaluation Loop kemudian menilai apakah pembelajaran berhasil meningkatkan relevansi, motivasi, partisipasi, berpikir kritis, dan perubahan perspektif. Hasil evaluasi tersebut digunakan untuk memperbaiki siklus pembelajaran berikutnya.
Model tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran SCITES bukan sekadar mengganti metode ceramah dengan diskusi. Guru tetap memiliki peran penting dalam menentukan konteks, menyusun pertanyaan, mengelola diskusi, membantu mahasiswa menilai bukti, dan menciptakan suasana yang memungkinkan perbedaan pendapat dibahas secara aman dan konstruktif.
Bagi pendidikan tinggi dan khususnya pendidikan calon guru, hasil penelitian ini memiliki implikasi yang luas. Mahasiswa calon pendidik tidak hanya memperoleh pengalaman belajar yang lebih aktif, tetapi juga dapat mempelajari bagaimana sebuah kelas dibangun agar siswa mampu menghubungkan konsep dengan persoalan nyata. Pengalaman tersebut berpotensi dibawa ke ruang kelas ketika mereka menjadi guru di masa depan.
Penelitian menyimpulkan bahwa SCITES dapat membuat pembelajaran sains dan teknologi menjadi lebih relevan, partisipatif, memiliki tujuan, dan bermakna secara sosial. Minat muncul ketika mahasiswa melihat relevansi materi, motivasi bertahan ketika pembelajaran memiliki tujuan yang jelas, sedangkan kemampuan berpikir kritis dan kesadaran sosial berkembang melalui proses penyelidikan dan refleksi yang berulang.
Meski demikian, penelitian ini bersifat kualitatif dengan jumlah peserta akhir yang kecil sehingga hasilnya dimaksudkan untuk menggambarkan pengalaman mahasiswa, bukan untuk melakukan generalisasi statistik. Peneliti merekomendasikan penelitian longitudinal untuk mengetahui apakah perubahan minat, keterlibatan, dan perspektif tersebut bertahan dalam jangka panjang serta apakah pengalaman SCITES kemudian memengaruhi praktik mengajar para lulusan.
Penulis
Norman D. Patiang — University of Baguio.
Elmer C. Eligio — University of Baguio.
Angelica C. Corpuz — University of Baguio.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Science, Technology, and Society Pedagogy: Enhancing Student Engagement in Science and Technology
Jurnal: International Journal of Scientific Multidisciplinary Research (IJSMR), Vol. 4, No. 8, 2026, halaman 1879–1898.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijsmr.v4i8.144
Link Jurnal: https://journalijsmr.my.id/index.php/ijsmr
0 Komentar