![]() |
| Illustration by Ai |
Penerapan lembur dua jam per hari menjadi strategi paling efisien untuk mempercepat Proyek Rekonstruksi Jalan dan Jembatan Cintapuri Banua Hanyar di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Temuan ini diungkap oleh Kanniya Muthia Fatmawati, H. Muhammad Humaidi, dan Hendri Yani Saputra dari Politeknik Negeri Banjarmasin dalam penelitian yang dipublikasikan pada 2026 di International Journal of Integrative Research (IJIR). Studi tersebut menunjukkan bahwa percepatan proyek dapat dilakukan tanpa mengorbankan efisiensi biaya secara berlebihan melalui analisis Time-Cost Trade-Off (TCTO) berbantuan Microsoft Project 2021.
Manajemen waktu dan biaya
merupakan dua faktor yang menentukan keberhasilan proyek konstruksi. Ketika
proyek harus diselesaikan lebih cepat dari jadwal awal, kontraktor biasanya
menambah sumber daya atau jam kerja. Namun, percepatan tersebut hampir selalu
berdampak pada kenaikan biaya. Karena itu, diperlukan perhitungan yang cermat
agar waktu pelaksanaan dapat dipersingkat tanpa menimbulkan pemborosan
anggaran.
Penelitian ini berfokus pada
Proyek Rekonstruksi Jalan dan Jembatan Cintapuri Banua Hanyar–Galam Rabah yang
berada di Kecamatan Cintapuri Darussalam, Kabupaten Banjar. Proyek yang
dikelola oleh Dinas PUPRP Kabupaten Banjar tersebut memiliki nilai kontrak
sebesar Rp6,6 miliar dengan durasi pelaksanaan 150 hari kalender.
Para peneliti menggunakan dokumen
perencanaan proyek, termasuk Rencana Anggaran Biaya (RAB), jadwal pelaksanaan,
serta Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP). Data tersebut kemudian dimodelkan
menggunakan Microsoft Project 2021 untuk menyusun jaringan kerja proyek dan
mengidentifikasi aktivitas yang berada pada jalur kritis atau critical path.
Jalur kritis merupakan rangkaian pekerjaan yang secara langsung menentukan lama
penyelesaian proyek. Keterlambatan pada salah satu pekerjaan di jalur ini akan
menyebabkan keterlambatan proyek secara keseluruhan.
Hasil pemodelan menunjukkan
terdapat sepuluh pekerjaan utama yang berada pada jalur kritis, yaitu
mobilisasi, jembatan sementara, manajemen lalu lintas dan keselamatan, galian
biasa, timbunan pilihan, geotekstil separator kelas 1, lapis pondasi agregat kelas
A, lapis pondasi agregat kelas B, lapis resap pengikat, serta lapis pondasi
lataston (HRS-Base).
Setelah jalur kritis
teridentifikasi, peneliti melakukan simulasi percepatan proyek dengan menambah
jam kerja lembur selama satu jam, dua jam, dan tiga jam per hari pada
pekerjaan-pekerjaan kritis tersebut. Setiap skenario dianalisis berdasarkan
perubahan durasi proyek, biaya percepatan, serta rasio biaya terhadap waktu
yang berhasil dihemat.
Hasilnya menunjukkan bahwa
semakin lama lembur dilakukan, semakin singkat durasi proyek yang dapat
dicapai. Namun, peningkatan jam lembur juga menyebabkan biaya proyek meningkat
karena adanya tambahan upah tenaga kerja dan biaya operasional alat berat.
Secara rinci, penelitian
menemukan:
- Lembur 1 jam per hari mempercepat proyek
menjadi 140,44 hari atau lebih cepat 9,56 hari dari jadwal awal.
- Lembur 2 jam per hari mempercepat proyek
menjadi 134,36 hari atau menghemat 15,64 hari.
- Lembur 3 jam per hari mempercepat proyek
menjadi 132,75 hari atau menghemat 17,25 hari.
Meski lembur tiga jam
menghasilkan waktu penyelesaian paling cepat, skenario tersebut tidak menjadi
pilihan terbaik. Analisis menunjukkan bahwa biaya tambahan yang harus
dikeluarkan jauh lebih besar dibandingkan penghematan waktu yang diperoleh.
Dalam evaluasi menggunakan
indikator Cost-Time Ratio, skenario lembur dua jam per hari menghasilkan
nilai paling rendah, yakni Rp225.040.629,90 untuk setiap hari percepatan
proyek. Angka ini lebih efisien dibandingkan lembur satu jam yang mencapai
Rp309.152.660,65 per hari maupun lembur tiga jam sebesar Rp236.780.979,18 per
hari.
Menurut peneliti, efisiensi
lembur dua jam terjadi karena produktivitas pekerja masih berada pada tingkat
yang relatif optimal. Sebaliknya, ketika lembur ditambah menjadi tiga jam,
produktivitas mulai menurun akibat faktor kelelahan pekerja. Tambahan satu jam
lembur hanya memberikan percepatan sekitar 1,61 hari, tetapi membutuhkan biaya
tambahan lebih dari Rp564 juta. Kondisi ini membuat lembur tiga jam menjadi
kurang ekonomis.
Temuan ini memberikan pelajaran
penting bagi dunia konstruksi, khususnya dalam pengelolaan proyek infrastruktur
jalan dan jembatan. Percepatan proyek tidak selalu berarti menambah jam kerja
sebanyak mungkin. Yang lebih penting adalah menemukan titik keseimbangan antara
peningkatan produktivitas dan biaya yang harus dikeluarkan.
H. Muhammad Humaidi dan tim
peneliti menilai bahwa pendekatan Time-Cost Trade-Off dapat membantu
kontraktor dan pemilik proyek mengambil keputusan yang lebih rasional ketika
menghadapi tuntutan percepatan pekerjaan. Dengan bantuan perangkat lunak
Microsoft Project, simulasi berbagai skenario dapat dilakukan sebelum keputusan
diterapkan di lapangan.
Selain itu, hasil penelitian ini
juga relevan bagi pemerintah daerah yang mengelola proyek infrastruktur publik.
Perencanaan percepatan yang berbasis data dapat mengurangi risiko pembengkakan
biaya sekaligus menjaga target penyelesaian proyek tetap tercapai.
Para peneliti merekomendasikan
agar penelitian lanjutan mengombinasikan metode lembur dengan penambahan alat
berat atau sistem kerja bergilir (shift) sehingga percepatan proyek
dapat dilakukan dengan biaya yang lebih terkendali. Mereka juga menekankan
pentingnya mempertimbangkan faktor kelelahan pekerja dalam setiap kebijakan
lembur agar produktivitas dan keselamatan kerja tetap terjaga.
Profil Penulis
Kanniya Muthia Fatmawati
merupakan peneliti bidang manajemen konstruksi dari Politeknik Negeri
Banjarmasin.
H. Muhammad Humaidi
merupakan dosen dan peneliti di Politeknik Negeri Banjarmasin yang berfokus
pada manajemen proyek konstruksi dan teknik sipil. Ia juga bertindak sebagai
penulis korespondensi dalam penelitian ini.
Hendri Yani Saputra adalah
akademisi dan peneliti dari Politeknik Negeri Banjarmasin yang menaruh
perhatian pada pengelolaan proyek konstruksi, analisis biaya, dan perencanaan
infrastruktur.
Sumber Penelitian
Fatmawati, K.M., Humaidi, H.M.,
& Saputra, H.Y. (2026). “Optimization of Total Project Cost for the
Cintapuri Banua Hanyar Road and Bridge Reconstruction Project Using Microsoft
Project Through Time-Cost Trade-Off Analysis.” International Journal of
Integrative Research (IJIR), Vol. 4 No. 7, halaman 593–602. DOI:
10.59890/ijir.v4i7.228.

0 Komentar